Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 72


__ADS_3

Caroline menghidangkan hasil masakannya di meja makan dengan penuh rasa bangga. Wanita itu menyajikan masakannya yang sangat istimewa karena membuat para pelayan di rumah Arnold sibuk dengan banyaknya cucian.


Orang bilang, cinta itu berawal dari makanan turun ke perut. Kalau perutnya kenyang dan cocok, orang lama-lama akan mencintainya. Eh, tapi kalau dipikir-pikir itu bukan kata-kata yang bijak, sebab para pelayan dibayar untuk membuat masakan dan majikan tidak harus mencintai pelayannya, bukan?


Aroma masakan Caroline tercium hingga ke hidung Arnold dan kakeknya. Dari baunya memang sangat enak dan Arnold terlihat sangat antusias, tapi sang kakek hanya memasang ekspresi biasa saja karena aroma dan rasa itu sesuatu yang berbeda.


“Wah, kamu masak apa nih?” tanya Arnold yang tampak tidak sabar untuk mencicipi masakan Caroline.


“Aku bikin makanan sederhana aja. Makan siang kan udah lewat, dan makan malam jam segini juga nggak mungkin. Jadi, aku bikin steak tempe sama tahu. Semoga cocok sama lidah kalian!” jawab Caroline yang kemudian ikut duduk bersama di meja makan, tepat di samping Arnold.


Tanpa banyak bicara, kakek langsung mencicipi masakan Caroline yang ternyata sesuai dengan harapan. Masakan ini mengingatkan kakek dengan masakan aneh yang pernah mantan cucu menantunya buat, ikan goreng rasa tempe.


“Apa kamu masak pakai corong?” tanya kakek tiba-tiba, kala masih menikmati masakan calon cucu menantunya itu.


Caroline yang tadinya hendak menyuapkan makanan ke mulut, akhirnya meletakkan kembali sendoknya. Dia menatap Arnold dengan ragu, tapi kemudian menjawab pertanyaan kakek, “I-iya. Apa kurang enak, Ke?”

__ADS_1


Kakek justru mengulas senyum, mematahkan pemikiran Caroline bahwa masakannya mungkin tidak enak. “Ini sangat enak kok. Kalau kamu pintar memasak seperti ini, mungkin Arnold akan lebih hemat dan tidak akan menghambur-hamburkan uang hanya demi makan di restoran mewah!” komentar sang kakek.


Arnold sekarang semakin yakin, bahwa kakek telah merestui hubungannya dengan Caroline. Langkahnya untuk menikah dengan gadis impiannya akan segera terwujud.


*


*


*


Sang pengantin tampak sangat cantik dengan balutan busana pengantin yang sederhana. Ya, pernikahan itu memang hanya dihadiri oleh beberapa saudara dan teman dekat saja. Namun, sebenarnya pernikahan Mazaya kali ini jauh lebih meriah dari pernikahannya dengan Arnold dulu.


“Selamat ya, Mazaya. Kamu cantik banget!” ucap Caroline seraya memeluk pengantin wanita itu.


Arnold pun mengucapkan selamat kepada suami Mazaya, Deriel. Laki-laki itu juga berpesan agar Deriel bisa menjaga Mazaya dan membahagiakannya karena semua itu adalah hal yang sangat sulit diwujudkannya.

__ADS_1


“Carol, terima kasih banyak!” Mazaya mengucapkannya dengan tulus. Tatapan matanya membuat Caroline paham apa yang wanita itu maksudkan. “Semoga kamu juga segera menikah dengan Arnold dan menciptakan keluarga yang bahagia hingga maut memisahkan!”


Caroline mengangguk dengan air mata yang sulit dibendung. Dia menangis haru setelah menyaksikan kebahagiaan yang Mazaya pancarkan. Setidaknya, rasa bersalah karena sempat menyukai suaminya, kini tergantikan dengan senyuman tulus wanita itu.


Kini, Caroline dan Arnold sudah berada di mobil. Mereka baru saja meninggalkan pesta pernikahan Mazaya dan Deriel yang sebenarnya belum usai.


“Kenapa melamun? Kamu jangan murung, Carol. Setelah ini kamu harus tersenyum pada semua orang karena para tamu sudah menunggu kita di gedung pernikahan!” kata Arnold yang kemudian melajukan mobilnya.


Caroline menoleh dan menatap Arnold dengan bingung. “Bukankah pernikahan kita masih dua hari lagi?”


Arnold menyeringai. Dia menoleh pada calon istrinya dan menjawab, “Undangan yang kamu lihat itu kan hanya contoh. Yang sebenarnya disebar ya tanggal sekarang ini. Yang penting, kita menikah setelah pernikahan Mazaya, kan?”


***


Kembang kopi, sama komennya ramaikan dong gaess, 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2