
Caroline menatap layar tablet pintar yang menampilkan video Romy dan Sandra. Wanita itu sama sekali tidak menyangka. Dia mendapat sambutan kabar perselingkuhan di saat tubuhnya baru terbangun dari koma yang bahkan belum disadarinya.
Semenjak tahu perselingkuhan Romy dan Sandra, Caroline lebih banyak diam. Dia tidak mengerti kenapa rasanya dia seperti sudah tahu semua saat menonton video itu. Hanya saja, Caroline tidak bisa mengingat kapan dia melihat itu.
“Mereka akan menikah besok malam. Orang tua Romy sudah memaksanya untuk bertanggung jawab dan meminta maaf sama kamu, Sayang.
Apa kamu mau memaafkan mereka?” tanya mama Caroline. Sebagai ibu, mama Caroline sangat tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini. Hubungan Caroline dan Romy sudah dalam tahap serius. Sayangnya, tinggal beberapa hari saja menikah Caroline mengalami kecelakaan dan akhirnya perselingkuhan Romy terbongkar.
“Aku bersyukur mengalami kecelakaan dan koma, Ma. Kalau tidak, pasti aku akan sangat menyesal karena menikah dengan pengkhianat.” Caroline mengepalkan tangan dan berjanji dalam hati untuk tidak menyesali pengkhianatan mereka. Dia bukanlah wanita lemah yang akan menangisi laki-laki seperti Romy.
Mama Caroline mengangguk dan memberi semangat untuk Caroline melupakan Romy dan yakin akan mendapatkan pengganti yang lebih baik.
Sementara itu, di tempat berbeda Arnold dan Mazaya baru selesai makan malam, dan baru masuk ke kamar. Lagi-lagi Arnold merasa ada yang berbeda. Masakan Mazaya kali ini jauh lebih sempurna dari kemarin-kemarin. Dinilai dari segi tampilan sampai rasa, yang ini sempurna tapi kenapa dia merasa asing?
“Kamu udah nggak masak pakai corong lagi?” tanya Arnold begitu mereka berduaan di kamar.
__ADS_1
Mazaya mengangguk dan tersenyum, berusaha menutupi rasa gugupnya. “Iya, aku udah mulai masak dengan normal. Kenapa? Nggak enak ya?”
“Enak!” Arnold menjawab sambil menganggukkan kepala. “Enak banget malah.”
Mazaya merasa lega mendengarnya. Namun, raut wajah Arnold tiba-tiba kembali datar.
“Aku mau jujur sama kamu, Mazaya. Apa kamu mau dengar sesuatu yang mungkin akan buat kamu kecewa?”
Pertanyaan Arnold tentu saja membuat jantung Mazaya berdebar sangat cepat. Apa yang akan Arnold katakan?
“Iya. Namanya kejujuran pasti menyakitkan, tapi itu jauh lebih baik. Mau jujur soal apa?”
“Ini Caroline, ‘kan? Kamu kenal dia?” tanya Mazaya masih berusaha tenang meski jantungnya berdetak semakin cepat.
“Kamu ingat, aku pernah cerita soal gadis yang aku sukai waktu kuliah?”
__ADS_1
Mazaya mengerutkan kening. Jelas saja dia tidak tahu karena saat itu dia tidak mengikuti Caroline. “Ke-kenapa?”
“Sebenarnya Caroline itu gadis yang aku sukai sebelum menikahi kamu,” jelas Arnold dengan tatapan kosong. Dia menyesali sikap abainya yang membiarkan perasaannya tak pernah terungkap. Oleh karena itu, dia tak ingin lagi menyesal jika kehilangan Mazaya yang mulai dicintainya.
“Tadi siang, aku berhalusinasi melihat kamu dan Caroline di tempat yang asing. Kamu tahu? Aku lihat tubuh kamu dengan bayangan Caroline, dan bayangan kamu lagi genggam tangan Caroline yang koma.”
Arnold hampir tertawa saat mengatakannya. Imajinasinya begitu aneh dan tidak masuk akal, membuat Arnold geli saat mengatakannya. Meski aneh, tapi dia tetap ingin menceritakan hal itu pada Mazaya karena Arnold ingin memulai hubungan mereka dengan kejujuran.
“Kamu lihat aku sama Caroline?” tanya Mazaya merasa heran. Bagaimana bisa Arnold mengikutinya tanpa Raffaello tahu, dan kenapa Arnold bisa melihat jiwanya?
“Iya. Imajinasiku aneh, ‘kan?”
Mazaya jadi merasa bersalah dengan Arnold. Setelah tahu Caroline cinta pertama suaminya itu, hati Mazaya jadi semakin bimbang. Apalagi, Raffaello pernah mengatakan bahwa kekasihnya, Deriel ternyata masih hidup.
Apa sebaiknya aku jujur saja kalau yang dilihat Arnold bukanlah halusinasi? Apa Arnold akan marah? Bagaimana kalau dia marah dan malah membuatku kesulitan menemukan Deriel?
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa gaess 💋💋💋