
"cantik " gumam Leo mengagumi kecantikan Delia.
Setelah pagar terbuka Leo dan Delia lebih dulu masuk ke dalam rumah,sementara Rehan lebih dulu memarkirkan mobilnya masuk ke dalam garasi. Ia pun bergegas menyusul langkah Leo dan Delia yang lebih dulu masuk.
Tuan rumah berjalan ke depan untuk menyambut tamunya,mereka sedikit kaget dengan kedatangan Delia yang bersama Leo,bukan Rehan.
"nak Leo,nak Delia" sapa Hendra pada kedua tamunya.
Delia sedikit berlari lalu meraih tangan kanan dua orang itu dan menciumnya. Hal yang sudah biasa ia lakukan setiap kali mereka bertemu.
"kalian barengan ? Rehan mana ?" tanya Seli pada Delia.
"aku disini ma" jawab Rehan sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"kita bertemu di depan tadi ma,pa" sambung Delia menambahi.
Leo pun mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya.
"maaf kalau saya datang di waktu yang tidak tepat" ucap Leo pada tuan rumah. Dia berpura-pura tak mengetahui kalau di rumah tersebut sedang mengadakan acara makan malam.
Hendra dan Seli pun berkata tak apa dan mempersilakan Leo untuk turut dalam acara yang mereka adakan. Awalnya Leo sedikit menolak karena merasa tak enak hati,namun karena terus dirayu hingga akhirnya ia pun menuruti.
Selama acara makan malam berlangsung,Leo tak henti-hentinya mencuri pandang pada Delia yang duduk tepat di hadapannya. Jadi posisinya,Hendra duduk di kursi tengah,disamping kiri Hendra ada Seli sang istri lalu ada Delia yang duduk di sampingnya. Sedangkan Rehan dan Leo duduk di samping kanan.
Makan malam usai dalam beberapa menit kemudian,Leo meminta izin Rehan untuk menengok Leny. Rehan pun tak keberatan dan mengajaknya masuk ke dalam kamar pribadinya dengan Leny.
"bang Leo masuk aja,aku tinggal ke ruang kerja dulu karena masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan" pamitnya setelah mengantarkan Leo sampai di depan kamarnya.
__ADS_1
Sementara Rehan masuk ke dalam ruang kerjanya,Delia terlibat perbincangan ringan dengan Hendra dan Seli di teras belakang rumah. Terlihat sekali kalau Delia kurang nyaman dengan gaun yang ia pakai,tapi ia berusaha bersikap biasa dan menyembunyikan rasa tak nyamannya di hadapan kedua orang tersebut.
"oh iya Del,apa kamu juga mengalami ngidam seperti bumil pada umumnya ?" pertanyaan Hendra sontak membuat Seli melotot tak percaya.
Delia mengangguk malu membenarkan ucapan Hendra. Dia bercerita kalau dirinya tadi siang sempat memesan manisan mangga muda dan jus buah naga,tapi begitu pesanannya tiba justru makanan yang ia pesan tidak ia sentuh sama sekali,ternyata dia cuma ingin membeli tanpa ingin menikmatinya.
Seli takjub,tak menyangka hal tersebut terjadi. Pasalnya janin yang kini bersemayam dalam rahim Delia bukanlah murni darah dagingnya,melainkan hanya tumpang tumbuh disana,dan hormon kehamilan pun belum tentu berkembang.
Tanpa mereka sadari ada Leo yang memperhatikan keakraban mereka dari jendela kamar Leny dan Rehan yang berada di lantai atas.
Disisi lain,sepulang dari acara makan malam,Bagas langsung turun dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya. Tak peduli pada Karin sang mama yang berusaha mengejarnya.
Brakkk,terdengar suara pintu yang dibanting. Karin kaget dan reflek mengelus dada sambil menggelengkan kepalanya. Setelah rasa terkejutnya hilang,dia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar Bagas yang ada di lantai atas.
"Bagas,buka pintunya Gas !!" perintah Karin dari depan kamar putra semata wayangnya seraya terus menggedor-gedor pintunya.
Tapi kamar dengan daun pintu berwarna coklat tua dan abu-abu itu tak juga terbuka sampai beberapa waktu kemudian. Karin pun hanya pasrah dan memilih masuk ke dalam kamarnya yang dipisahkan oleh satu ruangan yang digunakan oleh suaminya untuk bekerja.
Masuk ke dalam kamarnya,Karin menutup pintu lalu mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tasnya,dia menekan sebuah aplikasi percakapan berwarna hijau dan langsung menghubungi seseorang.
"maaf pa,Bagas sepertinya tidak setuju dengan perjodohan ini" ternyata Karin menghubungi suaminya yang kini berada di kota Artoz.
"mama tenang dulu,mungkin karena Bagas belum mengenal siapa calon tunangannya,kita gak bisa memaksanya. Biar bagaimanapun yang seharusnya menjalani perjodohan ini adalah Virgo,itu adalah amanat almarhum mamanya dulu " sahut sang suami berusaha menenangkan.
Sementara itu,disebuah cafe sederhana,Joko bersama seorang gadis remaja duduk menikmati waktu mereka ngafe berdua. Tapi mereka tak sedang berkencan karena gadis yang sedang bersama Joko adalah Silvi yang notabene adalah sepupunya sendiri.
"bang,tumben ngajak Silvi ngafe ?" sindir Silvi halus karena biasanya pemuda berambut kriwil itu cuma mentraktirnya di warung milik bu Arum.
__ADS_1
"jangan bilang biasanya abang cuma bisa traktir kamu minum di warungnya bu Arum!!" canda Joko seolah tau isi fikiran Silvi.
Silvi nyengir kuda,menampilkan deretan giginya yang berkawat.
"eh,ngomong-ngomong bu Arum nih bang katanya anaknya beliau yang ikut sama suaminya barusan balik dari luar negeri,katanya dia mau menetap di rumah bu Arum,makanya minggu kemaren beliau mengadakan acara tasyakuran buat menyambut kedatangan putrinya itu" ucap Silvi panjang lebar.
"oh ya ?" sahut Joko singkat lalu menenggak minuman di gelasnya.
Joko tiba-tiba saja membayangkan masa kecilnya dulu bermain-main dengan beberapa anak tetangga,salah satunya ya anak bu Arum. Dia ingat kalau anak bu Arum cukup pemalu tapi juga berkepribadian yang menyenangkan.
"apa dia masih sama seperti dulu ya ?" batin bang Joko sambil senyum-senyum sendiri.
Sementara itu,di kediaman Hendra. Rehan yang belum selesai dengan urusan pekerjaannya,ia minta maaf karena tidak bisa mengantarkan Delia pulang ke rumah. Leo yang memang ingin lebih dekat dan mengenal Delia pun berinisiatif mengantarkan gadis itu pulang.
"kalau tidak keberatan apa boleh aku yang mengantarkan nona Delia pulang ke rumah ?" tanya Leo berinisiatif.
Awalnya Seli meminta agar Delia menginap saja,tapi Delia kekeh mau pulang ke rumahnya dengan alibi kalau besok pagi dia ada pesanan yang harus dikerjakan.
Maka dengan sedikit berat hati,Seli pun merelakan Delia pulang dengan diantarkan oleh Leo. Delia berjanji nanti kalau sudah saatnya tiba dia akan tinggal dirumah itu sambil menantikan kelahiran anak Rehan dan Leny.
"baiklah kalau begitu,tapi nanti langsung kabari kalau kalian sudah sampai rumah" pinta Seli.
Delia tersenyum lalu memeluk Seli dan beralih salim dengan Hendra sebelum akhirnya ia meninggalkan kediaman Hendra dan pulang ke rumah dengan diantar oleh Leo.
"titip Delia ya nak Leo,langsung pulang saja,jangan mampir kemana-mana ?" pesan Hendra memperingati Leo.
"tentu om,biar bagaimana pun dalam rahim nona Delia ada nyawa yang harus saya jaga" ucap Leo.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Hendra dan segera pulang ke rumah Delia.