
Keadaan Leny sudah semakin membaik,dokter menyarankan agar operasi segera dilakukan mengingat janin yang ada dalam rahim Leny tak mendapat asupan dari sang ibu karena sedang dalam keadaan koma.
Rehan,sebagai suami Leny menandatangani dokumen surat perjanjian resiko pasca operasi. Turut pula Hendra sebagai penanggung jawab Delia. Setelah dokumen tersebut dibubuhi tanda tangan,perawat membawa keluarga pasien agar menunggu di ruang tunggu yang disediakan.
Leny dan Delia sudah berada di atas meja operasi. Mereka dibaringkan di atas meja yang saling dirapatkan. Tirai ditutup,lampu operasi dinyalakan. Beberapa dokter ahli sudah siap dengan segala peralatan bedahnya didampingi para perawat yang siap membantu jalannya operasi sampai selesai.
Rehan dan kedua orang tuanya menunggu diluar,Leo sedang pergi untuk menjemput kedua orang tuanya dari kota Rexy. Mereka diberi izin hanya selama beberapa hari. Kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menemani putri mereka yang sedang menjalankan operasi.
1 jam berlalu,orang-orang yang berada di depan ruang operasi masih menunggu dengan cemas dan penuh harap. Termasuk keluarga Leny yang sudah hadir disana. Mereka sama-sama berharap operasi akan berjalan sukses dan bisa selamat.
Sedang di dalam ruangan operasi para awak medis juga sedang berjuang dengan 2 pasien mereka. Terlebih yang mereka tangani kali ini adalah nyawa. Ditengah operasi sedang berlangsung,kondisi Leny tiba-tiba menurun. Sementara tali plasenta janin di rahimnya sudah diputus dan kini sudah dalam tahapan penyambungan pada rahim Delia.
Peluh mereka menetes diantara dahi dan hampir menetes ke bawah,tapi perawat dengan cepat menyeka butiran keringat itu dengan tisu sehingga tidak sampai jatuh. Mereka terus berjuang hingga operasi berjalan dan berusaha agar semua pasien selamat.
Kali ini para dokter tersebut berembuk untuk menentukan pilihan.
"bagaimana ini dokter Mila ?"
"tindakan apa yang harus kita ambil ?"
"kondisi nyonya Leny kritis"
Dokter Ivan sebagai kepala pelaksana memutuskan agar menyudahi operasi untuk pasien Delia. Kemudian melanjutkan tindakan tambahan pada Leny.
__ADS_1
Seorang dokter melepas sarung tangan dan berjalan keluar ruang operasi. Ketika pintu dibuka Rehan langsung menyergapnya. Dokter bernama Ivan tersebut menurunkan maskernya,lalu menghela nafasnya.
"Operasi berjalan lancar,janin sudah sukses dipandahkan ke dalam rahim nona Delia,tapi..." dokter Ivan belum sempat melanjutkan kalimatnya.
"dokter gawat,pasien semakin kritis" teriak seorang perawat berlari menghampiri.
"maaf,kami harus meminta persetujuan dari pihak keluarga" ucap dokter tersebut kemudian memasang kembali maskernya dan masuk ke dalam ruang operasi.
Perawat yang tadi berteriak mengabarkan kondisi pasien tak ikut masuk ke dalam ruang operasi dan membawa Rehan ke ruang depan administrasi. Rehan harus menandatangani sebuah dokumen perjanjian perihal keselamatan pasien terkait akibat tindakan operasi yang sudah dijalankan.
Gemetaran tangan Rehan mencoretkan tandatangannya di atas kertas tersebut. Dadanya bergemuruh ragu juga takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya pada Leny,istrinya. Tapi dia tak punya banyak waktu lagi.
Disisi lain Bang Joko terus dilanda kekhawatiran karena sudah beberapa hari tak dapat menghubungi Delia,gadis cantik yang sudah dianggapnya sebagai adik.
"bang bang,maaf saya mau tanya boleh ?" bang Joko memanggil seorang pria yang berjaga di rumah Delia.
Seorang pria mendekati bang Joko
"mau tanya apa kamu ?"
pemuda berambut kriwil-kriwil itu pun segera mengatakan yang ada di di fikirannya terkait Delia.
"kami disini hanya menjalankan tugas melakukan pengamanan terhadap rumah ini,terkait pemilik dari rumah ini kami tak tahu menahu mas" jawabnya dengan tegas hingga membuat bang Joko langsung kicep dan enggan bertanya lebih jauh lagi untuk menggali informasi.
__ADS_1
"ya udah,makasih bang" ucapnya lalu pamit pergi.
Para rekan dosen menyayangkan Delia yang mengambil cuti selama beberapa hari lamanya. Itu karena Delia adalah sosok perempuan cantik yang menyenangkan dimata mereka. Delia selalu bisa membuat suasana jauh lebih hidup dan tak membosankan.
"kayaknya sekarang ini yang paling rindu sama miss Delia pak Darul deh" celetuk dosen bernama Muji disambut dengan gelak tawa menggoda dari dosen yang lain.
"iya,biasanya kan ada miss Delia yang bantuin kerjaannya,tapi sekarang harus ngurusi dan beresi sendiri" sahut yang lain menanggapi.
Pak Darul hanya menanggapi dengan senyuman,pria itu tahu rekan-rekannya hanya bercanda dan bukan bermaksud serius. Memang benar adanya kalau sejak ketidakhadiran Delia,ia sedikit kewalahan. Kalau harus mencari ganti Delia juga butuh waktu lama dan belum tentu cocok dengannya. Darul terlanjur cocok dan nyaman dengan bantuan Delia sebagai asistennya.
Masih di ruangan yang sama,seorang lelaki muda terlihat diam mendengar para dosen seniornya saling lempar candaan. Dia terlihat seperti memikirkan seseorang. Entah itu siapa. Tapi setiap kali nama Delia disebut dia selalu mendongakkan kepala seperti tak rela gadis cantik itu dijadikan topik pembicaraan.
"Pak Bagas,diem aja dari tadi. Apa sedang memikirkan sesuatu ?" tanya dosen berperut gendut.
Bagas hanya menjawab dengan gelengan kepala dan senyum yang terbentuk di bibirnya yang melengkung,dipermanis pula dengan 2 lubang kecil diujung pipinya. Kemudian pria itu berdiri dan meninggalkan ruangan.
Berjalan menyusuri lorong kampus yang sepi karena hari sudah sore,hanya terlihat beberapa mahasiswa yang masih bertahan di kampus mungkin masih ada jam kuliah atau ada yang dikerjakan. Bagas menghentikan langkahnya di ujung lorong. Kemudian menatap ke sebuah ayunan tempat biasa Delia datangi.
Kemana pergimu selama berhari-hari,tak ada pesan maupun kabar. Apa mungkin kau menghindariku karena hal itu ? kalau memang tak bisa bukankah seharusnya kau tak menghindariku ? lebih baik tak kukatakan. Kalau akhirnya kamu memilih menjauhiku.
Kembali ke ruang operasi,Rehan berdiri di depan pintu kamar bedah yang masih menutup rapat. Wajahnya pias menantikan pintu kamar didepannya segera terbuka. Seli tak tampak disana,wanita itu sedang berada di sebuah ruangan menemani Delia yang sudah sadarkan diri sejak beberapa menit yang lalu.
120 sudah berlalu,operasi yang diperkirakan tidak lebih dari 90 menit malah berlangsung lebih lama dari perkiraan semula. Semua orang nampak terdiam menanti kabar dari dalam ruang operasi. Terlebih mamanya Leny,wanita itu terus saja mencemaskan keadaan putrinya yang masih belum juga keluar dari ruang operasi hingga berjam-jam lamanya.
__ADS_1
"pa,mama takut hal buruk menimpa putri kita pa" berkali-kali wanita itu menanyakan hal yang sama,berkali-kali pula 2 lelaki di samping kanan dan kirinya berusaha menguatkannya. Wanita itu adalah mama Leny,dan 2 lelaki itu adalah papa nya dan kakaknya,yaitu Leo.