
Masih dalam keadaan yang serba kacau,Erik beserta seluruh anak buahnya dan beberapa pelayan di rumah itu digelandang ke kantor polisi. Datang sebuah mobil di rumah Erik,turunlah seorang pria dengan dandanan necis berjas biru navy dan celana bahan kain warna hitam,sepatu pantofel berhaq turut menunjang penampilan. Dia langsung mendapat penghormatan dari beberapa pria yang tadi sudah sukses membuat Erik dkk tertangkap polisi .
" boss ??" ucap seorang pria berkepala plontos pada orang yang baru keluar dari mobil.
Lalu si boss tadi mendekat ke arah Delia,dia dengan intens memperhatikan fisik Delia mulai dari atas hingga ke bawah. Memutari berkali - kali hingga membuat Delia merasa tak nyaman.
"kenapa melihatku dengan cara seperti itu,apa ada yang salah denganku ?" tanya Delia yang mulai merasa tak nyaman mendapat tatapan yang menyelidik.
Pria yang dipanggil boss tersenyum. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang melalui panggilan telepon.
"cepatlah datang,aku sudah shared loc !!" perintahnya pada seseorang yang ia telepon.
Ia lalu mematikan panggilan telepon,kemudian menghubungi seorang yang lain. Kali ini telepon agak lama,si boss sempat sedikit bercengkrama di telepon. Setelah mengakhiri sambungan teleponnya,dia kembali menghampiri Delia.
"sebentar lagi Rehan dan om Hendra akan kemari untuk menjemputmu" ucapnya.
Bagas cepat-cepat menyambar kunci motornya setelah mendapat telepon dari Virgo. Dia menggeber motor dengan laju cukup kencang menuju titik lokasi yang sudah dibagikan. Keadaan jalanan yang masih cukup lengang membuat Bagas dapat menggeber motor berCC besarnya melaju di jalanan dengan bebas tanpa hambatan yang berarti.
Disisi lain,Rehan yang sedang mengadakan pertemuan dengan seorang investor yang akan menanamkan sejumlah modal di perusahaannya terpaksa mengakhiri pertemuannya lebih cepat dari schedule setelah mendapat pesan dari sang papa kalau Delia sudah berhasil ditemukan.
Ketika dalam perjalanan menuju lokasi yang dibagikan oleh kakaknya,karena kurang fokus dengan kondisi jalanan yang lengang dia tak sengaja menabrakkan motornya pada bagian belakang sebuah mobil yang berhenti ketika lampu merah menyala. Lalu seorang pria muda turun dari kursi kemudi untuk melihat apa yang terjadi.
Bagas turut turun dari motornya lalu meminta maaf pada pria yang mengendarai mobil. Dia berkata dengan sungguh-sungguh kalau itu murni kecelakaan yang tidak ia sengaja.
"tidak perlu sampai meminta maaf secara berlebihan. Hanya goresan kecil yang masih bisa di perbaiki " ucap si pria pemilik mobil.
__ADS_1
"kita seperti pernah bertemu atau dipertemukan secara tak sengaja " ucap Bagas.
Lampu sudah menyala hijau,si pria pemilik mobil harus menjalankan kembali mobilnya sebelum mendapat amukan dari pengguna jalan yang lain. Bagas pun sudah melajukan motornya sambil mengingat-ingat pria tadi.
Sampai tak terasa dia telah sampai di tempat tujuan.
Bagas turun dari motornya,dia langsung disambut oleh seorang pria yang ia tahu adalah orang kepercayaan Virgo. Bagas pun tanpa ragu mengikuti pria tersebut. Ia melihat Virgo sudah menunggunya. Matanya menyipit melihat seorang wanita yang duduk membelakangi.
"sudah datang ?" sapa Virgo yang disambut dengan ulasan senyuman.
Virgo melihat Bagas sedari tadi melirik ke arah Delia yang duduk membelakangi. Sepertinya dia juga tahu kalau adik sambungnya itu ragu untuk menanyakan atau mungkin dia beranggapan kalau bukan urusannya.
"kamu seperti sedang memperhatikannya ?" tanya Virgo melirik ke arah Delia lalu kembali menatap manik Bagas.
Tak lama kemudian sebuah mobil terlihat parkir di halaman rumah tersebut. Dua orang pria turun dari dalam mobil. Satu pria berusia sekitar 30 tahunan,dan satu lagi mungkin hampir menginjak usia 60 tahunan.
Virgo langsung berlari menyambut kedua tamunya. Lalu menyalami pria tua itu. Bagas terlihat heran dengan sikap Virgo yang menunjukkan sikap hormatnya,bahkan pada mamanya yang sekarang sudah menjadi ibu sambungnya Virgo tak pernah melakukan itu.
"siapa bapak ini bang ?" tanya Bagas setelah memberi salam hormat pada tamu Virgo.
"kamu ?" Bagas beralih menanyakan sosok pria yang lebih muda yang baru menyusul setelah tadi ia lebih dulu menerima telepon.
Virgo pun maju dan menjelaskan situasinya. Menyebutkan bahwa si pria tua adalah adik dari almarhum ibu kandung Virgo,sedangkan pria muda itu adalah anaknya. Mereka pun kemudian saling bersalaman. Memang selama ini Bagas tak pernah tahu keluarga kandung dari pihak Virgo,dia justru lebih akrab dengan keluarga kandung dari ibunya sendiri,keluarga Karin.
Mendengar Virgo menyebut nama Hendra dan Rehan,Delia beranjak dan langsung berbalik badan. Dia berteriak memanggil Rehan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Rehaaaaaaan "
Seketika itu,semua mata langsung melihat ke arah Delia. Bagas bahkan sampai terbengong dan terlihat syok. Ternyata wanita yang sedari tadi duduk adalah wanita yang selama ini dicarinya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih begitu melihat wanita pujaannya berada dalam pelukan Rehan.
Rehan melepaskan pelukannya,dia sedikit menjauh untuk memeriksa keadaan Delia. Bagas yang melihat semua itu didepan matanya merasakan panas di hatinya. Sebuah kilat cahaya amarah nampak dari sorot mata dosen ganteng galak itu.
Disisi lain,2 orang wanita dewasa terlihat sedang terlibat dalam sebuah pertikaian. Mereka saling jambak rambut satu sama lain sambil berteriak-teriak meluapkan seluruh emosi. Orang-orang yang ada di sekitar kejadian tak ada yang berusaha memisahkan kedua wanita tersebut. Hingga drama perkelahian mereka berakhir sendirinya karena kedua kubu sama-sama kelelahan.
Mereka adalah bu Dian dan bu Nirmala. Keduanya secara tak sengaja bertemu di sebuah kedai minum yang menjadi langganan mereka saat mereka masih bersama-sama menjalin persahabatan dulu. Awalnya semua terlihat biasa-biasa saja, kedua orang tersebut masuk ke dalam kedai di waktu yang hampir bersamaan.
Sampai kemudian bu Nirmala yang secara tak sengaja melihat sekelebat bayangan bu Dian dari pantulan kaca di kedai tersebut. Bu Nirmala yakin kalau itu pasti bukan ilusi atau khayalannya semata melainkan sebuah fakta kalau rivalnya ada di tempat sesungguhnya. Maka bu Nirmala pun beranjak dari tempatnya dan mencari keberadaan bu Dian di kedai tersebut.
Bu Nirmala langsung menjambak rambut bu Dian dari belakang,lalu bu Dian pun membalas dengan tak kalah brutal menjambak rambut bu Nirmala dan terjadilah perkelahian antara 2 wanita dewasa yang notabene keduanya pernah menjadi sahabat baik.
"kau perlu menjelaskan semuanya padaku Dian !!" ucap bu Nirmala dengan nafas yang ngos-ngosan.
Keduanya kini sama-sama terduduk di lantai kedai dengan kondisi yang acak-acakan akibat pertikaian tadi.
"yah,aku memang berhutang penjelasan padamu" bu Dian menjawab,kondisinya pun tak kalah buruk dari kondisi bu Nirmala.
"tapi sebelum aku menjelaskan semuanya padamu,aku ingin minum dulu untuk melegakan tenggorokanku yang kering ini" pinta bu Dian sambil memegangi lehernya dan mengusap-usap dengan gerakan ke atas dan ke bawah.
Mereka sama-sama saling bantu berdiri dan duduk di sebuah kursi sofa tak jauh dari posisi mereka saat ini. Mereka memanggil pelayan kedai dan kemudian keduanya sama-sama memesan sebuah minuman yang biasa mereka pesan saat dulu.
"es kacang merah tanpa sirup gula" seru keduanya tak disengaja.
__ADS_1