
"hari ini aku libur kerja,aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat" ucap Rehan seraya merapikan rambut Delia yang masih sedikit berantakan karena belum sempat menyisir rambutnya.
Wanita hamil itupun hanya diam terpaku dengan sikap manis Rehan padanya,sampai ia tak menyadari kalau Rehan sudah berlalu meninggalkan kamarnya dan kini sudah menuruni anak tangga. Tiba di lantai 2,Rehan tak sengaja berpapasan dengan sang mama yang akan naik ke kamar Delia. Sang mama hendak memanggil Delia turun untuk mengajaknya sarapan bersama.
"Rehan,kamu dari kamar Delia ?" tanya Seli saat mereka berpapasan.
"hmm,hanya mengantarkan susu hangat untuk wanita yang sudah berjasa untuk keluargaku. Rehan balik ke kamar dulu mau mandi " jawab Rehan langsung ngibrit masuk ke dalam kamarnya.
Seli merasa bingung dengan kelakuan Rehan yang bertingkah seperti remaja yang sedang terkena serangan jatuh cinta. Seringkali wanita itu mendapati anaknya yang senyum-senyum sendiri sambil memandangi sesuatu dari dalam ponselnya,lalu saat Seli coba bertanya Rehan justru menghindar dan memilih melanjutkan kegiatannya di tempat lain.
Sedangkan di lain tempat,Bagas bersiap menuju kampus karena ada sedikit pelajaran tambahan yang harus ia sampaikan kepada para mahasiswanya mengingat kemaren dia tidak bisa hadir di kelas karena ada sebuah urusan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Sesampainya di kampus,keadaan cukup sepi karena memang sedang hari libur. Dosen muda itupun bergegas menuju kelas,ternyata semua mahasiswanya sudah menunggu.
"selamat pagi rekan mahasiswa sekalian " sapa Bagas membuat suasana kelas yang semula cukup riuh jadi sunyi seketika. Tak lagi ada yang bersuara ketika Bagas sudah memulai pelajarannya. Dibalik parasnya yang rupawan,Bagas terkenal sebagai dosen killer yang tak segan memberikan hukuman jika ada mahasiswanya yang melakukan kesalahan atau sekedar tak acuh saat dia menjelaskan pelajarannya. Tapi walaupun begitu masih banyak saja mahasiswanya yang diam-diam menaruh hati padanya.
Tak terasa 2 jam berlalu. Bagas telah selesai memberikan semua materi. Ia lantas meninggalkan kampus dan hendak menemui seseorang di sebuah cafe.
Seorang gadis cantik sudah menunggunya,ternyata Bagas terlambat 10 menit dari kesepakatan mereka.
"maaf,ada sedikit masalah di jalan,jadi aku terlambat menemuimu" ucap Bagas lantas duduk di depan gadis itu.
Seorang pelayan datang setelah Bagas melambaikan tangan memanggilnya. Pelayan tersebut memberikan sebuah buku menu pada Bagas.
"aku pesan jus orange tanpa es batu dengan sedikit gula,dan satu pancake dengan sirup mapel dengan toping gula palem " Bagas mengatakan pesanannya,dan pelayan tersebut pun dengan cekatan mencatatnya.
"ada lagi mas ?" tanya pelayan itu lagi.
Bagas melambaikan tangan sebagai tanda cukup itu saja pesanannya. Kemudian pelayan itu pun membungkuk sebentar sebelum akhirnya pergi dari tempatnya.
__ADS_1
Bagas celingukan seperti mencari seseorang.
"lalu dimana kekasihmu nona,bukankah kau bilang kemari bersama dengan kekasihmu ?" tanya Bagas sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Gadis itu tersenyum simpul.
" apa kau belum sarapan pagi ini pak dosen Bagas ?" canda gadis itu sambil sesekali melirik ke arah toilet.
"ya,aku ada kelas minggu,semalam ada sebuah insiden yang membuatku harus tidur larut malam,jadi tadi tak sempat sarapan lebih dulu karena waktu ke kampus sudah mepet" jelas Bagas panjang lebar.
"itu dia orang yang sedang kau cari" tunjuk Vania ke arah toilet dengan dagunya.
Bagas mengikuti arah tunjuk Vania,ada Rehan yang baru saja keluar dari toilet,tapi Rehan pura-pura tak melihat Bagas ada di sana,dia segera berjalan menuju ke lantai atas. Tepat di belakang Rehan ada seorang lelaki gagah yang sedang merapikan pakaiannya. Dia berjalan menghampiri Bagas dan Vania.
" bang Virgo ?" Bagas menunjuk Virgo dengan telunjuk kanannya.
"maaf lama,ternyata perutku sedikit bermasalah,mungkin karena tak terbiasa mengisi perut di pagi hari" Virgo pun lantas duduk begitu saja,dia seolah tak peduli pada adik sambungnya yang ada di sana.
Bagas memandangi Vania dan Virgo bergantian,ada pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada 2 orang di depannya.
"apa nona ini yang membuatmu menolak perjodohan yang di amanatkan mendiang mamamu ?" tanya Bagas tak lepas pandang dari Vania.
"dia kekasihku dari sejak lama,bahkan jauh sebelum papa mengatakan kalau mama sudah menjodohkanku dengan seorang gadis pilihannya,sebaiknya kau pergi dari sini kalau kau berniat ingin merayuku untuk menerima perjodohan itu " Virgo langsung mengusir Bagas setelah memperkenalkan Vania sebagai kekasihnya.
Pelayan datang membawa pesanan Bagas,lalu datang lagi seorang pelayan membawa secangkir teh beraroma jahe pesanan Virgo,sebelum dia masuk ke toilet tadi.
"papa pasti senang dengan berita ini,sebaiknya bang Virgo temui papa saat beliau pulang nanti" Bagas menyeruput jus orange,lalu mulai memotong pancake dan menyuapkan ke dalam mulutnya sepotong demi sepotong hingga habis.
__ADS_1
Sementara itu di ruang VIP yang berada di lantai atas Rehan dan Delia sudah selesai dengan sarapan mereka,tapi Rehan belum mengajak Delia pergi dari sana.
"sebaiknya kita lewat pintu belakang yang langsung menuju ke parkiran" ajak Rehan pada Delia tanpa membuat wanita muda itu curiga.
Sebenarnya ia menghindari agar Bagas tak melihat Delia disana. Dengan hati-hati Rehan menuntun Delia menuruni anak tangga,hingga sampailah mereka di lantai bawah. Rehan segera mengajak Delia masuk ke dalam mobil. Bagas melihat saat Delia masuk ke dalam mobil Rehan,tapi pria itu tak melihat dengan jelas siapa wanita yang sedang bersama Rehan saat itu.
"siapa wanita hamil itu?" gumam Bagas menatap mobil Rehan yang sudah berlalu meninggalkan area cafe.
Mobil yang dikendarai Rehan melaju di jalanan,hari libur tak banyak kendaraan lalu lalang tak seperti hari sibuk yang biasanya macet di jam-jam tertentu. Rehan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang sambil mengajak Delia sedikit bersantai menikmati suasana kota di pagi hari.
Sampai beberapa menit kemudian Rehan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko swalayan yang menjual berbagai keperluan ibu hamil lengkap beserta perlengkapan bayi dan anak ada di sana.
Rehan lebih dulu keluar dari dalam mobil,lalu berlari kecil membantu membukakan pintu untuk Delia. Delia keluar dari dalam mobil,dia berjalan perlahan mendekat ke arah toko.
"untuk apa kau mengajakku datang ke tempat ini ?" tanya Delia seperti tak suka di ajak ke tempat tersebut.
"tentu saja untuk berbelanja kebutuhanmu selama hamil dan juga untuk kebutuhan calon bayiku nanti" jawab Rehan dengan semangat.
Bukannya merasa senang,Delia justru langsung marah pada Rehan. Dia bahkan mengancam Rehan akan pergi dari sana dengan menggunakan taksi kalau Rehan masih kukuh mengajaknya masuk ke toko tersebut.
"ini bukan hal baik,justru akan mengundang bahaya untukku maupun bayi yang aku kandung ini,orang tua jaman dulu bilang pamali belanja sebelum waktunya" Delia menjelaskan dengan sedikit marah.
Mendengar itu Rehan justru tersenyum karena menganggap apa yang diucapkan Delia cukup konyol dan tak seharusnya hal tersebut sepenuhnya dipercaya karena jaman yang sudah maju.
"kalau kamu anggap ucapanku hanya mitos dan takhayul semata itu terserah,yang jelas aku sudah berkorban sampai sejauh ini demi anak ini,aku tak mau ambil resiko dan membuat pengorbananku nantinya sia-sia" Delia mencoba melepaskan tangan Rehan yang mencekalnya,dia berjalan menjauhi Rehan dan berusaha menghentikan taksi yang mungkin saja lewat.
"masuk lah,kita pulang sekarang !" Rehan meraih tangan Delia dengan lembut dan mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam mobil. Mereka akhirnya pulang ke rumah.
__ADS_1