Rahimku Untuknya

Rahimku Untuknya
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Tak terasa 3 bulan pun berlalu,Delia kini sudah mulai tinggal di loteng rumah Hendra. Keadaan perut Delia yang semakin membesar akan membuat warga sekitar rumahnya akan berfikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya. Maka diputuskan Delia segera pindah ke rumah keluarga Hendra. Sedangkan rumah Delia sendiri sudah disewakan kepada Joko dan juga Silvi. 2 saudara sepupu tetangga baik Delia ini sangat berterima kasih karena mereka sudah difasilitasi dalam mengelola usaha kecil-kecilan mereka.


Delia tidak mematok harga untuk rumahnya yang kini beralih jadi sebuah cafe bertema kekinian yang menghadirkan konsep serba antariksa kepada 2 orang yang cukup dekat dengannya. Dia hanya sedikit meminta bagi hasil dari laba operasional cafe.


Tok tok tok


Delia yang baru saja merebahkan diri karena baru selesai merapikan kamarnya terpaksa bangun untuk membukakan pintu. Ada mama Seli yang berdiri di depan pintu dengan seorang wanita paruh baya yang berdiri disampingnya membawa nampan kecil berisi vitamin penguat kandungan dan satu gelas jus alpukat kesukaannya.


"Del,kamu ngapain di kamar aja dari tadi ?" tanya Seli setelah memerintahkan ART nya masuk ke dalam kamar itu untuk meletakkan nampan yang dibawanya.


Wanita itu lalu masuk setelah mendapat izin dari si pemilik kamar,lalu setelahnya ia keluar lagi dengan tangan yang sudah kosong.


"terima kasih bi" ucap Delia berterima kasih,dia masih saja merasa sungkan setiap kali dilayani oleh ART keluarga Hendra.


Bibi pun mengangguk kemudian pamit kepada 2 orang majikannya tersebut untuk kembali ke dapur guna menyelesaikan pekerjaannya.


"masuk ma ?" Delia mempersilakan mama Seli masuk ke dalam kamarnya tapi wanita itu menolak dengan halus karena melihat raut lelah di wajah Delia. Seli berpesan agar Delia segera menghabiskan jus tadi lalu segera minum vitamin. Tak lupa wanita dewasa itu juga mengingatkan kalau dalam 1 jam lagi sudah masuk jam makan siang.

__ADS_1


Selesai dengan tujuannya,Seli segera turun ke bangunan utama. Dari tangga rumah,dia melihat kendaraan suaminya baru saja masuk ke area pekarangan rumahnya. Ia pun menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa-gesa karena ingin menyambut kedatangan suaminya yang baru datang dari luar kota untuk meninjau proyek.


Tetapi karena kurang hati-hati,saat sudah berada di 2 anak tangga terakhir kakinya tak sengaja terpeleset dan pijakannya tidak tepat jatuh di anak tangga justru mengenai tepi bagian ujung anak tangga. Akibatnya tubuh Seli terhuyung ke depan lalu kepalanya membentur pegangan tangga,hingga ia tak sadarkan diri dan tergeletak di depan tangga.


Hendra turun dari mobil dan segera berlari masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Sambil membuka pintu utama yang tertutup ia berteriak memanggil nama Seli berharap wanita tercintanya datang menyambut kedatangannya.


Dia terus berjalan masuk melewati ruang tamu. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar saat mendapati istri tercintanya tergelatak di bawah tangga. Pria itu pun bergegas meletakkan tas kerjanya di meja kecil depan kamarnya kemudian mengangkat istrinya di atas sofa panjang.


Tak lama kemudian Dokter pribadi keluarga mereka hadir atas panggilan Hendra,kedatangannya hampir bersamaan dengan kedatangan Rehan yang hanya selisih beberapa menit. Rehan sedikit heran karena melihat kedatangan dokter di rumah orang tuanya padahal ini belum waktunya untuk kunjungan rutin.


"apa ada yang sakit ?" batin Rehan sambil memasuki ruang tamu.


"bi', siapa yang sakit ya ?" tanya Rehan mengejutkan bibi yang tak mengetahui kedatangan anak majikannya karena mereka yang fokus pada Seli sampai meninggalkan urusan dapur.


Wanita tersebut mengelus dada karena terkejut baru kemudian berbalik lalu menjawab pertanyaan Rehan.


" den Rehan,itu nyonya den. Tadi katanya tuan besar nemuin nyonya udah dalam keadaan pingsan di depan tangga sana,maaf den waktu itu kami lagi pada sibuk di dapur nyiapin menu makan siang,dan setahu bibi tadi nyonya masih di loteng ngobrol sama non Delia sehabis ngasih jus sama vitamin buat non Delia" jawab wanita paruh baya yang sudah lama mengabdikan hidupnya menjadi asisten rumah tangga keluarga Hendra.

__ADS_1


Disaat bersamaan dokter telah selesai memeriksa kondisi Seli dan dinyatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka memar di dahinya hanya karena pembuluh darah yang pecah,bukan karena luka dalam yang serius. Sebelum pergi dokter sempat meresepkan obat yang harus ditebus di apotik untuk Seli.


Sementara itu Delia yang sedari tadi berada di loteng tak mengetahui perihal kecelakaan kecil yang menimpa mama Seli nya. Saat ini Delia berdiri di depan cermin,dia menatap bayangan tubuhnya melalui pantulan cermin. Dalam cermin itu ada bayangan dirinya yang dalam keadaan perut yang semakin membesar.


"hay baby,ibu Delia minta sama kamu baik-baik ya sampai kamu lahir nanti,ibu Delia yakin mama kamu nanti akan sadar dari komanya ketika mendengar suara tangismu yang memang sudah sangat dinantikan" Delia berkata pada bayi dalam perutnya di depan cermin.


Seli sudah tersadar dari pingsannya,dia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing akibat benturan. Hendra yang mengetahui kalau istrinya sudah sadar segera membantunya bangun dan menanyakan apakah keadaannya baik-baik saja.


"mama gak papa kok pa,maaf udah bikin papa jadi khawatir " permintaan maaf Seli pada Hendra sang suami.


Sementara Rehan saat ini berada di dalam kamarnya,dia baru saja selesai memandikan tubuh tubuh Leny dengan cara mengelap dengan sebuah handuk kecil yang dibasahi dengan air hangat. Tadi pagi Rehan tak sempat memandikan istrinya karena ada meeting mendadak di kantor dengan investornya dari kota Sodam.


Disisi lain,Joko kebetulan sedang libur dari pekerjaannya di toko karena sang majikan sedang ada sedikit urusan bisnis di luar kota Sonic. Dia sedang berada di warung bu Arum,menikmati segelas minuman dingin dan beberapa bungkus makanan ringan sambil menonton video streaming di hpnya.


"nak Joko masih betah melajang aja nih,padahal temennya yang seumuran sama nak Joko udah pada nikah dan bahkan ada yang udah pada punya anak " celetuk bu Arum di sela kesibukannya melayani pembeli di warungnya.


"gak tau bu,sekarang ini aku cuma fokus sama kafe aja bu,kalau udah sukses baru aku mikirin soal jodoh aku" jawab Joko dengan santainya.

__ADS_1


Bu Arum diam-diam memandang kagum pada sosok pemuda seperti Joko yang sangat rajin dan tekun dalam bekerja,walau kelihatannya santai dan selengekan tapi dia pemuda yang bertanggung jawab dan penyayang. Karena selain hidup sebatang kara,tak ada banyak orang yang tahu kalau Joko adalah lulusan sebuah universitas ternama di kota Sonic dengan IPK di atas rata-rata.


__ADS_2