
Mazaya asli saat ini merasa sangat bingung. Dia masih memperhatikan apa yang Caroline dan Arnold lakukan. Benar-benar berbeda dengan perlakuan laki-laki itu padanya.
“Apa Arnold sudah mencintai istrinya?” tanya Mazaya sambil terus menatap Arnold dan Mazaya.
Laki-laki itu tengah menatap istrinya yang kembali melanjutkan makan. Tiba-tiba, tanpa sengaja Caroline menjatuhkan sendok, dan secara refleks wanita itu pun mengambilnya. Lalu, tanpa diduga-duga, Arnold melindungi kepala wanita itu dari benturan dengan meja. Meski Caroline tak menyadarinya, tapi jiwa Mazaya melihat secara langsung perhatian itu.
“Bisa kamu lihat sendiri, apa yang sekarang Arnold lakukan untuk melindungi istrinya itu!” jawab Raffaello.
Selanjutnya, Romy dan Sandra masuk ke ruangan itu dan kembali menyapa Arnold dan Mazaya seraya meminta maaf. Sepertinya, wanita hamil itu sudah tidak mual lagi sekarang.
“Apa kalau aku masuk ke tubuh Caroline, pacarnya itu akan langsung menikahinya?” tanya Mazaya lagi.
Raffaello mengerutkan kening. “Em, bisa jadi. Tapi, kalau kamu bisa tegas menolak dan menjadi Caroline yang amnesia, pernikahan itu bisa ditunda.”
Mazaya masih terus memperhatikan apa yang dilakukan Caroline saat ini. Selama meeting itu berlangsung, Mazaya jadi merasa kasihan pada wanita itu.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba Mazaya berkata, “Aku akan bantu Caroline, tapi aku tidak siap kalau kembali sama Arnold. Apa sekarang aku bisa masuk ke tubuhnya Caroline?”
Raffaello manggut-manggut. Walaupun ini sangat terlambat dan tidak yakin akan berhasil, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. “Nanti aku akan temui Caroline dan bicarakan ini sama dia. Walau bagaimanapun, dia juga harus tahu keputusan kamu ini, biar dia bisa tentukan rencana dia selanjutnya.”
***
Setelah selesai meeting, Mazaya dan Arnold kembali ke rumah. Laki-laki itu sepertinya masih belum terlalu membaik dan butuh banyak istirahat lagi sehingga mereka langsung kembali ke rumah, tanpa mampir ke kantor.
Saat berhenti di lampu merah, Mazaya melihat anak kecil yang sedang mengamen. Tanpa pikir panjang, dia mengambil beberapa lembar uang dan memanggil bocah itu.
“Ini buat kamu. Cepat pulang ya, ini panas loh! Kulit kalian pasti terbakar, besok-besok pakai lengan panjang sama topi ya!” kata wanita itu sembari menyerahkan uang pada sang pengamen cilik. Padahal, bocah itu masih belum menunjukkan suaranya.
“Terima kasih, Kak. Semoga Kakak sehat selalu, dan semua urusannya dilancarkan!” balas sang pengamen sambil membungkuk. Tentu dia sangat berterima kasih karena pemberian Mazaya itu.
Sampai akhirnya, mobil harus melaju karena lampu merah sekarang telah berubah hijau. Arnold melihat senyum mengembang di wajah Mazaya. Rambutnya yang terbang karena tiupan angin menghadirkan perasaan aneh dalam hatinya.
__ADS_1
Mazaya menutup jendela dan senyumnya masih belum hilang. Sebahagia itu dirinya setelah berbagi dengan mereka yang kurang mampu.
‘Kenapa dia terlihat sangat cantik? Bukan wajahnya, tapi ketulusannya yang membuatnya terlihat sangat cantik,’ batin Arnold.
“Kita beruntung banget ya, Ban. Habis makan enak di restoran mahal. Anak tadi belum tentu loh udah makan,” kata Mazaya sambil merapikan kembali tatanan rambutnya yang sempat diterpa angin.
“Hem, belum tentu juga anak tadi itu susah. Banyak kok pengemis yang pura-pura miskin, padahal rumahnya itu mewah juga,” balas Arnold mencibir.
Mazaya menoleh dan menatap suaminya dengan sinis. “Yang penting itu niat kita baik. Kalau mereka bohong itu urusan mereka sama Tuhan.” Mazaya mencebik dan kembali membuang muka menatap ke luar jendela.
“Sama orang asing aja manis, sama suami sendiri ketus banget!”
***
Kembang kopinya jangan lupa, banyak2 istighfar ngadepin si Banndit 😘😘
__ADS_1