
Caroline sama sekali tidak terlihat sedih atau kecewa saat menaiki pelaminan yang seharusnya menjadi miliknya, andai saja tunangan dan sahabatnya itu tidak berkhianat. Wanita itu bisa membuktikan bahwa dirinya tidak berduka meski menjadi korban yang sesungguhnya.
Ibu Romy justru menangis saat Caroline naik ke pelaminan. Wanita itu menyambut mantan calon menantunya itu dengan tangis kesedihan. Ya, bukan Caroline yang merasa kehilangan mereka, tapi merekalah yang merasa paling kehilangan Caroline.
“Selamat ya kalian. Sebentar lagi hidup kalian akan sempurna dengan kehadiran anak kalian. Kabari aku ya kalau anak kalian udah lahir!” Wanita itu hanya menyalami Sandra dan Romy tanpa memberi pelukan selayaknya sahabat baik.
Caroline tidak membenci Sandra dan Romy, tapi baginya keduanya tetaplah pengkhianat yang sudah tidak layak dijadikan sahabat.
Sandra mengucapkan terima kasih dan mendoakan Caroline agar dapat jodoh yang lebih baik. Namun, wanita itu dengan tegas mengatakan bahwa jodohnya memang akan yang terbaik, karena Romy bukanlah orang baik sehingga mereka tidak berjodoh.
Akhirnya, Caroline pulang lebih awal dari pesta itu. Sama halnya dengan Arnold dan Mazaya yang memutuskan untuk pergi beberapa saat setelah Caroline pulang.
Saat ini, pasangan suami istri itu sedang dalam perjalanan menuju rumah. Tiba-tiba, Mazaya merasakan sakit perut yang tak tertahan. Dia bisa menebak jika tamu bulanannya akan segera datang dan meminta Arnold untuk berhenti di sebuah minimarket.
__ADS_1
“Mau aku temani?” tawar Arnold saat membantu Mazaya melepaskan sabuk pengaman mobil.
Wanita itu menggeleng pelan dan tersenyum sebelum akhirnya membalas, “Aku sendiri aja. Cuma beli pembalut kok, Ar.”
Arnold mengangguk dan membiarkan istrinya keluar dari mobil sendirian. Namun, dia masih saja merasa aneh dengan panggilan Mazaya yang sekarang sudah berubah padanya.
“Entah kenapa aku lebih suka dia panggil aku banddit daripada nama asliku. Mazaya sekarang juga terlihat lebih lembut. Apa jangan-jangan yang aku lihat waktu itu memang bukan halusinasi? Kenapa aku merasa seperti bersama Mazaya dengan dua kepribadian yang berbeda?”
Sementara itu, Mazaya sekarang sudah berada di minimarket. Dia mengambil satu kotak pembalut dan segera membayar. Saat mengantre di kasir, rupanya seseorang mengenali dirinya.
Mazaya jelas mengenali suara itu. Dia teringat ucapan Raffaello yang mengatakan bahwa laki-laki yang dicintainya masih hidup sampai sekarang. Dengan perasaan waswas dan takut kecewa, Mazaya menoleh ke belakang dan menatap laki-laki yang tadi memanggilnya.
Tubuhnya bergetar, dan jantungnya berdegup kencang. “Deriel!”
__ADS_1
Lutut Mazaya terasa lemas. Hatinya ingin memeluk laki-laki itu, tapi pikirannya menampar dirinya yang sudah memiliki suami. Hingga akhirnya, yang terucap dari bibirnya hanya kata yang terdengar biasa. “Ke mana aja?”
“Aku baru-baru ini tinggal di daerah sini. Kamu apa kabar? Aku dengar kamu sudah menikah ya?” tanya pemuda yang merupakan mantan kekasih Mazaya itu.
Mazaya lagi-lagi tertampar kenyataan. Dia dan Deriel bukan lagi sepasang kekasih, dan dia sudah menikah dengan Arnold.
“Iya, aku sudah menikah. Aku pikir kamu ngagk selamat waktu kecelakaan beberapa tahun lalu,” jawab Mazaya.
Saat Mazaya masih fokus dengan Deriel, Arnold menyusul istrinya itu ke dalam minimarket. Dia melihat Mazaya yang tampak canggung saat berbicara dengan laki-laki lain.
‘Kenapa saat melihat Mazaya dengan laki-laki lain rasanya aku tidak marah? Apa situasi ini berbeda saat dulu Mazaya kabur pagi-pagi demi bertemu seorang pemuda di rumah sakit?’
***
__ADS_1
Iya, Bang. Itu kan bukan Mazaya. Kamu harus dapat hukuman dulu dari aku sebelum bahagia sama jodoh kamu 🤣 Banyak banyakin rayu readers buat rajin komen 🙈
Kembang kopinya aku tunggu sekalian vote 🤣