
"Selamat siang,permisi"
Semua orang yang ada di warung pun lantas menoleh ke arah suara. Tak terkecuali bu Arum sendiri. Mulut mereka reflek menganga dengan sendirinya melihat kedatangan tamu gadis cantik berparas ayu bagai bidadari turun dari kayangan. Tubuhnya tinggi langsing dengan kulit putih bersih. Rambutnya yang berwarna hitam sepanjang punggung dibiarkan tergerai hingga menutupi sebagian punggungnya.
"ibu gak kangen sama putri ibu yang cantik ini ?" tanya gadis cantik yang kini sudah memeluk erat bu Arum.
Bu Arum terdiam sejenak tubuhnya di peluk oleh orang asing,tapi kemudian wanita itu melepaskan pelukan gadis tersebut dan memandangi wajah gadis di depannya dari dekat.
"Vania ? ini beneran kamu ?" bu Arum mulai memutar tubuh Vania hingga senyuman terukir dari bibir gadis bernama Vania itu,membuat wanita yang sudah menjanda lebih dari 1 dekade itu pun lantas mengajak putrinya masuk ke dalam,sementara warungnya ia titipkan sementara pada Joko.
" ssst ssst,bang cewek tadi siapanya bu Arum ?" tanya seorang pembeli di warung bu Arum.
"iya,tuh cewek bener-bener bening" sahut yang lain berkomentar.
"ajak kenalan kira-kira mau gak ya,lumayan ada kenalan cewek bening,siapa tau.....,aw" timpal yang lain ikut berkomentar,tapi kemudian dia mengaduh karena kepalanya sudah ditoyor dengan keras oleh teman di sebelahnya,dan disambut dengan gelak tawa yang lainnya.
...****************...
Bagas baru saja mengajar kuliah,hari ini hanya ada 1 kelas mengajar pagi,jadi selesa memberi materi dia langsung cabut diri dari kampus. Kali ini tujuannya adalah rumah Delia,tapi dia belum tahu kalau gadis pujaannya sudah pindah dari sana. Itu karena Bagas selama beberapa bulan ini ditugaskan ke luar kota oleh pihak kampus untuk menggantikan dosen yang sedang cuti melahirkan. Dan baru beberapa hari yang lalu dia kembali ke kota Sonic.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya,Bagas mengangkat panggilan tanpa melihat nama si pemanggil. Tapi kemudian dia membanting benda pipih miliknya dengan muka yang sudah memerah penuh emosi. Niatnya ingin mampir ke rumah Delia dan mengajak gadis itu makan siang bersama urung karena sesuatu hal yang membuatnya emosi.
__ADS_1
Sementara itu tak jauh dari posisi Bagas saat ini ada seseorang yang terus mengawasi gerak-geriknya. Lelaki misterius itu terus membuntuti kemanapun Bagas pergi dan apapun selalu dilaporkan pada atasannya.
"awasi terus,jangan sedikitpun lengah !"
"kalian perketat penjagaan di rumah om Hendra ! aku gak mau terjadi sesuatu pada Delia" ancam Leo memperingati anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi rumah Delia dan juga juga menjaga keamanan Delia walau sudah pasti Delia akan selalu aman berada dalam rumah keluarga Hendra.
Sesudahnya Leo mengakhiri sambungan telepon dan bergabung kembali di meja bersama kolega dan kliennya.
Hari sudah jelang siang,Joko dan Vania berjalan-jalan ke pasar. Joko yang memang masih dalam situasi libur tentunya tak keberatan saat Vania memintanya menemani ke pasar seraya mengenang masa lalunya disana.
"bang Joko dari dulu gantengnya gak berubah ya,masih tetep baik hati dan murah senyum " puji Vania terhadap Joko.
Tanpa disadari pujian yang terlontar tersebut sudah membuat wajah Joko merona karena merasa tersanjung mendapat pujian dari gadis yang diam-diam sudah mencuri perhatiannya sejak kedatangannya kemaren. Hingga tak terasa keduanya kini telah sampai di rumah bu Arum.
"Kebakaraaaaaan,kebakaraaaaaaan,kebakaraaaaaaaan !!!"
teriak orang-orang saling bersahutan. Sementara Joko sudah berlari menuju asap hitam berasal. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati cafenya yang sudah tak berbentuk hampir ludes oleh si jago merah.
"tidaaaaaaaaak!" teriak Silvi yang baru saja turun dari bemo,dia baru saja pulang sekolah.
"apa yang sebenarnya terjadi bang ?" tanya Silvi pada Joko yang diam terpaku menatap musibah di depan matanya.
__ADS_1
Joko berteriak memerintahkan untuk memanggil nomor pemadam kebakaran agar kebakaran tak terus merambat kemana-mana sehingga akan menyebabkan kerugian.
Tak lama berselang,2 unit mobil pemadam kebakaran datang di lokasi. Mereka segera melakukan tugasnya untuk memadamkan api yang sudah berkobar dengan baranya yang panas.
Vania datang menghampiri Joko yang masih tercengang di depan rumah Delia. Cafe yang tadinya berwarna ,perlahan sudah berubah menjadi abu sisa pembakaran.
"bang Joko yang sabar ya,semoga setelah ini cafenya jadi semakin laris,masalah biaya kita bisa usahakan sama-sama" Vania mengusap punggung Jojo yang terasa tegang.
Orang-orang yang tadinya berkumpul di depan rumah Delia perlahan sudah membubarkan diri dan mulai pulang ke rumah masing-masing. Banyak dari mereka yang mulai kasak-kusuk membicarakan kedekatan yang terjalin antara Joko dan juga Vania.
"eh pak,tadi pada lihat gak kedekatan Joko sama putrinya bu Arum ?"
"kayaknya posisi neng Delia di hati nak Joko sudah mulai tergantikan oleh siapa itu,neng Va..."
"neng Vania"
"kita dukung aja deh kalau emang putrinya bu Arum itu emang ada rasa sama nak Joko"
Begitu kira-kira bunyi percakapan para bapak-bapak dalam perjalanan mereka kembali dari rumah Delia yang terbakar.
Tak jauh dari rumah Delia yang sudah sebagian,dari dalam mobil turun seorang pria dengan memakai kostum serba hitam ala agen MIB,dia memotret Joko yang sedang berdiri menatap penuh hampa ke arah cafenya yang kini sudah berubah jadi butiran debu. Hasil jepretan tersebut lalu ia kirimkan kepada seseorang yang mengutusnya. Setelahnya,pria itu segera meninggalkan lokasi.
__ADS_1
Tak lama setelah kepergian pria bermobil itu,ponsel milik Joko berdering,pemuda itu pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"halo" sapa Joko dengan nada malas karena dia masih cukup syok dengan musibah yang menimpanya dan Silvi. Tapi sepersekian detik kemudian,Joko lalu meremas benda pipih berlogo apel tergigit yang ia beli secara mengangsur pada majikannya,kemudian dia bangkit dari posisi bertumpu pada kedua lutut yang ia jadikan kekuatan dan berlari menuju ke arah jalan seperti mencari seseorang. Dia tak peduli pada Vania dan Silvi yang masih berada di sana. Dia menghentikan sebuah taksi lalu pergi dengan menggunakan jasa kendaraan berargo tersebut dan pergi entah kemana. Tak peduli pada Vania juga Silvi yang kini saling pandang dengan keheranan mereka melihat tingkah aneh Joko yang tiba-tiba saja pergi entah kemana.