
2 minggu berlalu,Delia sudah kembali ke kampusnya. Tapi bukan untuk kembali bekerja sebagai asisten Pak Darul,seorang dosen kesenian dan budaya daerah. Kedatangannya di kampus mendapat sambutan hangat dari para dosen dan juga rekan seprofesinya.
"miss Delia hilang kemana aja,2 minggu baru nongol sekarang ?" tanya seorang rekan asisten
"saya ada sedikit urusan lain,maaf kalau saya banyak merepotkan selama saya izin kemaren" Delia menunduk meminta maaf.
Delia segera mengemasi barang-barang miliknya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kardus yang ia siapkan sebelumnya. Melihat itu mereka yang ada di sana pun kembali menatap aneh pada asisten cantik tersebut.
"miss Delia mau kemana,kok beres beres ?"
"eh,saya akan pindah ke luar kota,tante saya dari kota Prada minta saya buat pindah ke sana" jawab Delia sambil terus sibuk mengemasi barang.
Setelah beberapa menit Delia sudah selesai berkemas,suasana ruangan sudah sepi. Delia menatap ke seluruh penjuru ruangan,disana biasanya dia berbagi cerita dan canda tawa dengan para dosen dan sesama asisten dosen. Mulai hari ini dia akan kehilangan momen itu.
Kotak kardus itu diangkatnya sambil berjalan menuju pintu. Tapi belum sampai menyentuh pintu,pintu itu terbuka. Seorang pemuda seumuran Delia masuk,dialah Bagas.
"miss Delia" sapa Bagas ingin membantu Delia yang terlihat kerepotan membawa barang bawaannya.
"maaf pak Bagas,saya buru-buru" Delia pun langsung buru-buru mundur kemudian melanjutkan langkahnya.
Bagas hanya bisa memandangi punggung Delia hingga menghilang dari pandangan. Dia bahkan tak sempat sedikit berbincang dengan gadis itu. Padahal rencananya dia mau minta maaf karena sikapnya yang sudah berani menyatakan perasaannya pada Delia. Sedangkan dia sendiri juga tau kalau di hati gadis itu hanya ada satu nama.
Rehan keluar dari dalam mobil lalu berlari menghampiri Delia yang kerepotan membawa kardus besar dalam gendongannya.
"kamu kok gak nelpon aku sih,biar aku bantu bawakan barang-barang kamu. Inget,dalam perut kamu ada yang harus kamu jaga. Kamu gak boleh kerja berat,apalagi angkat-angkat kayak gini,bisa bahaya tau gak" Rehan mengomeli Delia karena sudah bertindak ceroboh.
Rehan meletakkan barang di bagasi mobil yang terletak di bagian belakang. Setelahnya,dia masuk ke dalam kursi pengemudi dengan Delia duduk di sampingnya.
Rehan mendekatkan tubuhnya ke Delia,sabuk pengaman yang tadi sudah dipasang dibuka kembali. Delia sedikit mundur untuk menghindari Rehan. Jarak tubuh keduanya kini hampir tak berjarak. Delia sudah tak bisa mundur lagi. Diapun reflek memejamkan mata karena mengira Rehan hendak menciumnya.
__ADS_1
Klik klik
"sudah" ucap Rehan yang ternyata hanya membantu Delia memasang sabuk pengamannya.
Dia kemudian memasang sabuk pengaman miliknya sendiri,kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya dan segera menggeser posisi persneling mobil. Sementara Delia perlahan membuka matanya karena tak merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dia sedikit malu karena sempat berfikiran yang bukan bukan.
Bagas terdiam di meja kerjanya. Tangannya memainkan sebuah pulpen yang ia putar seperti baling-baling sambil sesekali mengetuk ketukkan jarinya di atas meja. Pandangannya menatap ke meja dimana biasa Delia bekerja.
"pak Bagas" sapa pak Darul mengejutkan Bagas yang sedang asyik melamun.
"eh iya pak" jawab Bagas sedikit gugup ketahuan melamun.
Dua pria berbeda generasi ini pun terlibat perbincangan. Pak Darul yang sedikit sudah mengenal Delia mencoba mengutarakan pendapatnya mengenai mantan asistennya itu. Menurut pak Darul,Delia gadis yang cukup menyenangkan tapi dia juga merupakan gadis yang penuh dengan rahasia. Sulit untuk bisa memasuki kehidupannya.
Walau terus menghindar tapi dari gelagatnya pak Darul faham kalau telah terjadi sesuatu diantara pak Bagas dengan Delia,tapi pak Darul enggan menyimpulkan secara sepihak. Sebagai seorang yang lebih senior dia hanya memberikan nasehatnya agar Bagas tak salah mengambil keputusan yang akhirnya akan meninggalkan penyesalan.
Rehan dan Delia sudah sampai di rumah Delia. Mereka kini sedang duduk di teras rumah ditemani dua cangkir teh di meja dan sepiring kue kering yang semalam dibuat oleh Delia disaat dia mengerjakan orderan dari pelanggannya.
"aku fikir kamu sebaiknya tinggal saja di rumah kami,selain aku bisa mengawasimu dan bayi kami yang sekarang ada dalam perutmu,juga untuk menghindari adanya fitnah dari orang-orang karena perutmu ini nantinya semakin lama akan semakin besar" oceh Rehan mengajak Delia tinggal di rumahnya.
Delia tersenyum menanggapi.
"aku akan tinggal disini dulu untuk sementara,nanti ada saatnya aku akan tinggal disana. Jangan khawatir !" Delia kukuh tetap bertahan di rumahnya.
Rehan tak bisa memaksa,terlebih Delia sudah banyak membantunya. Jumlah uang yang ia keluarkan untuk melunasi tunggakan hutang Delia bahkan tak seberapa dibanding yang sudah Delia korbankan untuknya. Bahkan demi menampung janin bayi mereka,Delia mengorbankan perasaannya.
Keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Rehan terus memandangi gadis didepannya dengan tatapan kagum. Sementara Delia saat ini sedang fokus dengan benda pipih yang berada di tangannya.
"kamu kenapa liatin aku kayak gitu ?" tanya Delia yang menyadari kalau sedari tadi sahabatnya itu terus memperhatikannya.
__ADS_1
Rehan menghindar,dia segera mengangkat gelas dan menghabiskan teh miliknya lalu berpamitan kembali ke kantor beralasan ada yang harus ia kerjakan. Seperti biasa sebelum pergi ia menyempatkan diri menyapa calon bayinya yang berada di dalam perut Delia.
"nak,kamu baik-baik ya di dalam sana,jangan bikin bunda Delia repot,jangan rewel. Papa tinggal dulu,nanti kita ketemu lagi,bye "
Setelahnya ia pun mengambil kunci mobil dan langsung masuk kedalam. Tak lupa ia memperingati Delia agar jangan sampai kelelahan. Delia mencebik kesal karena merasa seperti anak kecil yang tak tahu jaga diri. Tapi disisi lain dia juga bahagia karena sikap Rehan padanya yang tetap manis sejak dulu.
Sampai mobil Rehan hilang dari pandangan,Delia hendak masuk ke dalam rumah setelah menutup kembali pintu pagar rumahnya. Tapi baru beberapa langkah dari pintu pagar,suara klakson berbunyi.
"ada apa lagi ?" Delia mengira Rehan yang balik lagi.
Dia menoleh ke arah jalan,ternyata Bagas yang datang dengan mobil merahnya. Bagas turun dari mobil dan mendekat ke arah pintu pagar. Sementara Delia kembali ke arah pagar dan membukakan pintu untuk tamunya.
"masukkan dulu mobilmu,kita bicara di sana !" ajak Delia dengan ramah.
Bagas pun menuruti dan bergegas masuk ke dalam mobilnya kembali lalu memarkirkan kendaraan miliknya di area pekarangan rumah Delia. Delia sudah berjalan masuk ke arah teras setelah menutup pintu pagar. Bagas segera menghampirinya.
"duduk !, oh ya kamu mau minum apa ?" Delia menyambut tamunya dengan sangat ramah.
Bagas menolak,dia mengajak Delia duduk saja.
"tak perlu repot-repot,aku hanya ingin berkunjung dan menanyakan sesuatu"
"terima kasih sudah mau berkunjung ke rumahku. oh ya apa kamu gak ada jadwal ngajar ?" tanya Delia setelah ia mengucapkan terima kasih.
Bagas terus menatap wajah Delia yang terlihat sangat cantik dimatanya,dari dulu belum ada yang bisa menggantikan posisi Delia di hatinya.
"kenapa kamu menghindariku ?" tanya Bagas tiba-tiba.
"aku........"
__ADS_1