
" Keadaan rumah kacau,semua penjaga dilumpuhkan,dan Delia tidak ada di kamarnya" Leo nekat mendatangi Hendra dan Seli di pesta karena tak satupun ponsel mereka bisa dihubungi. Mendengar berita tersebut mereka pun segera pulang setelah lebih dulu berpamitan baik pada Brian Karin maupun pada Virgo Vania.
Saat tiba dirumah,keadaan rumah benar-benar kacau. Para penjaga sedang dalam pemulihan oleh medis yang tadi sempat didatangkan Leo sesaat setelah ia baru saja datang di rumah Hendra. Leo memang tau kalau keluarga Hendra menghadiri sebuah pesta pertunangan salah satu famili mereka,hanya saja Leo tak mengira kalau mereka berada di pesta tersebut hingga hampir larut malam.
Rehan segera berlari setelah berhasil memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Dia berlari masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai 2 rumah. Kamarnya yang jadi tujuan utama. Pun dengan Hendra dan Seli yang masuk ke dua kamar berbeda di lantai 1. Hendra langsung menuju ruang kerjanya,sedangkan Seli langsung membuka kamar pribadi.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kamar yang mereka masuki sebelumnya. Lalu sama-sama menggelengkan kepala memberi isyarat kalau tidak ada sesuatu pun yang hilang.
"apa ada yang hilang ?" Rehan berteriak sambil menuruni tangga lalu menghampiri kedua orang tuanya.
Dua orang tersebut menggelengkan kepala kompak,tapi kemudian wajah mereka berubah suram ketika melihat kamar dimana Delia biasa tidur,terutama Seli yang kini mulai mendung di wajahnya.
"jadi apa maksud mereka bertamu ke rumah kita ?" tanya Hendra sembari mengelus punggung Seli untuk menenangkan istrinya itu.
"apa mereka sengaja menculik Delia untuk mereka jadikan sandera ?" gumam Rehan berfikir keras.
Sementara keluarga Hendra yang dibuat bingung dengan apa motif mereka menculik Delia,Leo bergerak mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan Delia. Pemuda itu sangat yakin kalau Delia pasti ada di suatu tempat.
Pagi hari,Delia terbangun dari pingsannya. Cukup lama ia tak sadarkan diri. Kepalanya terasa sangat pusing akibat obat bius yang dihirupnya semalam. Delia memegangi kepalanya. Silau cahaya matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamar yang tertutupi gorden memaksanya membuka mata lebih lebar. Setelahnya ia memindai ruangan tempatnya berada.
" ini bukan kamarku,dimana aku sekarang,kenapa aku berada di sini ?" tanya Delia entah pada siapa.
Delia memejamkan mata sambil memijit kepalanya untuk sedikit menghilangkan rasa pusing yang mendera hingga perlahan lenyap tak terasa.
__ADS_1
Tak tak tak,suara sepatu menghentak lantai ruangan yang tercover oleh papan kayu. Langkah kaki mendekati ruangan. Ceklek,klek Panel kunci bergerak. Delia merasa was-was dan takut kalau orang tersebut akan menyakitinya nanti.
"siapa kamu ? jangan sakiti aku !" teriak Delia tak dapat menutupi ketakutannya.
"tenang nona,aku tak akan menyakitimu" pria berpenutup kepala menenangkan Delia.
Pria tersebut semakin mendekat hingga kini berada tepat di depan Delia,dia lalu membalikkan tubuh Delia dan mulai melakukan sesuatu.
"tenanglah nona,aku hanya akan melepaskan ikatan di tanganmu" ucap pria itu.
"aku membawakan sarapan pagi untukmu,kalau aku tidak melepas ikatan tanganmu,lalu apakah aku harus menyuapi mu ?" Delia beringsut sedikit menjauh dari pria itu,sedangkan si pria hanya diam melihat raut ketakutan yang tampak di wajah wanita yang diculiknya semalam.
Ikatan di tangan Delia sudah terlepas. Delia mengusap tangannya yang sedikit memerah karena semalaman tangannya terikat. Pria itu melangkah mendekati Delia dan langsung memegang tangannya. Ketika Delia hendak menari tangannya,pria itu memegangi dengan kuat sehingga Delia hanya bisa pasrah saja.
Ternyata pria itu mengambil kompres es lalu menempelkan di pergelangan tangan Delia yang terlihat memerah. Walau sedikit gemetar dan ketakutan tapi Delia hanya bisa membiarkan saat pria yang tak mau wajahnya terlihat oleh Delia itu berusaha menolongnya.
"aku tak akan menyakitimu,bekerja samalah dengan ku " dia coba memberikan penawaran.
Delia mengucapkan terima kasih pada pria itu. Dan hanya gumaman singkat yang keluar untuk balasan ungkapan rasa terima kasih seorang penculik pada korbannya.
"boss Erik,ada seseorang ingin bertemu denganmu " beritahu seseorang dari luar kamar dimana kini Delia dan pria yang ternyata bernama Erik tersebut berada.
Pria itu pun lalu keluar dari kamar tersebut,tak lupa lebih dulu menguncinya dari luar kamar. Delia mencoba membuka pintu tersebut,tapi usahanya sia-sia karena pintu terkunci dari luar. Ia coba cara lain,berlari ke arah jendela kamar. Hasilnya sama,karena jendela sudah dipasangi teralis besi yang kokoh. Delia menghembuskan nafas frustasi. Dia masih belum menyerah,kali ini dia menuju kamar mandi,berharap ada sedikit celah untuknya bisa melarikan diri dari sana. Tapi sekali lagi dia harus menelan kecewa karena di kamar mandi juga tak ada peluang untuknya bisa kabur.
__ADS_1
"Leo Diandra,hari masih pagi untuk bertamu ke rumah seseorang. Bukankah kita tidak sedang ada urusan,untuk apa kau datang kemari ? Erik menyapa Leo yang sudah duduk di bangku di teras rumahnya. Erik ikut duduk disana.
"aku tahu,anak buahmu dan kau yang semalam datang dan membuat kekacauan di kediaman Hendra Gunawan" Leo meletakkan sebuah liontin dengan bandul kepala rubah.
Sial,bodohnya aku hingga meninggalkan jejak. Sangat ceroboh sekali aku ini.
Erik maracau dalam hati,merutuki kebodohannya sendiri yang sudah menjatuhkan liontin miliknya di rumah Hendra semalam,dan buruknya justru Leo yang malah menemukannya.
Erik lupa kalau dalam rumah itu ada Leny. Dan Leny yang merupakan istri Rehan adalah adik kesayangan seorang Leo. Tapi Erik tak tahu menahu apa maksud kedatangan Leo pagi ini ke rumahnya. Hubungan Leo dengan keluarga juga tak sedekat itu,apa ada hubungannya dengan wanita hamil yang ia culik semalam.
"sebaiknya kita lapor polisi,aku takut sudah terjadi sesuatu pada putriku Delia juga pada calon cucuku.
Dengan keras Rehan menolak dan tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh papanya.
"bagaimana kalau penculik tersebut sampai bertindak nekat pada Delia ?" Rehan sedikit berteriak karena emosi. Rehan tak mau bertindak gegabah sehingga menimbulkan masalah yang dapat membahayakan Delia maupun kandungan di perutnya.
Sementara itu,Bagas mendatangi cafe milik Virgo dengan maksud untuk meminta sedikit bantuan pada kakak sambungnya tersebut. Usai jam mengajar Bagas segera merapikan meja kerjanya lalu memasukkan ke tempatnya sebelum berlanjut ke cafe milik Virgo.
Tuuuut......tuuuuut....tuuut. Bagas coba menghubungi Delia.
"halo,ada apa ?" sapa Virgo ketus menjawab telepon dari Bagas.
"aku butuh bantuanmu bang" sahut Bagas
__ADS_1
"temui aku di cafe,kita bicarakan disini" balas Virgo langsung menutup teleponnya.
Tanpa pikir panjang lagi,Bagas pun segera memacu motor berCC besar miliknya menuju ke cafe.