Rahimku Untuknya

Rahimku Untuknya
Rahasia


__ADS_3

"ah,ya. Aku akan memanggil mama dan papa,kebetulan mereka juga ingin mengatakan sesuatu padamu,mereka masih di dalam kamar" Leo bertingkah gugup dan sedikit kikuk dihadapan Delia,hal tersebut membuatnya sedikit terhibur hingga sudut bibirnya tertarik ke samping dan membentuk lengkungan senyum yang cukup menawan di mata Leo.


Senyuman itu akhirnya dapat kulihat lagi. Setelah sekian lama,baru kali ini aku bisa melihatnya lagi. Senyuman yang telah membuatku jatuh hati dan tak bisa berpaling pada senyuman lain.


Sementara itu di kampus,Bagas sedang duduk di depan Pak Darul. Dia berkonsultasi dengan dosen seniornya tentang rencananya untuk menyusul Delia ke kota Artem.


"sebaiknya kamu datangi dulu,ngobrol hal-hal ringan,jangan langsung menjurus menyatakan perasaan. Delia bisa saja sedang dekat dengan seseorang disana,biar bagaimanapun kamu juga perlu menghargai keputusannya"sedikit nasehat pak Darul pada Bagas. Bagas mengangguk perlahan. Ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh seniornya.


"ya sudah,kalau kamu memang berniat ke sana sebaiknya dari sekarang kamu segera urus izin cutimu,karena di minggu depan sudah tidak ada kesempatan lagi,kita semua akan sibuk" kali ini pak Darul sudah bersiap menuju kelasnya untuk mengajar.


"oh ya,pak Bagas dapat salam dari Cintia putri bapak. Dia ngefans sama bapak,walau bapak adalah dosen terkiller di kampus " ucap pak Darul saat sudah siap membuka pintu.


Bagas melongo mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pak Darul,dirinya tak menyangka kalau selama ini terkenal sebagai dosen killer di mata para mahasiswanya,bahkan dirinya sendiri juga sering kali menerima bingkisan dari mahasiswa yang diam-diam mengidolakannya.


Sepeninggal pak Darul,Bagas lalu pergi ke ruang dekan untuk mengurus izin cuti. Tak ada kesulitan bagi Bagas untuk mendapatkan cutinya,beberapa menit di dalam ruang dekan,Bagas keluar lagi dengan wajah yang sumringah walau senyumnya samar membawa selembar kertas di tangannya.


"aku harus bersiap dari sekarang " ucap Bagas yakin.


Dia melangkahkan kakinya menuju ruang dosen dan segera mengemasi barang-barangnya untuk ia simpan di loker selama dia izin cuti.


2 jam perjalanan udara,akhirnya pesawat yang membawa Brian dari kota Artoz mendarat dengan selamat di kota Sonic. Brian langsung disambut oleh 2 wanita yang sudah menunggu kedatangannya di ruang tunggu terminal kedatangan domestik.

__ADS_1


"kok Seli juga ikut menjemputku ?" sapa Brian setelah memberi pelukan dan ciuman singkat pada Karin,istrinya.


"kak Karin yang memintaku menemaninya,lagi pula dia bilang ada yang ingin kalian sampaikan padaku dan Hendra. Kebetulan juga kan kita sudah lama gak kumpul-kumpulseperti ini,ini juga Hendra sedang dalam perjalanan " sahut Seli menimpali panjang lebar pertanyaan Brian.


Mereka bertiga lalu berjalan keluar area tunggu menuju ke mobil online yang sudah dipesan Karin beberapa menit sebelum pesawat Brian mendarat. Tujuan utama mereka adalah vila keluarga Gunawan. Vila tersebut adalah salah satu vila yang sudah menjadi hak milik Bianca,ibu dari Virgo.


Sementara itu diwaktu yang sama secara tak sengaja Virgo bertemu dengan Hendra dalam perjalanan menuju Vila keluarga.


"apa tujuan kita sama ?" tanya Hendra pada Virgo saat mereka sama-sama turun di rest area menuju kawasan puncak. 2 lelaki yang memiliki hubungan kekerabatan paman dan keponakan itu pun terlibat percakapan ringan.


Virgo mengatakan kalau dia sendiri belum tahu tujuan orang tuanya memintanya datang ke vila,padahal belum masanya untuk menikmati liburan. Dia juga mengaku sampai mengcancel semua pertemuannya hari ini dengan beberapa klien penting perusahaan.


Disisi lain,Delia sedang berbincang dengan Rina dan Umar. Gadis itu benar-benar diperlakukan istimewa oleh kedua mertua Rehan sebagai ungkapan terima kasih mereka pada Delia. Kesempatan itu dimanfaatkan Leo untuk dapat lebih dekat dengan gadis pujaannya.


"kami sungguh-sungguh berterima kasih,entah dengan cara apa nantinya kami bisa membalas kebaikan nak Delia" Umar turut menimpali ucapan istrinya.


"om dan tante tidak seharusnya seperti ini,aku melakukan ini karena kedua orang tuaku. Mereka meninggal karena dibunuh,penyebabnya karena masalah hutang yang tak kunjung terbayar karena bunga yang mencekik dan semakin banyak. Rentenir datang hampir setiap hari bahkan setelah ayah meninggal. Keadaanku terdesak,lalu ada Rehan yang sedang butuh pendonor rahim untuk istrinya. Aku memanfaatkan situasi yang ada karena Rehan sudah berjanji untuk membayar lunas semua hutang-hutang yang ditinggalkan kedua orang tuaku. Aku tak sebaik yang kalian fikir " tanpa sadar air mata Delia mengucur deras membasahi kedua pipinya.


Tangan Leo terulur untuk menghapus butiran bening yang keluar dari sudut mata Delia. Ada perasaan sedih hinggap di hatinya melihat gadis itu menangis. Leo duduk di samping Delia,dia menyandarkan kepala Delia di bahunya,dan entah mengapa Delia pun menurut saja apa yang dilakukan Leo terhadapnya.


Tanpa mengurangi sedikitpun rasa simpati dan empatinya,Leo melarang kedua orang tuanya yang hendak membangunkan Delia yang perlahan mulai terlelap setelah puas meluapkan segala keluh kesahnya yang selama ini ia pendam sendiri,bahkan Rehan pun sama sekali tak tahu rahasia besar tersebut.

__ADS_1


...****************...


Hari sudah beranjak siang,Leo membangunkan Delia dari tidurnya. Beberapa menit yang lalu ART sudah mengatakan kalau makan siang sudah siap. Kedua orang tua Leo sudah berada di meja makan kecil. Meja makan yang memang disediakan khusus untuk tamu kalau tuan rumah sedang tidak ada ditempat.


Perlahan,Delia membuka mata. Leo membantu Delia bangkit dari tempat duduk agar membasuh wajahnya biar lebih segar.


"Ya Tuhan,aku ketiduran" ucap Delia mengusap wajahnya baru bangun tidur.


"tak apa,sebaiknya sekarang kamu cuci muka dulu biar segar" Leo menyuruh Delia.


Delia menurut,dia bangkit lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi di lantai tersebut. Dengan sabar pria berpenampilan gondrong itu menunggu di depan pintu kamar mandi hingga Delia keluar.


Tak lama pintu terbuka,tangan Leo langsung menyambut tangan Delia membantu langkahnya keluar dari kamar mandi. Delia sedikit risih diperlakukan seperti itu oleh Leo. Berbeda dengan Leo yang justru merasa bahagia dapat melakukan itu pada Delia.


"kenapa bang Leo bersikap seperti ini ke aku ?" tanya Delia tiba-tiba.


Leo diam tak menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut gadis pujaannya,dia hanya tersenyum memandang wajah gadis yang kini ada di depannya.


"gak usah mikir apa-apa. Aku hanya tidak mau kamu ceroboh karena dalam perut buncitmu ada nyawa keponakanku" Leo berdalih.


"Leo !! ajak Delia turun, kita makan siang nak !! teriak Rina dari lantai bawah.

__ADS_1


Rehan tak pulang,karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan,sebelumnya dia sudah kirim pesan ke Leo dan menghubungi kedua mertuanya untuk meminta maaf karena tak bisa menemani mereka dirumah.


__ADS_2