
Sudah lebih dari 1 pekan Bagas berada di kota Artoz,selama waktu itu ia tak menemukan apa yang ia cari,yaitu Delia maupun info mengenainya. Harapan bertemu dengan nenek dan kakek Delia tinggal kenangan karena mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat tertimpa tanah longsor. Akhirnya Bagas hanya pulang dengan tangan kosong,tapi ada satu informasi penting yang ia dapat dari seseorang disana. Ternyata selama ini Delia berada di suatu tempat di kota Sonic. Delia sengaja disembunyikan oleh satu keluarga karena sebuah alasan.
Ketika sampai di kota Sonic,Bagas tak langsung pulang ke rumah orang tuanya,tapi justru ke sebuah hotel. Disana sedang diadakan pesta pertunangan antara Virgo dan Vania. Pertemuan di villa waktu itu adalah membahas tentang perjodohan yang harus dijalani oleh Virgo.
Virgo yang sudah mengakhiri kalau calon jodohnya adalah kekasihnya selama ini dengan lantang dan yakin langsung menyetujui perjodohan tersebut bahkan langsung mengajukan diri untuk langsung menikah saja. Tapi kedua orang tua dan keluarga dari almarhum mamanya tidak lantas setuju karena nantinya bisa menimbulkan sedikit pertanyaan yang mungkin saja akan menyudutkan kedua belah pihak,bisa saja mereka berfikir kalau telah terjadi sesuatu sehingga mereka harus buru-buru menikah.
Di pesta tersebut telah hadir beberapa kerabat dekat dari Virgo dan Vania. Bahkan kedua orang tua Vania yang sudah lama berpisah pun nampak serasi berjajar mendampingi putri mereka. Bu Arum dan Pak Adam tampak malu-malu,karena sejatinya mereka masih saling mencintai. Perpisahan mereka karena satu fitnah yang dilakukan oleh seseorang yang tak suka dengan keharmonisan keluarga mereka.
"kamu cari siapa sayang ?" tanya Virgo yang memperhatikan Vania sejak tadi seperti sedang gelisah memastikan kehadiran seseorang. Vania mengambil sebuah gelas berisi sirup manis,ia memasukkan beberapa butir es batu ke dalam gelasnya,menggoyang sebentar gelas tersebut lalu meminumnya perlahan hingga habis.
"aku nungguin bang Joko sama Silvi,aku sengaja ngundang mereka" Vania menjawab pertanyaan Virgo setelah mengelap sisa minum yang tertinggal di bibirnya.
"emang mereka siapanya kamu ?" tanya Virgo lagi.
__ADS_1
"mereka temenku dulu waktu kecil sebelum aku ikut ayah pindah dan menetap di negara Carta,sampai akhirnya ketemu kamu" jawab Vania masih celingukan.
Saat mereka semua terbuai oleh kemeriahan pesta,tak ada yang tahu kalau di rumah Hendra sedang terjadi kekacauan. 4 penjaga di gerbang utama dibuat tak sadarkan diri. Lalu beberapa orang pria berpenutup kepala masuk ke dalam rumah tersebut dengan leluasa,perlahan mengendap masuk rumah tanpa harus diketahui oleh penjaga yang siap siaga berjaga di semua sisi bangunan rumah Hendra. Sisi kanan dan kiri ada 3 orang berjaga,belakang 4 orang,dan bagian depan rumah juga ada 4 orang.
Tamu tak diundang tersebut lalu mulai menyebar masuk ke beberapa ruangan di lantai 1,sementara yang lain mulai beraksi melumpuhkan kegiatan para ART yang masih tampak masih ngobrol di ruang belakang sembari menunggu kedatangan majikan mereka pulang.
Cukup dengan 1 tembakan kapsul elektrik yang mengandung semacam obat tidur,dalam sekejap para wanita pekerja disana dibuat tertidur. Kemudian salah satu penjaga berniat hendak meminta kopi untuk menghilangkan mata kantuk pada pelayan di dapur,tapi ketika hendak masuk ke area dapur,seketika itu ia langsung tak sadarkan diri akibat menghirup asap dari dapur yang mungkin terbawa angin.
Curiga rekannya tak kunjung kembali,rekan yang lain jadi nekat menyusul. Tapi belum sampai di dapur tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap hidung dan mulutnya menggunakan kain yang sudah dilumuri dengan obat bius,sedangkan penjaga yang lain juga sudah dibuat pingsan.
Mereka lalu beranjak naik ke lantai 2 bangunan rumah Hendra. Dilantai tersebut terdapat beberapa ruangan. 2 diantaranya difungsikan sebagai kamar tidur,lalu 1 ruangan adalah ruang kerja Rehan,1 untuk gudang dan 1 ruangan yang letaknya paling ujung adalah kamar mandi. Dan ada 1 ruangan besar yang digunakan sebagai ruang bersantai sambil nonton TV.
Pintu kamar Rehan dan Leny dibuka,Leny sudah tertidur sedari tadi. Dia tak mengetahui kalau kamarnya dimasuki oleh orang-orang tak dikenal. Kalaupun tahu,tak ada yang bisa ia lakukan. Kembali mereka berbagi tugas membuka lemari dan laci untuk mencari sebuah dokumen. Mereka tak peduli ada Leny di kamar tersebut,karena mereka tahu kalau yang sedang tertidur disana adalah menantu Hendra Seli yang sedang mengalami koma.
__ADS_1
Beralih ke ruang kerja Rehan yang ada di samping kamarnya. Ruangan kecil yang hanya berukuran 2m x 3m cukup 1 orang saja yang masuk ke dalamnya. Tak butuh waktu lama,seorang yang ditugaskan masuk ke dalam ruangan tersebut lalu keluar dengan raut wajah kecewa karena tak mendapat apapun.
Lalu ketika hendak membuka kamar Delia,mereka sedikit mengalami kesulitan karena kamarnya yang dikunci dari dalam oleh Delia. Dengan sedikit usaha,kamar pun terbuka.
"Siapa wanita ini ? " batin seseorang yang berhasil masuk setelah membuka paksa kamar Delia.
Kedatangan orang tua Leo dan Leny beberapa hari yang lalu meminta agar Delia menempati lantai yang sama dengan Rehan Leny dikabulkan oleh Hendra,Seli juga Rehan. Jadi sejak saat itu Delia tak lagi tinggal seorang diri di loteng lantai 3.
Posisi tidur Delia miring ke sisi jendela kamar. Karena tak ada sedikit pun keributan sehingga Delia tak menyadari kalau dalam kamarnya saat ini ada orang lain selain dirinya sendiri.
"sepertinya wanita ini bisa jadi pancingan untuk boss memaksa mereka menyerahkan berkas yang dicarinya" ucapnya memandangi Delia yang masih nyaman dengan mimpinya.
Secepat kilat ia mengambil kain sapu tangan yang sedikit basah oleh obat bius di saku celananya kemudian menempelkannya di hidung Delia,hal tersebut ia lakukan untuk menghindari perlawanan yang mungkin saja akan Delia lakukan saat ia mengangkat tubuh Delia.
__ADS_1
Dengan tubuh gempal dan berototnya,tak butuh kesulitan untuknya mengangkat tubuh Delia walau sudah sedikit lebih gemuk untuk kemudian digendong keluar dan dibawa ke dalam mobil.
Sementara itu,Leo sejak tadi merasa tidak nyaman. Dia yang sedang menemani kliennya dari luar negeri untuk berkeliling kawasan,sesekali terlihat gelisah dan berkali-kali mengintip ponselnya. Seolah ada satu ikatan yang terhubung,keadaan Delia dalam bahaya dapat dirasakan oleh Leo.