Rahimku Untuknya

Rahimku Untuknya
Akhir Kisah


__ADS_3

30 menit pun berlalu. Delia tak juga membuka mata. Dokter yang tadi datang memeriksa kondisi terakhir Delia kembali mendatangi ruang perawatan gadis itu. 2 perawat ikut bersamanya langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien.


"suhu tubuh normal,cenderung dingin"


"detak jantung semakin melemah"


"akurasi oksigen dalam tubuh menurun"


"bola mata memucat"


"kutikula kuku mulai menghitam"


2 perawat tersebut bergantian melaporkan keadaan Delia sesuai hasil pemeriksaan mereka masing-masing pada dokter. Tak lama berselang datang 2 dokter lain menyusul masuk ke dalam ruangan Delia. Setelah sedikit berdiskusi,mereka memutuskan memberi tindakan pijat jantung upaya untuk melancarkan peredaran darah yang terhenti.


Satu perawat keluar dari ruangan. Ia ditugaskan oleh dokter Farel untuk menjelaskan kondisi Delia yang bisa dikatakan sangat kritis.


"Dengan keluarga pasien Delia" tanyanya membawa kertas berisi laporan catatan hasil pemeriksaan Delia.


"Saya" Leo maju lebih dulu tapi kemudian ia kembali mundur dan ganti Rehan yang maju.

__ADS_1


"maaf,saya wali pasien" ucap Rehan.


"baik,jadi begini pak ........" perawat tersebut menjelaskan kondisi terakhir Delia.


Perawat tadi mengajak Rehan agak menjauh dari anggota keluarga yang lain. Walaupun begitu,pendengaran Leo yang tajam masih samar-samar mendengar apa yang disampaikan perawat kepada Rehan. Tubuh Leo merosot ke lantai,tapi sebelum jatuh ada sepasang lengan yang sigap menahannya. Bagas datang dari arah toilet.


Kini Rehan telah selesai berbincang dengan perawat. Ia terduduk di kursi saat perawat tadi kembali masuk ke dalam ruangan. Suami dari Leny Diandra itu sangat syok setelah mendengar penjelasan dari perawat,ia masih tak percaya kalau sahabatnya sudah tiada demi menyelamatkan nyawa buah hatinya untuk bisa terlahir ke dunia. Rehan merasa sangat bersalah terhadap Delia.


"Sebenarnya ada apa ?" tanya Bagas pada Rehan yang terlihat masih cukup sadar untuk memberikan penjelasan dibandingkan keadaan Leo yang terlihat sangat terpukul. Rehan mengacak rambutnya seperti orang frustasi kemudian mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuang nafas besar melalui mulut setelah lebih dulu menahannya selama beberapa detik.


Belum sempat Rehan membuka mulut,pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam. Rehan,dan Bagas langsung menyambut dokter,disusul kemudian Leo yang melangkah dengan lemah,mereka bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh seorang yang berprofesi sebagai tenaga medis tersebut.


"Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien,tapi maaf karena Tuhan berkehendak lain. Pasien meninggal setelah menyampaikan pesan terakhirnya " ucap dokter bernama Farel lalu memberikan ponselnya yang berisi sebuah rekaman suara kepada Rehan. Rekaman diputar oleh Rehan. Leo dan Bagas turut mendengarkan.


Kalau aku pergi nanti,jangan ada yang bersedih !! karena aku pergi ke tempat yang indah.


2 perawat keluar sambil mendorong keluar sebuah brankar. Diatas brankar tersebut terdapat tubuh Delia yang sudah menjadi jasad tertutup dengan selembar kain putih. Leo menahan kereta brankar tersebut lalu memeluk jasad Delia sambil menangis tertahan. Ia tak mau melepaskan pelukannya pada jasad Delia yang akan dibawa menuju kamar jenasah. Dengan terpaksa Rehan dan Bagas menarik tubuh Leo dan menjauhkan dari brankar agar jasad Delia bisa segera di urus.


Rehan pergi meninggalkan Leo bersama Bagas menuju kamar jenasah,ia harus menemui petugas bagian pemulasaran untuk mengurus kepulangan jenasah Delia. Kabar tentang meninggalnya Delia ia rahasiakan dulu dari kedua orang tuanya yang masih ada dalam perjalanan,nanti saat sampai baru mereka akan menyampaikan kabar duka tersebut.

__ADS_1


Leny menitipkan bayinya pada petugas di rumah sakit. Ia harus pulang dan menuju pemakaman untuk memakamkan orang yang sudah berjasa padanya. Kedua orang tuanya turut mengantar Delia menuju peristirahatan terakhirnya.


Leo berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya melihat jasad Delia dalam sebuah peti mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Ia tak mau membuat gadisnya kecewa,walau sebenarnya ia sangat kehilangan sosok wanita yang berhasil mengunci hatinya.


Bagas terlihat tegar diantara yang lain,sungguh ia pun juga cukup kehilangan dengan kepergian Delia yang tiba-tiba. Posisi Delia masih belum tergantikan oleh wanita manapun di hatinya.


Hadir pula beberapa orang yang pernah mengenal Delia. Diantaranya bu Nirmala,bu Dian,Silvi dan kedua orang tuanya,beberapa dosen tempat dulu Delia bekerja sebagai asisten dosen pak Darul. Tak disangka,Joko yang sudah kembali pada orang tuanya dan sudah mulai ikut mengelola perusahaan milik papanya turut hadir disana. Hanya Damar yang tak terlihat hadir karena ia tersandung kasus pelecehan seksual.


Selamat jalan Delia Seno Wijaya,pergilah ke tempat yang indah dalam damaimu.


Semua orang yang hadir dalam pemakaman Delia larut dalam kesedihan karena kehilangan sosok Delia yang baik hati dan menyenangkan di mata mereka. Tak sekalipun Delia pernah menyakiti hati mereka.


Selesai dari pemakaman Rehan,Leny, dan kedua orang tuanya pulang ke rumah keluarga Hendra. Leo masih bertahan di pemakaman,ia masih ingin menemani pujaan hatinya yang jasadnya sudah tertimbun tanah. Begitu pun semua orang sudah pergi dari sana dan menuju rumah mereka masing-masing.


"kamu wanita yang pertama kali mengusik hatiku,lalu aku kehilangannmu. Kembali aku bertemu denganmu setelah sekian lamanya. Sejak itu aku berjanji akan selalu menjagamu walau pada akhirnya aku tak kan bisa memiliku karena Tuhan yang lebih dulu memanggilmu. Semoga kau tenang di alam sana,aku akan berusaha melanjutkan kehidupan walau tanpamu menemaniku,sampai kapanpun posisimu masih akan tetap di hati,bertahta di singgasana tertinggi dalam hati" ucap Leo panjang lebar mencurahkan segala isi di hati,memeluk nisan dengan nama Delia Seno Wijaya.


...END...


...****************...

__ADS_1


Mampir juga ke novel ku yang lain ya. Hanya istri di atas Kertas dan Gadis Mafia. Jangan lupa dukung karyaku,ya !! bye bye.


__ADS_2