
Della dan Arnold sama-sama tercengang dengan permintaan Mazaya yang menginginkan Della dipecat dari pekerjaannya. Hal ini tentu sangat berat untuk Arnold yang notabene sudah mengenal Della sejak kecil. Ibunya Della juga masih bekerja di rumah itu selama puluhan tahun. Tentu sangat tidak adil jika memecat Della karena sebuah kesalahpahaman.
Della pura-pura menangis. Dia tahu bagaimana harus mengendalikan keadaan. Arnold tidak mungkin memecatnya hanya karena wanita culun seperti Mazaya, yang bahkan tidak pernah dianggap sebagai istri.
“Tu-tuan. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu, tapi sepertinya Nyonya Mazaya merasa sangat terancam karena kehadiran pelayan seperti saya.” Della menghapus air mata yang dengan ajaib bisa keluar dari matanya tanpa merasakan kesedihan.
Mazaya membuang muka. Dia muak dengan drama yang Della mainkan. Hari ini seharusnya Mazaya menyimpan energi untuk membawa tubuhnya nanti pergi dan itu pasti tidak akan mudah. Sayangnya, Della sudah menghambat rencananya hari ini, dan itu membuat Mazaya semakin kesal.
“Nah, persis seperti ini kelakuan bibit-bibit pelakor! Kalau dia nggak keluar dari rumah ini, maka aku yang keluar!” marah Mazaya dengan sorot mata yang mengobarkan api peperangan.
Wanita itu lalu menatap tajam suaminya. Dengan gerakan kasar, Mazaya melapas apron yang dipakainya dan bersiap untuk pergi. Padahal, dalam hati sangat waswas.
‘Tahan aku. Band! Tahan aku! Kalau aku pergi, nanti Mazaya kembali terus gimana dong?’
Namun, kekhawatiran Mazaya rupanya tak berlangsung lama. Arnold yang merasa sudah membuka hati untuk Mazaya pun akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
“Della, sepertinya lebih baik kamu berhenti saja. Bukankah kakek sudah menyekolahkan kamu? Seharusnya kamu pakai ijazahmu itu untuk kehidupan yang lebih baik daripada menjadi pelayan!”
Keputusan Arnold membuat Mazaya tersenyum puas, tapi tidak dengan Della. Wanita itu tentu merasa sangat kecewa dengan ucapan Arnold. Dia ingin berada di sisi Arnold selamanya karena perasaanya, walaupun harus menjadi seorang pelayan.
“Aku nggak mau Tuan! Tolong jangan usir saya!” pinta Della dengan wajah memelas.
Sayangnya, Arnold lebih memilih untuk mempertahankan Mazaya daripada Della. Sang kakek yang baru keluar dari kamar pun, akhirnya menyetujui keputusan Arnold. Della resmi keluar dari daftar pelayan di rumah itu mulai hari ini dengan pesangon yang sangat besar.
Akhirnya, mereka bisa menikmati roti panggang hasil kerja keras Mazaya yang rela menyusun meses dengan rapi. Setelah sarapan, Arnold berangkat kerja seperti biasa dan Mazaya mengantarnya sampai ke pintu depan.
“Aku kerja dulu ya! Jangan lupa obatnya diminum, siapa tahu kamu bisa cepat ingat aku!” ucap Arnold sebelum meninggalkan sang istri.
Mazaya membalasnya dengan sebuah senyuman termanis. “Sampai jumpa lagi! Aku akan berusaha mengingatmu!” balasnya sebelum Arnold masuk ke mobil.
Setelah memastikan Arnold pergi, Mazaya juga memastikan bahwa Della juga mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah itu.
__ADS_1
“Dengar, Della. Kamu bukan Cinderella, jadi jangan bermimpi untuk bisa menggantikan posisiku sebagai istri Arnold!” pesan Mazaya saat Della menyeret kopernya keluar dari rumah mewah itu.
Della tak punya pilihan kecuali diam. Dia sudah diusir dan kakek pun sudah mengultimatum dirinya untuk tidak kembali, meski ibunya masih berada di rumah itu. Namun, sepertinya ibu Della juga lega karena putrinya bisa keluar dari rumah itu dan bisa mencari pekerjaan yang lebih layak.
Usai memastikan semua aman terkendali, Mazaya segera memesan taksi dan pergi ke rumah sakit. Dia pergi dari rumah dengan alasan ingin pergi ke mall untuk membeli pakaian juga sepatu.
Begitu sampai di rumah sakit, Mazaya dihampiri oleh Raffaello yang sedang berperan menjadi dokter.
“Kenapa kamu pakai baju gini? Emangnya orang biasa bisa lihat kamu?” tanya Mazaya dengan bingung.
“Aku dapat energi khusus untuk hari ini. Aku akan membantumu. Apa kamu sudah siap?”
***
Kembang kopinya jangan lupa 🤣🤣
__ADS_1