Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 49


__ADS_3

Mazaya terlihat sangat tegang saat berjalan memasuki rumah sakit bersama Raffaello. Wanita itu tengah berjalan menjemput takdirnya yang sempat tertukar dengan tubuh lain. Dengan perlengkapan dan juga persiapan yang terbilang matang, hari ini mereka akan membawa tubuh Caroline yang terbaring koma menuju sebuah bukit untuk kembali melakukan pertukaran jiwa.


Energi dan kekuatan yang dimiliki oleh Raffaello, akan sangat membantu untuk perjuangan mereka hari ini. Saat keduanya berada di depan kamar tempat Caroline dirawat, Mazaya merasakan gugup yang luar biasa.


“Kamu gugup?” tanya Raffaello saat melihat wajah tegang Mazaya.


Wanita itu mengangguk pelan. Wajar jika saat ini jiwa Caroline yang begitu pemberani merasa cemas karena apa yang akan mereka lakukan saat ini akan sangat menentukan takdirnya.


“Tenang aja! Rileks ya! Karena kalau kamu gugup, itu malah akan mencurigakan!” kata Raffaello lagi.


Mazaya berusaha mengatur napasnya agar bisa lebih tenang dan rileks. Setelah memastikan dirinya baik, Mazaya mengajak Raffaello untuk masuk ke ruangan itu.


Di dalam ruangan, Caroline dirawat sendirian. Tidak ada pasien lain yang ada di ruangan khusus itu sehingga memudahkan Mazaya dan Raffaello untuk melancarkan aksinya. Meski begitu, ada banyak tenaga medis yang menjaga karena kondisi Caroline yang belum stabil.


Para staf medis itu melihat wajah Raffaello sebagai wajah kepala rumah sakit dan hal itu membuat rencana mereka untuk membawa kabur Caroline akan semakin mulus.


“Orang tua Caroline meminta kita mengantar tubuhnya ke bandara untuk pengobatan di Amerika. Saat ini ibunya dalam perjalanan dari pulau Harum dan saya yang akan mengawal perjalanannya ke bandara. Cepat kita siapkan semuanya!”

__ADS_1


Apa yang Raffaello katakan tentu adalah sebuah perintah untuk mereka. Apalagi Raffaello juga membawa beberapa dokumen yang terlihat meyakinkan di mata mereka meskipun tanpa kehadiran langsung keluarga pasien.


Akhirnya, tubuh Caroline dibawa ke ambulans. Mazaya dan Raffaello juga seorang sopir berhasil meninggalkan rumah sakit dengan membawa tubuh Caroline.


Saat baru beberapa meter berjalan, Mazaya memberikan minuman pada sang sopir yang tiba-tiba saja merasa kehausan. Tanpa curiga sedikit pun pria paruh baya itu menengguk minuman dalam botol kemasan itu untuk menghilangkan dahaga yang menyerang.


Rupanya, minuman itu sudah dicampur dengan obat tidur sehingga membuat sang sopir merasa sangat mengantuk.


“Kamu nguap terus, ngantuk?” tanya Raffaello saat obat itu mulai bekerja.


“Ma-maaf, Pak. Saya merasa sangat aneh,” jawab sang sopir.


Mazaya di belakang memantau keadaan Caroline yang sepertinya juga masih normal-normal saja. Sementara Raffaello menyadari ada seseorang yang tengah mengikuti mereka saat ini.


“Apa Mazaya sudah ikut bersama kita?” tanya jiwa Carol yang sejak tadi memang tak bisa melihat keberadaan jiwa Mazaya di sekitarnya.


“Ya, dia ada di sebelahmu. Aku memang tidak memberinya energi yang sia-sia. Karena menyamar sebagai manusia begini juga membutuhkan energi yang sangat besar!” jawab Raffaello. “Sekarang, kamu yang menyetir! Orang ini sudah tidak sadarkan diri dan aku bisa menghemat energi untuk nanti!”

__ADS_1


Wajah Raffaello benar-benar tegang hingga Mazaya tak bisa membantah seperti biasa. Lalu, mereka bertukar posisi dan saat itulah Raffaello melihat siapa yang mengikuti mereka sejak tadi.


Mobil yang di belakang mereka ikut berhenti. Seseorang di dalamnya menatap bingung saat melihat Mazaya keluar dari pintu samping dan mengambil alih kemudi. Seharusnya, seseorang yang sebelumnya ada di tempat kemudi itu juga turun, tapi orang di mobil belakang itu tak bisa melihatnya. Hal itu membuatnya semakin penasaran dan mengikuti mereka terus.


“Berhati-hatilah, jalan ke bukit tidak mudah!” pesan Raffaello yang justru tak memberitahu Mazaya bahwa ada orang yang mengikuti mereka.


Sementara itu, mama Caroline yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang putri, tiba-tiba mendapat kabar yang mengejutkan. “Siapa yang memberi izin untuk memindahkan putriku?” teriak mama Caroline dengan histeris.


Dokter jaga yang tadi sempat memeriksa dokumen dari Raffaello pun menyerahkan map yang masih tersimpan di meja. “Di sini ada tanda tangan keluarga pasien dan kepala rumah sakit sendiri yang membawa pasien!”


Mama Caroline membuka isi map itu dan semakin tersulit emosi. “Kalian pikir saya main-main!” pekiknya sembari membanting map yang berisi kertas-kertas kosong itu ke meja.


Sementara mereka perlahan menyadari bahwa saat ini kepala rumah sakit sedang berada di luar kota.


“Lalu, tadi itu apa? Siapa? Ke mana pasien kita?”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 😋😋


__ADS_2