Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 31


__ADS_3

Arnold menatap masakan Mazaya cukup lama. Dia memikirkan bagaimana cara wanita itu mengukir satu per satu tempe di piring yang tersaji.


“Ayo, dimakan! Jangan malu-malu. Ini aku masaknya susah loh. Lama banget!” kata Mazaya yang kini memposisikan diri untuk segera makan.


“Kalau goreng tempe biasa, sebenarnya nggak lama kok, Nyonya,” sahut Della yang masih berdiri di belakang Arnold. “Tapi tempe goreng buatan Nyonya ini sangat luar biasa,” lanjutnya sengaja mencibir Mazaya.


Mazaya menggerakkan bibirnya ke kanan dan ke kiri seakan tak terima dengan ocehan si pelayan. “Ini bukan tempe goreng ya, tapi ikan rasa tempe!” balas Mazaya dengan memicingkan mata.


Arnold sedikit mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Dia menyukai cara Mazaya melawan Della yang membuktikan bahwa istrinya itu tak akan mudah ditindas.


“Iya, tapi ini ikan bentuknya kayak tempe, Mazaya. Tetep aja namanya tempe goreng. Kayaknya tutorial masak yang kamu tonton itu nggak bener deh. Mending kamu buang si corong kuning itu!” sahut Arnold sengaja memancing.


“Enak aja. Main buang-buang. Itu corong ajaib ya. Kalian nggak akan ngerti seni. Yang penting rasa masakan aku enak!” Wanita itu melayangkan tatapan tajam. Matanya yang melotot jelas sekali tak terima dengan perintah Arnold untuk membuang satu-satunya benda yang dia percaya bisa membuat orang pandai memasak.


Sang kakek yang sudah tak sabar ingin merasakan masakan Mazaya pun menghentikan perdebatan mereka. “Kita makan dulu saja! Nanti kakek akan kasih nilai buat kamu, Mazaya!” seru sang kakek.


Arnold tertawa dalam hati karena berhasil membuat Mazaya kesal. “Baiklah, kalau gitu kita cicipi makanan aneh ini!”


Mazaya merasa yakin jika masakannya pasti akan terasa enak. Dia sudah mencicipi sebelumnya dan memang rasanya enak. Sekarang, dia jadi sangat serius dengan ekspresi yang akan ditunjukkan Arnold.

__ADS_1


Pelan-pelan suami Mazaya itu menyendok makanan yang disiapkan di hadapannya. Dia menyuap makanan itu dan pelan-pelan mengunyahnya. Arnold benar-benar menikmati masakan yang Mazaya buat.


Tak hanya Arnold yang merasakan masakan Mazaya, kakeknya pun melakukan hal yang sama. Memang masakan Mazaya seperti memiliki cita rasa yang berbeda dengan masakan lain.


Wanita itu sepertinya dianugerahi untuk memiliki tangan ajaib. Apa pun yang Mazaya masak akan terasa enak, karena dia memang melakukannya dengan tulus.


“Gimana?” tanya Mazaya saat Arnold menatapnya dalam-dalam tanpa mengucap sepatah kata pun.


Tak hanya Mazaya yang penasaran dengan reaksi Arnold. Della yang tengah menguping di dapur yang tak jauh dari meja makan pun ikut penasaran. Dia sangat tidak rela jika Arnold sampai menyukai masakan Mazaya.


“Enak. Gurihnya pas, hanya saja tampilannya sangat aneh,” jawab Arnold memberikan komentar.


“Kakek juga pikir ini enak banget. Kayaknya ini yang terbaik yang pernah kakek makan,” sahut sang kakek kian membuat Mazaya bahagia.


“Kamu ukir ini satu per satu? Memangnya nggak ribet?” tanya Arnold di sela-sela menikmati masakan sang istri.


“Nggak dong. Ya emang agak lama, dan banyak peralatan yang harus dibersihkan. Makanya sekarang para pelayan pasti sibuk cuci piring, nggak akan sempat nguping pembicaraan kita!” jawab Mazaya sambil menatap Della yang tengah menguping. Dia tersenyum sinis untuk mengejek pelayan yang bermimpi menggantikan posisinya sebagai istri Arnold.


**

__ADS_1


Makan malam telah usai. Mazaya sudah kembali ke kamar dan tengah melakukan perawatan rutin untuk wajahnya yang berangsur-angsur menjadi cantik.


Arnold sedang menerima telepon penting saat ini sehingga Raffaello memanfaatkan waktu untuk menemui Mazaya.


“Mazaya sudah setuju untuk masuk ke tubuh kamu,” kata Raffaello yang tiba-tiba duduk di ujung meja rias Mazaya.


Kebiasaan aneh Raffaello itu membuat Mazaya merasa kesal dan secara refleks mencuubit lengannya. Sial bagi Raffaello yang menampakkan wujud sebagai manusia biasa. Dia merasakan pukulan Mazaya yang saat ini dirasuki jiwa Caroline.


“Aduh, bar-bar sekali kamu jadi perempuan!” kata Raffaello sembari mengusap lengannya yang terasa sakit.


“Salah sendiri tiba-tiba muncul. Awas aja kalau bawa informasi yang nggak penting!” balas Mazaya dengan mata melotot.


Wanita itu memang memiliki watak yang galak dan tak mengenal rasa takut. Apalagi, mata Mazaya yang bulat sempurna menambah kesan antagonis pada wajah cantik yang Raffaello lihat sebagai Caroline, bukan Mazaya.


“Ini sangat penting. Aku tadi bilang kalau Mazaya setuju masuk ke tubuh kamu!” balas Raffaello sambil melindungi diri dengan cermin kecil milik Mazaya yang dihadapkan langsung pada wanita itu. “Tuh, kamu itu di tubuh orang, jangan marah-marah terus! Kalau tubuh orang jadi cepat tua, kamu mau tanggung jawab?”


***


Kembang kopinya jangan lupa 😄

__ADS_1


__ADS_2