Rahimku Untuknya

Rahimku Untuknya
Fitnah


__ADS_3

"aku...."


Delia belum sempat melanjutkan kalimatnya,tangannya sudah digenggam erat oleh Bagas. Pemuda itu berlutut didepannya,menatap penuh harap pada Delia.


"maaf,.....tapi...aku gak bisa " jawab Delia sambil membuang muka dan berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Bagas.


Bagas bangkit dan beringsut duduk di kursi yang berada di samping Delia yang dipisahkan oleh sebuah meja kayu berbentuk lingkaran. Untuk beberapa saat keduanya terdiam,sampai kemudian terdengar dering telepon dari dalam rumah.


"aku angkat telepon dulu" pamitnya menunjuk ke dalam rumah lalu bergegas masuk untuk mengangkat telepon yang terus berdering dengan nyaring.


"halo" sapa Delia menempelkan gagang telepon di daun telinganya.


Keningnya berkerut,alisnya saling bertautan satu sama lain perpaduan perasaan kaget dan heran.


"ada apa tante ?"


"tante sekarang ada dimana ?"


"tunggu !!, Delia kesana sekarang juga. Tante jangan kemana-mana !!" ucapnya mengakhiri pembicaraan lalu meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.


Dia lalu berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu dan segera memakainya lalu mengambil tas di kasur dan menyampirkannya di bahu sebelah kiri,tak lupa mengganti sandal jepit bututnya dengan sepatu flat warna coklat dengan hiasan pita putih dibagian depan.


"maaf,kali ini aku harus merepotkanmu,tolong antarkan aku ke cafe Wanalara sekarang juga. Keadaan darurat " Delia meminta bantuan pada Bagas setelah mengunci pintu.


Bagas yang awalnya hendak bertanya pun mengurungkan niatnya ketika Delia sedikit panik dan mengatakan ada keadaan darurat. Ia segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan dari halaman rumah Delia. Setelah Delia mengunci pagar rumahnya,dia membuka pintu depan mobil dan duduk di jok mobil di samping kemudi.


Setelah Delia menutup pintu,Bagas pun bergegas menginjak pedal gas dan langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang tadi sudah disebutkan oleh gadis itu.


Mobil warna merah milik Bagas telah melaju di jalanan. Suasana sedikit lengang karena kebanyakan orang masih sibuk di tempat mereka beraktifitas. 2 orang di dalam mobil saling diam. Delia sibuk melihat pemandangan dari kaca mobil sambil menetralkan kegelisahannya. Dia tak berniat mengabaikan Bagas kali ini. Saat ini dia ingin cepat sampai di cafe untuk bertemu seseorang.


Bagas masih fokus dengan setir kemudinya,tapi sesekali matanya mencuri pandang pada gadis yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Dalam waktu kurang dari 15 menit mobil mereka sudah sampai di tempat tujuan. Delia mengucapkan terima kasih pada Bagas dan segera berlari masuk ke dalam cafe.


"maaf,dimana bu Seli ?" tanya Delia pada seorang pelayan.


"nona ada perlu apa ?" pelayan itu tak menjawab pertanyaan Delia dan malah balik memberi pertanyaan.


Delia pun menjelaskan siapa dia dan hubungannya dengan atasan mereka. Setelahnya pelayan itupun mengantarkan Delia ke sebuah ruangan yang terletak di lantai 2 paling ujung lorong cafe.


tok tok tok


"tante,ini aku Delia" Delia mengetuk pintu di depannya.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya langsung memeluknya sambil terus menangis terisak hingga tak bisa berbicara satu patah kata pun.


Delia merespon dengan mengelus punggung bu Seli lalu mengajaknya untuk menenangkan diri dulu. Delia menuntun Bu Seli masuk ke dalam dan mendudukkannya di kursi lalu memberikan minum padanya.


Wanita itu menerima gelas berisi air dari tangan Delia dan menenggaknya sampai habis tak bersisa. Kemudian dia meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja. Perasaannya sedikit lega dengan kedatangan Delia disana.


"suami tante di fitnah,Del. hiks hiks " jawab bu Seli terbata dengan sisa² isak tangis yang masih terdengar.


Delia mengerutkan keningnya.


"fitnah ?" "maksud tante gimana ?" tanya Delia lagi


Suami Bu Seli adalah seorang akuntan keuangan di sebuah perusahaan besar bertaraf internasional,dia menjabat di sana sudah berpuluh-puluh tahun lamanya,dan selama itu pula beliau sama sekali tidak pernah berlaku curang pada perusahaan tempat beliau bekerja. Tapi semenjak beberapa bulan ini,bagian administrasi dan keuangan menemukan gejala kecurangan dari laporan keuangan perusahaan. Penyidikan di lakukan,tim investigasi menemukan bukti berupa tumpukan uang kertas yang disimpan dalam sebuah kotak perkakas terdapat di lemari kerja suami bu Seli. Karena barang itu,suami bu Seli digelandang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait bukti yang sudah ada. Hendra harus mempertanggung jawabkan perbuatannya,paling tidak sampai diketahui siapa pemilik sebenarnya kotak uang tersebut.


"ini bukan kasus yang mudah,tapi aku bakal berusaha bantu tante,tante tenang ya ?! " bujuk Delia yang enggan melihat wanita didepannya terus menangis karena suaminya harus mendekam di penjara sampai berapa lama.


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu,dia pun segera mengintip keluar apakah mobil merah Bagas masih terparkir disana ?


ternyata mobil tersebut masih ada di depan cafe,Bagas juga masih setia menunggu dengan duduk di atas kab mesin mobil sambil memainkan gawai di tangannya.

__ADS_1


"tante,Delia pamit dulu ya,masih ada urusan lain sama temen" pamitnya hendak pergi.


Dia mau menyelesaikan urusannya dengan Bagas.


Seli awalnya bersikukuh menahan agar Delia tidak pergi,tapi Delia terus memohon hingga akhirnya wanita itu pun luluh dan membiarkan Delia pergi meninggalkan cafe.


Dilain tempat,seseorang sedang terlibat percakapan dengan seseorang melalui telepon. Wajah sumringah terpancar jelas.


"aku yakin Hendra Gunawan yang terhormat itu akan mendekam dalam penjara dalam waktu yang lama,hahaha" gelak tawa mengakhiri kalimatnya.


Tak lama setelah dia meletakkan ponselnya di meja,beberapa orang masuk ke dalam ruangan dengan cara mendobrak paksa ruang yang awalnya sudah dikunci tersebut.


Muncul beberapa orang menodongkan senjata api ke arah mereka. Pria itu tampak ketakutan dan berlindung di balik tubuh seorang wanita muda yang berusaha menutupi wajahnya karena malu sekaligus takut dengan senjata api yang mengarah padanya.


"sis si ap pa kalian sssemua ?" tanya si pria yang setengah bugil terbata.


Lalu masuk seorang pria dengan wajahnya yang tegas. Pria itu tampaknya berumur jauh di bawah pria yang saat ino bersembunyi di balik seorang wanita sewanya.


Virgo nama pemuda itu,dengan wajahnya yang tampan orang tak akan mengira kalau dia bisa bertindak kasar ketika berhadapan dengan bajingan seperti pria mesum di depannya.


"berani-beraninya kau mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang kau buat Johan,dan lagi....kau gunakan uang itu untuk perbuatan menjijikkan ini" Virgo mencengkeram erat dagu pria yang ternyata bernama Johan.


Wanita yang tadi dijadikan tameng oleh Johan sudah disuruh keluar dari kamar oleh Virgo dengan hanya satu gerakan tangan. Tak mau mati konyol,dia segera memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kamar hotel dan segera memakainya lalu ambil langkah seribu dan melarikan diri dari sana. Sialnya,bahkan dia belum sempat menerima pembayaran dari Johan.


Johan masih tegang,sebuah senapan menempel di ujung kepalanya. Keringat sebesar biji jagung sudah keluar membasahi dari wajah hingga sekujur tubuhnya.


Virgo berjalan ke arah jendela, kemudian dia kembali berjalan mendekat ke Johan.Dia mengangkat tangannya yang mengepal keras dan menjatuhkan beberapa tinju ke wajah Johan dengan membabi buta. Wajah Johan sudah lebam-lebam,bahkan dari mulutnya keluar darah segar. Pria itu sudah tak berdaya. Tubuhnya tersungkur jatuh ke lantai.


"setelah kau melecehkan banyak wanita,kau membuat fitnah untuk pamanku,lalu kau......" kembali bogem mentah ia lancarkan hingga akhirnya Johan terkapar tak sadarkan diri.


Pria itu pergi setelah sebelumnya memerintahkan anak buahnya untuk menghubungi manager hotel untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

__ADS_1


__ADS_2