Rahimku Untuknya

Rahimku Untuknya
Kritis


__ADS_3

POV Delia


Aku termenung sejenak menerima panggilan telepon dari nomer yang ku kenal. Beliau adalah bu Dian sahabat lama almarhum ibu. Tapi aku tepiskan rasa itu kemudian aku mengangkat telepon yang sedari tadi terus bergetar di dalam saku celanaku.


"halo,iya bu Dian,ada apa ?" tanyaku menjawab telepon.


"ehm,ya maaf. Saya hanya ingin memberitahukan kalau suami saya tidak bisa hadir mengajar karena sakit lambungnya kambuh" jawab seorang wanita yang kukenal sebagai bu Dian.


Aku pun hanya mengiyakan dan setelahnya aku segera mengantongi ponsel milikku ke dalam saku celana. Lalu berjalan menuju meja dosen untuk memberikan kabar kalau hari ini dosen mereka tidak bisa hadir dikarenakan beliau sakit,tak ada yang ku kurangi ataupun kutambah-tambahi mengenai kondisi dosen.


Seluruh mahasiswa bersorak girang karena seharusnya hari ini adalah jadwal mereka evaluasi projek. Tanpa banyak tanya aku pun mempersilakan mahasiswa pak Darul untuk pulang,tak lupa aku mengingatkan kalau 2 hari lagi mereka ada jadwal mata kuliah pak Darul.


Kelas menjadi sepi karena semua mahasiswa memilih pulang. Tinggal aku seorang yang masih berada dalam ruangan yang berukuran sekitar 5x8 meter persegi tersebut. Sambil mengemas kembali buku-buku di meja pengajar,pikiranku berkelana memikirkan ada hubungan apa antara Pak Darul dengan bu Dian.


Aku memang tak begitu faham tentang kehidupan pribadi teman-teman ibu,tapi sejauh yang aku tahu memang antara Bu Dian dan bu Nirmala sering kali terjadi perselisihan. Dulu saat dua orang itu berselisih,ibu selalu jadi penengah agar keduanya bisa menyelesaikan masalah mereka hingga tak terjadi perpecahan. Menurut ibu dulu,bu Nirmala sering kali merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki bu Dian semasa muda,tapi disisi lain bu Dian juga iri dengan bu Nirmala yang punya segalanya.


Bu Nirmala punya wajah yang manis walau kulitnya sedikit gelap,dia anak pengusaha properti terkenal di kota Gloria. Sedangkan bu Dian adalah seorang anak yang hanya dibesarkan oleh keluarga pamannya. Tentang kemana orang tuanya hanya keluarga mereka yang tahu.


Teeeeet,bunyi bel panjang berbunyi. Pertanda sudah waktunya untuk istirahat. Aku melihat scedhule di buku catatan kecil yang selalu ku bawa dalam tas kerjaku. Ku lihat jadwalku hari ini tidak begitu padat,semua jadwal ku terpaksa di tunda karena pak Darul berhalangan hadir. Aku pun teringat pesan yang dikirim oleh Rehan.


"sebaiknya aku segera menemuinya" fikirku bergegas memesan sebuah ojek online pergi ke rumah sakit.


Tak lama kemudian,sebuah notif masuk di hp ku. Memberitahukan bahwa driver sudah ada di depan kampus. Aku pun bergegas mendatangi driver dan segera berangkat ke rumah sakit.


"dengan nona Delia Putri ?" tanya driver ojek padaku


"iya,pak Abdul"

__ADS_1


"silakan pakai dulu helm nya mbak,sesuai titik ya kak ?" awalnya dia memanggilku nona,lalu mbak,kemudian berubah lagi jadi kak,terserah dia saja lah.


Ngengggggg. Motor pun melaju di jalanan. Seketika panas dari aspal yang menguap terkena sinar matahari terasa panas mengenai tubuhku. Panas,debu,polusi jadi satu. Ditambah sinar matahari yang begitu terik mengenai wajah dan kepalaku sepertinya ini bukan apa-apa dibanding dengan orang-orang yang harus berjibaku sepanjang hari bekerja di bawah terik matahari yang sangat terik.


Kupejamkan mataku sejenak untuk bersyukur dengan profesiku,walaupun hanya sebagai asisten dosen tapi nasibku jauh lebih baik dari mereka yang mengadu nasib di jalanan,berpanas-panasan,kadang juga harus kehujanan.


"sudah sampai kak " ucap driver menyadarkanku.


Aku turun dari motor lalu melepas helm yang ku pakai dan mengembalikan pada driver. Ucapan terimakasih tak lupa ku sampaikan padanya karena sudah mengantarku sampai tujuan.


Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam bangunan rumah sakit yang bergedung tinggi menjulang bak bangunan hotel berbintang. Melewati sebuah pintu yang sudah dilengkapi dengan alat deteksi.


Tringggg tut tut tut


Tubuhku sukses di pindai,seorang petugas tersenyum ramah pada setiap pengunjung termasuk aku. Ku balas senyuman itu dengan sedikit anggukan sebagai apresiasi pekerjaannya.


"bukannya itu pak Darul,tapi dengan siapa beliau ?" gumamku sendiri.


Pintu lift terbuka,rupanya lift dalam keadaan penuh. Kami yang mau masuk ke dalam lift pun menunggu sejenak sampai orang keluar lebih dulu,baru setelah itu giliran yang masuk. Tapi saat aku hendak masuk ke dalam lift,seseorang memanggilku.


"Kak Delia !!"


Aku pun urung melangkahkan kakiku masuk ke dalam lift,aku menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Sementara pintu lift belum tertutup karena mereka masih mengira kalau aku akan ikut naik lift,tapi aku menangkupkan kedua tangan ku di depan dada dan mempersilakan agar menutup pintu lift.


"Kak Delia !! "


suara itu terdengar lagi olehku,tapi mataku belum menemukan siapa yang memanggilku. Kulihat di posisi pak Darul tadi berada sudah tak ada,lalu kembali ku sapukan pandanganku ke sekitar ruangan. Sampai kemudian ada tangan yang menepuk pundakku.

__ADS_1


"ahh" ucapku terkejut


"kamu kak Delia,asistennya papa kan ?" tanya seorang gadis padaku.


Aku mengangguk lalu menggeleng dalam satu waktu membuat gadis itu jadi bingung juga dengan tingkahku. Maksud anggukanku adalah iya aku adalah Delia,lalu aku menggeleng karena aku belum tahu siapa papa anak itu.


"kenalin,aku Selvi. Anak bungsu pak Darul Ilyas. Aku lagi nemenin papa berobat kak disini" tangannya terulur padaku.


Aku menyambut uluran tangannya dan kami sama-sama bersalaman. Gadis bernama Selvi itupun menjelaskan padaku kalau dia adalah anak bungsu dari pak Darul Ilyas. Aku hanya tersenyum menerima ucapannya.


"jadi pak Darul beneran sakit ?" tanyaku memastikan,dijawab dengan anggukan kepala oleh Selvi.


Jam tangan di pergelangan tanganku sudah menunjukkan jam 11 siang,aku menepuk jidat karena sempat lupa akan tujuanku datang ke rumah sakit ini. Yaitu untuk menemui Rehan.


Dan tanpa buang waktu lagi aku pamit pada Selvi dengan alasan ada sedikit urusan.


Kembali aku menunggu di depan lift berdiri bersama beberapa orang yang juga akan menaiki lift. Tak lama berselang pintu lift pun terbuka,segera aku masuk ke dalamnya.


Dalam lift ada beberapa tombol lantai yang akan dituju. Aku menekan angka 6,lantai dimana terdapat Leny dirawat. Hampir tiap lantai lift berhenti,lalu pintu lift terbuka. Ada yang keluar ada juga yang masuk.


Tak sampai 5 menit,lift berhenti di lantai 6. Pintu lift terbuka,aku bergegas keluar. Berjalan dengan cepat aku menyusuri lorong ruangan yang agak sepi karena memang ruangan itu adalah ruangan para pasien dari kalangan ke atas sehingga suasana pun sudah pasti jauh dari kata berisik.


Ketika aku sampai di ruang VIP kamar Kenanga,kulihat perawat berlarian membawa alat pacu jantung dan entah alat apa lagi namanya. Dari kejauhan aku melihat seorang pria yang berdiri di depan ruang VIP kamar Cempaka. Berusaha mengintip dari sebuah kaca kecil yang ada di pintu,sambil air mata yang terus mengalir keluar dari ujung matanya.


"Han ?" aku menepuk bahunya,seketika dia pun memelukku dan meluapkan segala keluh kesahnya padaku.


Rehan menangis sesegukan dalam pelukanku mengatakan kalau Leny kembali kritis,sebagai seorang sahabat aku merasa sangat iba pada Rehan dengan apa yang ia alami.

__ADS_1


__ADS_2