
Mazaya sangat gugup saat mendengar pertanyaan menyudutkan yang keluar dari bibir Arnold. Entah dari mana suaminya itu tahu kalau dia akan pergi ke rumah sakit. Padahal, dia sudah mewanti-wanti sang sopir agar tidak membocorkan rahasianya yang pergi ke rumah sakit diam-diam di pagi buta.
“A-aku nggak ke rumah sakit kok. Aku cuma ... em, cuma ....”
“Udahlah! Kamu di rumah saja. Aku akan makan siang di rumah dan akan kerja dari rumah. Aku nggak akan kembali ke kantor setelah ini!”
Informasi yang sangat jelas disampaikan Arnold pada sang istri. Laki-laki itu ingin mengawasi apa yang dilakukan Mazaya. Dia curiga jika saat di rumah sakit itu, Mazaya menemui seseorang yang mungkin juga menjalin hubungan istimewa dengannya.
Mazaya sangat syok mendengar pengakuan Arnold barusan. Kalau memang suaminya tidak ke kantor, bagaimana caranya Mazaya bisa mencari tahu kabar tentang Romy, Sandra, juga mamanya?
“Ke-kenapa?” tanya Mazaya berusaha tenang, meski sebenarnya hatinya merasa sangat gelisah.
“Karena aku akan mengawasimu mulai sekarang. Kamu belum menjelaskan ke mana kamu pergi, ‘kan? Jadi, untuk berjaga-jaga, aku akan di rumah dan mengawasimu. Ayo kita makan!” Arnold menarik tangan Mazaya dan membawa istrinya itu ke meja makan.
Sekarang, Mazaya benar-benar tak bisa berkutik. Dia pun menurut dan berakhir dengan makan siang bersama sang suami yang tak ia cinta.
Sore telah tiba, Arnold sekarang pergi mandi di kamar, sedangkan Mazaya menunggu dengan bosan. Lalu, Raffaello muncul tiba-tiba seperti biasanya dan membuat Mazaya terlonjak kaget.
“Bisa nggak sih, nggak datang tiba-tiba?” sentak Mazaya sembari mengusap dada.
__ADS_1
Raffaello hanya terkekeh dan cengar-cengir. Hal itu membuat Mazaya semakin kesal dan melemparkan bantal sofa padanya. Sayangnya, karena Raffaello bukan manusia, bantal itu pun sama sekali tak mengenai dirinya.
“Maaf-maaf! Aku ke sini bawa informasi penting. Kamu tidak bisa ke mana-mana sekarang, ‘kan?” tanya Raffaello.
Mazaya melengos. Jelas Raffaello tahu apa yang menimpa dirinya saat ini. Dia pasti tahu banyak hal meski wujudnya tak terlihat.
“Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih? Aku lagi kesel banget nih!” Mazaya menampilkan wajah judes pada Raffaello.
Sejak tadi dia resah karena tak bisa keluar. Lalu, sekarang Raffaello muncul dan membuatnya kian kesal.
“Aku ke sini bawa kabar baik dan juga kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana dulu?” goda malaikat tampan itu pada Mazaya.
Raffaello merasa terabaikan. Dia lalu ikut duduk di samping Mazaya yang sibuk memainkan ponsel.
“Kabar baiknya, pertunangan kamu sama Romy sudah dibatalkan. Misi kamu yang satu itu sudah selesai. Tapi, berita buruknya, tubuh kamu mulai lemah.”
Mazaya membulatkan mata dan menatap Raffaello dengan serius. “Terus, apa aku akan mati? Aku nggak mau mati sekarang. Kamu lihat dong usaha aku gimana, masa aku mati sih?” sela Mazaya dengan panik. Dia mengerutkan kening dan merasa khawatir sekaligus belum siap meninggalkan sang ibu.
“Kamu punya dua cara untuk kembali, Carol!” Raffaello menatap mata Mazaya dengan serius. “Cara pertama, seperti yang kamu tahu, suami Mazaya harus bisa menerima keadaannya dan mencintainya. Mungkin kamu mau coba berhubungan suami istri dengannya.”
__ADS_1
Raffaello malah tertawa di saat yang tidak tepat hingga membuat Mazaya berteriak karena kesal. “Kamu jangan bercanda ya! Aku nggak mau mati konyol demi Mazaya! Balikin aku ke tubuh asliku! Aku nggak mau berhubungan sama Arnold!”
Sayangnya, saat Mazaya mengatakan kalimat terakhirnya, Arnold keluar dari kamar mandi. Dia pikir Mazaya sedang menelepon seseorang sampai berteriak-teriak. Tanpa memakai pakaian, laki-laki itu menghampiri istrinya yang terlihat duduk sendirian di sofa.
“Kamu telepon sama siapa?” tanya Arnold yang membuat Mazaya gelagapan. Dia tidak tahu sejak kapan suaminya itu selesai mandi.
“A-aku … aku nggak telepon siapa-siapa!” Mazaya menggeleng kuat dan menyembunyikan ponselnya, takut jika Arnold sampai memeriksa isi email yang dia kirim pada mama Caroline.
“Jangan bohong!” teriak Arnold mulai terbawa emosi.
Mazaya asli dan Raffaello jelas tahu apa yamg terjadi pada Caroline dan Arnold, tapi Arnold tak bisa melihat kehadiran mereka.
“Dia ... dia marah!” kata Mazaya asli dengan gugup.
“Ya, dia marah! Tapi, suamimu itu marah karena cemburu. Kalau dia mencintai kamu, kalian pasti bisa kembali. Tapi, sepertinya ada yang aneh,” balas Raffaello.
“Haruskah kita melakukan cara kedua?”
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋 puasa gaes, kadang lemes juga gak bisa dipakai mikir 🙈🙈