
Arnold sudah menunggu selama enam bulan, tapi Caroline tak jua memberinya kepastian. Arnold pikir, Caroline tidak mengingatnya lagi meskipun dia sudah memberikan corong sebagai usaha agar wanita itu mengingatnya.
Perusahaan Arnold kini juga telah stabil dan kesehatan sang kakek juga sudah mulai membaik. Sudah saatnya laki-laki tampan dengan status duda itu menemui gadis impiannya, Caroline.
“Tuan, apa Anda akan ke Amerika dalam waktu dekat?” tanya Dion yang saat ini tengah menemani Arnold bekerja lembur.
Asisten Arnold itu tentu tahu bahwa bosnya tengah mengurus visa ke Amerika. Hal itu membuat Dion curiga jika Arnold akan menemui Caroline di sana.
“Kamu asisten paling kepo sepertinya. Memangnya salah kalau aku usaha biar bisa menikah lagi? Mazaya aja udah mau nikah juga, masa hubungan aku sama Caroline nggak ada kemajuan sama sekali?” gerutu mantan suami Mazaya itu.
Dion sedikit memundurkan tubuh, menjauh dari Arnold yang mungkin saja akan terbawa emosi. “Maaf, Tuan!” ucapnya yang disertai helaan napas panjang. Padahal, Dion hanya bertanya untuk basa-basi, tapi sepertinya Arnold terlalu sensitif.
“Kosongkan jadwalku seminggu ke depan. Setelah ini, aku mau ada urusan pribadi. Tugas kamu awasi perusahaan ya!” perintah Arnold yang tak akan mungkin bisa dibantah oleh sang asisten.
“Baik, Tuan!” jawab Dion sembari menundukkan kepala.
Arnold melirik asistennya itu dan mulai mencari gara-gara. “Kamu lagi cosplay jadi robot?”
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat kening Dion berkerut. Namun, untuk membantah perkataan Arnold, laki-laki itu tak punya nyali tinggi.
“Robot ini punya informasi penting soal Nona Caroline!” ucap Dion yang kemudian membereskan berkasnya dan membungkuk sebelum akhirnya berbalik badan.
“Rasakan, Tuan. Memangnya enak kalau dibikin penasaran terus begini?”
“Informasi penting apa, Yon?” teriak Arnold karena saat ini asistennya itu sudah mencapai pintu tanpa menjelaskan apa-apa padanya. “Dasar asisten siaal!” gumamnya dengan tangan terkepal menahan kesal yang tak bisa diluapkan.
**
**
Dengan perasaan yang sedikit gugup, Arnold menemui Caroline di tokonya. Dia berharap setelah memberi waktu yang cukup lama itu, Caroline akan kembali mengingat masa-masa di saat dia bertransmigrasi ke dalam tubuh Mazaya dan berpura-pura menjadi istrinya.
Begitu pintu terbuka, Arnold mengedarkan pandangan mencari sosok Caroline yang sudah sangat dia rindukan. Sayangnya, wanita itu tak ada di sana, Namun, rasa kecewa Arnold tak terlalu besar karena mama Caroline muncul menemuinya.
“Eh, Pak Arnold!” sapa Mama Caroline dengan wajah semringah yang terlihat ramah.
__ADS_1
Arnold menunduk hormat kemudian menyalami ibu dari wanita yang dicintainya itu. “Apa kabar, Tante?”
Mama Caroline mengajak Arnold untuk duduk dan ngobrol bersama. Wanita itu tampak antusias menyambut laki-laki yang memenuhi kriteria menantu idamannya. Apalagi, sekarang Arnold sudah resmi menyandang status duda rasa perjaka.
Di saat keduanya asyik mengobrol, Caroline muncul membawa beberapa makanan yang ternyata hasil dari kreasi masakannya sendiri. Dia cukup terkejut waktu melihat kehadiran Arnold yang dia pikir sudah menyerah dan melupakannya.
“Dia datang? Untuk apa? Apa dia masih mengharapkanku?” batin Caroline yang kian merasakan debaran di dadanya semakin kencang.
Caroline sudah mengingat semuanya. Ingatan tentang Arnold juga semua kenangan saat menjadi Mazaya, semuanya telah kembali. Namun, untuk mengakui semuanya, dia masih punya harga diri untuk tidak mengakui perasaannya pada suami orang.
“Sayang, kamu masak apa? Pak Arnold sudah menunggu kamu dari tadi!”
“Untuk apa? Ada keperluan apa?” tanya Caroline dengan kening berkerut.
“Aku mau lamar kerja part time di sini, apa boleh?”
***
__ADS_1
Minal Aidzin Wal Faidzin, selamat hari raya idul fitri. mon maap kalau selama nulis ada kata yang kurang berkenan gaess 🙏🙏