
Mazaya terbangun di kasur yang sangat nyaman di kamar Arnold. Wanita itu menatap sekeliling dan menyadari bahwa takdir sudah mengembalikan jiwa Mazaya ke dalam tubuh aslinya.
“Aku sudah kembali ternyata,” gumam wanita itu diiringi senyum kecut. meski terlihat tidak bahagia, tapi Mazaya bersyukur karena dengan begini Caroline juga terbebas dari tubuhnya. “Semoga kamu bisa menemukan jalan bahagia yang terbaik, Carol!”
Mazaya turun dari kasur dan mulai menyentuh seisi kamar. Ada banyak peralatan make-up juga pakaian bagus milik Caroline saat berperan menjadi dirinya. Setelah, itu dia mandi dan memakai pakaian pilihan Carol.
Wanita itu menatap bayangan dirinya di cermin besar. Sekarang, rasa percaya diri yang dimiliki Caroline juga mulai Mazaya rasakan. “Aku akan menjadi seperti Caroline. Aku nggak mau membuat perjuangan Caroline untukku jadi sia-sia kalau aku masih lemah seperti dulu.”
Sementara itu, Arnold pulang kantor lebih awal dan mencari Mazaya. Dia naik ke atas mencari istrinya. Rambut klimisnya sudah berubah menjadi acak-acakan. Pakaian yang setengah basah terkena hujan pun kini hampir mengering dan masih menempel di tubuhnya.
Dengan tidak sabar, Arnold membuka pintu kamar dan mendapati Mazaya yang sedang memakai riasan wajah di depan cermin.
“Mazaya, kamu di rumah?” tanya Arnold yang kemudian berjalan menghampiri istrinya.
__ADS_1
“I-iya. Aku dari tadi di rumah,” jawab wanita itu yang berusaha tenang meski rasanya tetap saja menegangkan. Berhadapan dengan suami yang membencinya, membuat Mazaya masih memiliki sisa rasa takut yang mati-matian coba dia hilangkan.
“Syukurlah!” Arnold memeluk istrinya dengan perasaan lega. Yang dia lihat tadi mungkin hanya halusinasi.
Pelukan Arnold membuat Mazaya memberanikan diri untuk membalasnya. Meski di hatinya belum ada rasa cinta, tapi dia tetaplah istri sah Arnold yang berhak untuk menyentuh suaminya itu.
“Arnold, kamu kenapa sih? Kenapa kamu berantakan sekali?” tanya Mazaya sebelum melepaskan pelukan mereka.
Arnold memandangi wajah istrinya. Meski tidak ada yang berbeda dari fisik sang istri, tapi hatinya mengatakan ada sesuatu yang berbeda dengan wanita itu.
Mazaya mengangguk dengan patuh, lalu meninggalkan suaminya yang memilih untuk duduk di sofa.
Laki-laki itu menyentuh dadanya yang kali ini tak berdebar keras seperti biasa. Namun, dia masih menyangkal pikiran negatif itu. Jelas-jelas Mazaya ada di rumah saat ini. Jadi, tidak mungkin jika ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
“Semoga saja Arnold nggak curiga. Aku merasa sangat bersalah karena rasanya aku sedang mempermainkan perasaan Arnold,” gumam Mazaya di tengah suara gemericik air yang memenuhi bathup.
Sementara itu, Caroline saat ini dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan. Mamanya merasa ada yang tidak beres dengan putrinya itu.
“Ma, pernikahan aku terus gimana?” tanya Caroline yang memang tak mengingat apa pun kejadian usai kecelakaan itu.
Caroline harus dirawat beberapa waktu untuk memastikan seluruh organ tubuhnya normal dan tidak bermasalah.
Bu Sheila menghela napas dengan berat dan menatap putrinya yang menyedihkan. “Sayang, kamu layak dapat yang terbaik. Sedangkan Romy itu bukan laki-laki yang baik,” jawab mama Caroline itu sambil mengusap lembut rambut sang putri.
Caroline tentu sagat bingung dengan jawaban yang mamanya sampaikan. Memang berapa lama dia koma sampai-sampai pertunangannya harus berakhir?
Mama Caroline mengeluarkan tablet tipis dari tas dan menunjukkan menunjukkan bukti pengkhianatan Romy dan Sandra yang tengah mengandung. “Kamu harus tabah ya, Sayang. Mama tahu ini berat, tapi kamu harus tahu ini sekarang!”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa, maaf ya gaess ngantuk gak bisa tahan, kalau ada typo bilang aja ya 💋💋💋