
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit,bu Dian hanya terdiam dengan terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang terlampau buruk terhadap suaminya. Wanita itu tak henti berdoa memohon agar suaminya selamat.
Sambil menyetir,bu Nirmala terus mencoba memberikan perhatian pada sahabatnya. Dia turut mendoakan semoga suami dari sahabatnya itu bisa terselamatkan. Bu Nirmala sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.
20 menit kemudian,mobil telah sampai di bangunan rumah sakit bernama Prada Hospital. Disana banyak para polisi yang berdiri,juga para perawat yang terlihat sibuk mengurusi para korban kecelakaan yang dikabarkan menewaskan seseorang.
Bu Dian segera berlari masuk dan langsung bertanya pada resepsionis rumah sakit. Perawat yang berjaga pun langsung mengatakan pada bu Dian ruangan yang harus didatangi oleh bu Dian untuk bisa melihat jenasah suaminya. Dia terlihat lemas ketika mendengar suaminya yang sudah masuk kedalam kamar jenasah.
Sementara itu,melihat kondisi Delia yang cukup lemah membuat semua orang khawatir. Keluar dari rumah sekaligus markas Erik,Rehan dengan ditemani sang ayah langsung membawa Delia ke rumah sakit. Hendra sudah menghubungi dokter kandungan pribadi keluarga mereka. Sedangkan Bagas dan Virgo masih berada di rumah Erik.
"apa maksud semua ini bang ? " Bagas menggebu.
"aku hanya membantu om Hendra dan Rehan yang kebingungan karena gadis bernama Delia yang diculik oleh musuh mereka " jawab Virgo setahunya.
"lalu Delia? kau lihat tadi,dia hamil ? " ucapnya meninggi.
Virgo tampak tersenyum melihat adiknya yang seperti orang kebakaran jenggot ketika tahu gadis pujaan hatinya tengah mengandung benih orang lain. Tapi dia tahu bagaimana keadaan sebenarnya.
"jadi dia gadismu ?" selidik Virgo
"hm" jawab Bagas singkat
__ADS_1
"kalau begitu sebaiknya tanyakan pada gadis itu langsung dan pada Rehan apa yang sebenarnya terjadi" sarannya
Virgo bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Bagas yang masih betah dengan kebingungannya. Dia masuk ke dalam mobil,dan langsung memerintahkan pada anak buahnya untuk meninggalkan lokasi. Tapi sebelum benar-benar pergi,dia menyempatkan diri mengklakson Bagas yang masih sibuk terdiam dengan fikirannya sendiri.
Sementara itu,setibanya di rumah sakit. Delia segera diletakkan diatas brankar dan didorong menuju ruang obgyn untuk mendapat perawatan. Seorang dokter wanita tampak menyambut kedatangan mereka.
"pak Rehan,silakan masuk pak" sambut dokter pada Rehan yang tampak mendorong brankar Delia seorang diri.
Hendra sendiri sepertinya masih berada jauh di belakang. Dia lebih dulu mengabari pada Seli tentang keberadaan mereka di rumah sakit untuk memeriksa kondisi Delia dan juga janin dalam rahimnya.
Dibantu oleh dua orang perawat,pintu ruangan dibuka lebar agar brankar dapat masuk dengan mudah. Dan ketika pasien sudah berada diruangan,dokter tersebut langsung saja melakukan prosedur pemeriksaan pada Delia.
Delia yang merasa masih sadar tentu saja merespon ucapan dokter tersebut,walau hanya dengan gerakan isyarat. Semua karena tubuhnya terasa sangat lemah,bahkan untuk sekedar mengeluarkan suara pun seolah tak sanggup. Saat ini bahkan matanya seperti enggan terbuka,dia juga merasa kepalanya sangat berat.
"maaf,saya akan memanggil dokter umum lebih dulu untuk memberi pertolongan pertama terhadap kondisi nona Delia yang lemah " izinnya pada Rehan
"memang ada apa dengan Delia,lalu bagaimana dengan anak kami?" Rehan terlihat sangat khawatir.
Dokter pun menjelaskan kondisi Delia yang lemah,dia butuh cairan untuk mengembalikan kesadarannya seperti sedia kala. Tak lupa dokter tersebut juga mengatakan kalau kondisi janin sedang sedikit tidak baik akibat kondisi stress yang dialami sang ibu,tapi dia memastikan kalau janin baik-baik saja.
Tak lama kemudian seorang dokter datang ke ruangan obgyn dengan membawa tas kerjanya. Tanpa banyak tanya,dia langsung melakukan prosedur pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien. Kemudian dia memanggil dokter kandungan rekannya dan mengajaknya berdiskusi sebentar.
__ADS_1
Setelah sedikit berdiskusi akhirnya pasien dibawa keluar ruangan menuju ruang perawatan yang memiliki perlengkapan yang lebih memadai. Perawat diminta untuk mendorong brankar menuju ruang gawat darurat agar pasien segera bisa mendapat penanganan yang tepat.
Diruang gawat darurat,pasien dipindah brankar. Sebuah kantong berisi cairan infus dikeluarkan dari tempat penyimpanan,tak lupa selang kecil dan jarum infus disiapkan beserta peralatan lain yang akan digunakan untuk pasien. Dengan cekatan seorang perawat segera memasang jarum di pergelangan tangan Delia lalu merekatkannya dengan plester khusus agar jarum tidak mudah bergeser walau pasien bergerak.
Lalu perawat yang satunya lagi langsung menggantung kantong berisi cairan infus ke atas tiang agar cairan dapat mengalir sesuai kebutuhan pasien setelah diatur tingkat alirannya. Selang oksigen juga dipasang dibawah lubang hidung pasien agar pernafasaannya lebih akurat.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan.
"untuk saat ini pasien masih dalam pengaruh obat,dan nanti baru akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah pasien sadar. Anda dan keluarga baru dipersilakan melihat pasien setelah pasien dipindahkan" ucap dokter tersebut panjang lebar menjelaskan.
"kalau begitu saya tinggal dulu" pamitnya pergi.
Rehan kembali duduk di bangku yang disediakan di depan ruang gawat darurat. Dia hendak memberi kabar pada mamanya melalui telepon,tapi dia tak bisa menemukan ponsel miliknya. Beruntung,Hendra muncul dari sebuah lorong tak jauh dari tempatnya berada.
"Pa,tolong hubungi mama sekarang juga. kita harus mengabari keadaan Delia sekarang,Rehan yakin saat ini mama sedang sangat mengkhawatirkan keadaan Delia" pinta Rehan.
Hendra pun menuruti dan langsung melakukan panggilan telepon pada Seli istrinya. Tak butuh waktu lama,panggilan langsung dijawab.
"halo ma,ma ini Rehan. Mama gak usah khawatir,Delia sudah ditangani oleh dokter,dia sekarang sedang tidur karena pengaruh obat" ucapnya langsung mengatakan kondisi Delia saat ini.
Diseberang sana,mama Seli menghembuskan nafas lega karena Delia sudah mendapat penanganan dan keadaannya baik-baik saja. Dia beralih ke kamar anak dan menantunya untuk melihat kondisi menantunya. Sejak peristiwa penculikan Delia malam itu,secara perlahan tubuh Leny mulai bisa merespon rangsangan yang diberikan dari orang disekitarnya. Hanya saja saraf otaknya masih terlalu lemah untuk memberikan respon.
__ADS_1