
Chan Xiyu menatap Woo Hyun dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Li Mei tapi tidak dengan Woo Hyun yang tau tatapan itu bahwa Chan Xiyu meminta penjelasan bagaimana Pedang Jendral mereka bisa ada di tangan Ibu Woo Hyun, tapi Woo Hyun hanya acuh tanpa memperdulikan tatapan itu sama sekali.
Di tengah Hutan mati terlihat seorang Pria tampan sedang tertidur di bawah pohon besar menikmati sejuknya alam di sekitarnya.
Pria itu terlihat santai tanpa memperdulikan seseorang yang berbicara padanya sejak tadi.
"Putra Mahkota, kita harus kembali saat ini sebelum Klan Ruba tau keberadaan kita di sini." ucap Pria itu yang bernama Kai.
Benar saat ini mereka ada di Hutan Mati wilayah Klan Ruba yang sangat di jaga ketat oleh binatang legenda yang ada di sini.
"Tenang saja mereka tidak akan tau keberadaan kita." ucap Pria yang di panggil Putra Mahkota itu yang bernama Zhu Liang Putra Mahkota Klan Serigala.
Hye Rim yang sudah keluar dari ruang dimensinya dan membawa kecapi yang dia sukai itu ke dunia luar sangat bahagia terutama para pelayan dan prajurit yang bisa bernafas lega karena Permaisuri mereka kembali dan itu membuat mereka terbebas daru siksaan dan hukuman penggal dari Raja mereka yang kejam itu.
Hye Rim nampak tersenyum bahagia dan mulai memainkan kecapi itu dengan irama yang indah di dekat air terjun pelangi. Lagu yang bernada merdu itu mengeluarkan bunga -bunga yang indah dan berbeda-beda di udara di tambah angin yang bertiup yang menenangkan.
__ADS_1
Suara indah itu sampai ke seluruh Hutan mati dan wilayah Klan Ruba membuat semuanya penasaran siapa yang bermain musik seindah itu hingga membuat bunga beterbangan.
"Sepertinya Permaisuri ku sedang bermain dengan kecapi bunga angin." ucap Fai Long dengan tersenyum dan pergi dari ruang rapat meninggalkan semua orang yang saat ini sedang mengadakan pertemuan tentang undangan dari Kekaisaran Ming yang meminta mereka ikut berpartisipasi pada acara perburuan tahunan dan kompetisi bakat yang akan di selenggarakan di Kekaisaran Ming apa lagi perburuan itu akan menggunakan Hutan Mati dan Hutan Roh yang di kuasai Klan Ruba.
"Yang Mulia akan kemana itu dan siapa yang memainkan musik seindah ini." ucap seorang pria paruh baya yang ada di sana.
"Yang Mulia Raja akan menemui Permaisurinya karena dari yang aku lihat ekspresi Yang Mulia dapat dengan mudah di tebak jika itu tentang Permaisurinya dia akan langsung pergi tanpa perduli apapun." ucap Liu Tao.
Semua yang ada di sana nampak terkejut dengan apa yang dikatakan Liu Tao pasalnya mereka tidak pernah tau bahwa Raja mereka memiliki Permaisuri karena tidak pernah ada wanita yang boleh masuk harem istana karena Raja mereka tidak setuju bahkan sering ada penjabat dan bangsawan Ruba yang menawarkan atau mengirimkan anak perempuan mereka untuk di jadikan Permaisuri ataupun Selir akan di to lah dengan mentah -mentah bahkan akan di bunuh jika memaksa atau bahkan ada perempuan yang berani menyentuh Raja mereka.
Di tempat Putra Mahkota Zhu Liang dan Kai juga mendengar suara musik yang merdu dan suara nyanyian yang indah itu.
Fai Long sampai di danau pelangi dan melihat Hye Rim yang tengah bernyanyi dan bermain kecapi dengan bahagia.
__ADS_1
Fai Long juga melihat banyak binatang ilahi yang datang mendekat untuk mendengarkan alunan musim itu.
Putra Mahkota Zhu Liang dan Kai sampai di dekat danau pelangi dan mereka terpanah melihat kecantikan seorang wanita yang duduk di dekat batu di sebelah danau dengan memainkan kecapi.
Fai Long merasakan aura berbeda dari yang lain mulai mencari aura itu dan benar dia melihat Zhu Liang dan Kai yang bersembunyi di atas pohon sambil mengamati permaisurinya. Mungkin menurut mereka aura mereka bisa di samarkan dari Ruba lain dengan menggunakan bunga teratai tapi bunga itu tidak bisa menutupi aura mereka dari Fai Long Raja Ruba Mitos Legenda Ilahi, dan yang membuat Fai Long sangat marah karena Zhu Liang menatap Permaisurinya tanpa berkedip dengan tatapan memuja yang terpancar jelas di matanya begitu juga dengan Kai.
Fai Long langsung menghampiri Zhu Liang dan Kai yang bersembunyi dan menyerang mereka dengan santai berbeda dengan Zhu Liang dan Kai yang membalas serangan Fai Long dengan membabi buta tampak kemarahan di mata mereka yang seperti terganggu karena menurut mereka Fai Long menghalangi mereka melihat dewi yang kecantikannya dapat menghancurkan benua ini dan mereka tidak tau sama sekali bahwa yang mereka hadapi saat ini adalah Fai Long Raja Ruba.
Hye Rim mendengar suara pertarungan menghentikan permainan musik nya dan memasukkan kembali kecapinya kedalam ruang dimensi lalu pergi untuk melihat pertarungan itu dengan di ikuti pelayan dan prajurit yang menemaninya.
Hye Rim melihat pertarungan itu tanpa niat melerai sama sekali karena dia tau kedua orang pemuda itu yang salah karena dia dapat mencium aroma yang berbeda dari kedua pemuda itu yang berarti mereka bukan Bangsa Ruba dan itu berarti mereka bukan Klan Ruba dan salah jika mereka berani masuk ke wilayah Klan Ruba.
Terlihat kedua pria itu yang sudah sangat lelah karena tenaga mereka yang terkuras habis berbeda dengan Fai Long yang masih sangat santai tanpat menampakkan rasa lelah.
"Untuk apa di sini." ucap Fai Long dengan nada dingin dan aura membunuh yang kental membuat semua yang ada di sana merasa tercekik dengan aura itu hingga membuat orang yang tidak kuat menahannya memuntahkan darah kecuali Hye Rim yang biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu apapun karena Fai Long membuat Hye Rim tidk merasakan aura membunuh miliknya.
"Kami hanya sedang berjalan -jalan." ucap Zhu Lian.
__ADS_1
"Jalan -jalan ke wilayah Klan Ruba." ucap Fai long dengan suara dingin, tatapan tajam dan wajah datarnya yang membuat semua Itang melihatnya takut begitu juga Hye Rim yang nampak sedikit takut dengan Fai Long jika marah tapi itu hanya sedikit.