Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 64


__ADS_3

Caroline menerima keripik tempe pemberian Keano dengan senang hati. Hal itu rupanya membuat hati Arnold terbakar api cemburu. Setelah Keano kembali ke tokonya, Arnold kembali mendekati Caroline dan merepotkan wanita itu dengan beberapa permintaan tentang pakaian yang ada di toko itu.


“Mau cari yang bagaimana lagi, Pak Arnold? Di sini stoknya memang terbatas, ya maklum toko kami juga baru buka!” kata Caroline yang sudah tidak sabar ingin mengusir Arnold karena sejak tadi terus mondar-mandir di tokonya.


“Yang cocok buat oleh-oleh juga ya! Saya mau ketemu klien tapi kurang tahu mana yang cocok!” balas Arnold dengan senyum tengil yang justru membuat Caroline mengulas senyum kecut.


Sudah hampir satu jam Caroline melayani Arnold, tapi laki-laki itu tak jua mengakhiri belanjanya. Jelas dia betah berlama-lama karena setelah sekian lama akhirnya punya waktu untuk bisa mendekati wanita yang dicintainya.


“Ini juga cocok sepertinya!” kata Caroline sembari menyodorkan sebuah kemeja batik pada Arnold.


“Hem, boleh juga.” Arnold mengangguk.


Kemudian Caroline segera mengajak laki-laki itu untuk membayar di kasir. Sayangnya, Arnold tak juga pergi. Dia malah mengajak ngobrol mama Caroline yang kebetulan sedang bersantai, sedangkan Caroline sudah mulai gondok tapi tetap tersenyum ramah.


“Ini manusia kenapa menyebalkan sekali ya? Harusnya kalau nggak bisa apa-apa sendiri kan ajak istrinya! Ini malah sengaja banget lama-lama di sini. Apa dia mau godain aku? Bandiit banget kalau memang iya!” batin Caroline dengan dongkol.


“Eh, kenapa rasanya nggak asing ya sama kata-kata Bandiit, nemu dari mana sih ini otak!” ucap Caroline masih di dalam hati saja.


“Pak Arnold sendirian?” sapa Mama Caroline.

__ADS_1


Laki-laki tampan dengan potongan rambut belah samping yang memperlihatkan jidat mulusnya itu tersenyum ramah. “Iya, Tante. Kebetulan ada kerjaan. Karena bosan di hotel, saya jalan-jalan sendiri, eh taunya ketemu Tante dan Caroline di sini,” balasnya yang sok akrab.


Mama Caroline mengangkat alis merasa aneh dengan sikap Arnold yang sok akrab. Padahal, hubungan mereka hanya sebatas rasa tanggung jawab Arnold saja atas kecelakaan yang menimpa putrinya dan istri laki-laki itu.


“Istrinya nggak diajak?” tanya Mama Caroline.


Arnold menunduk dan diam sejenak, sebelum akhirnya kembali mengangkat wajah dan menjawab, “Kami sedang mengajukan gugatan perceraian. Jodoh kami sudah usai!”


Hening. Caroline dan mamanya tampak canggung untuk melanjutkan obrolan. Sampai akhirnya, Arnold menyadari itu dan kembali buka suara. “Kami memang tidak pernah bahagia dengan pernikahan kami. Meski sudah mencoba, tapi selalu gagal karena kami menikah bukan atas dasar cinta.”


Caroline dan mamanya saling melirik. Tiba-tiba Caroline teringat, beberapa hari lalu mamanya berceloteh ingin Caroline segera membuka hati dan menggambarkan menantu idaman seperti Arnold. Sekarang, setelah tahu Arnold akan bercerai, mungkin saja mamanya akan punya ide gila untuk menjodohkan putrinya dengan seorang duda.


“Kamu belum coba ikan rasa tempe. Itu nggak kalah enak sama keripik tempe!” sahut Arnold berkomentar.


Caroline hanya tersenyum kaku dan segera melarikan diri. Meski awalnya dia menganggap Arnold bodoh karena ikan rasa tempe, tapi pikiran itu malah menghantuinya dan membuat ingatan muncul di kepalanya.


“Apa aku pernah bikin ikan dari tempe? Kenapa sekarang di kepalaku muncul makanan aneh itu?”


***

__ADS_1


Dion saat ini sedang mengantarkan Mazaya untuk melihat rumah baru yang disiapkan oleh Arnold. Karena Mazaya dan Arnold masih dalam proses cerai dan belum ada keputusan pengadilan, artinya Mazaya masih istri dari bos Dion yang harus dia perlakukan sebagaimana mestinya.


“Rumah ini terlalu bagus, kenapa dia kasih rumah semewah ini?” tanya Mazaya saat memasuki rumah yang dibelikan khusus oleh Arnold.


Dion sedikit tersenyum. Lalu seyelah diam cukup lama, laki-laki itu pun menjawab, “Tuan Arnold sebenarnya merasa bertanggung jawab dengan Nyonya, apalagi ayah Nyonya Mazaya meninggal karena Tuan Arnold. Hanya saja, Tuan Arnold sangat sulit mengungkapkan perasaannya itu. Mohon Nyonya Mazaya memaklumi.”


Mazaya tahu, Arnold dulu cukup baik padanya, tapi setelah memutuskan untuk menerima perjodohan dari kakek, laki-laki itu mulai berubah.


“Apa dia sudah ke Amerika?” tanya Mazaya dengan senyum yang kini kembali menghiasi wajahnya. Dia tak lagi menunduk takut dengan Dion atau pun Arnold.


“Iya Tuan Arnold ke Amerika, tapi bukan untuk menemui wanita itu. Ada masalah yang jauh lebih penting.”


“Aku harap dia bisa bersatu dengan cinta sejatinya. Apa pun masalahnya, cinta sejati tahu jalan mana yang harus dilalui untuk kembali pulang.”


“Nyonya sendiri bagaimana? Apa hubungan Nyonya dan Deriel berjalan lancar?”


***


Lancar tidaknya tergantung komen bab ini, karena aku gak dapat THR dari Arnold, mau minta komen dari pembaca aja buat THR 😂 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2