
"Ya sudah! Lebih baik kamu istirahat, hari sudah malam, di sini adalah kawasan hutan, tak ada orang yang berani melewati daerah ini di malam hari. Lalu, untuk apa gadis seperti mu berada dalam hutan seperti ini? Sendirian lagi?" tanya Xander kepada Mayang.
"Untuk apa kamu bertanya padaku? Kamu sendiri? Untuk apa kamu berada di dalam hutan ini, pasti kamu berniat jahat, bukan! Kamu begal, ya! Ngaku aja!" balas Mayang sembari menunjuk wajah Xander yang terlihat remang-remang. Wajah mereka tentu saja tidak terlihat dengan jelas, karena cahaya malam hari yang begitu gelap ditengah-tengah kawasan hutan itu.
Xander tertawa mendengar ucapan Mayang, "Kalau Aku benar-benar begal, kenapa Aku menyelamatkan mu, harusnya Aku biarkan saja kamu mati dan disantap oleh binatang buas. Dengan begitu Aku tidak perlu repot-repot untuk menjagamu."
"Haaa ... siapa juga yang minta pertolongan darimu, kamu saja yang curi-curi kesempatan, siapapun kamu Aku tidak akan pernah percaya jika kamu orang baik, buktinya! Kamu sudah berani pegang-pegang. Apaan!" Mayang kemudian beranjak pergi meninggalkan Xander, dan dia akan mencari jalan setapak untuk pulang ke rumah. Tentunya sang Ayah pasti sangat khawatir dengan keadaannya.
"Mau kemana kamu?"
"Bukan urusanmu! Aku mau pulang." jawab Mayang yang terus berlalu pergi menjauhi Xander. Namun, tidak semudah itu Mayang pergi dari hadapan Xander. Ia sudah menemukan gadis penawar itu. Ia akan terus mengejar kemana pun Mayang pergi.
"Hai Nona! Kamu jangan keras kepala, ini kawasan hutan. Kamu tidak takut jika ada binatang buas yang akan memakan mu." ucap Xander sembari memperhatikan Mayang pergi.
"Hmm ... bukan Aku yang takut, justru binatang-binatang itu yang akan takut." balasnya yang terus berjalan meninggalkan Xander.
"Hai Nona! Hati-hati nanti ada ular, nanti kamu bisa digigit dan dimakan. Ular di hutan ini pasti pasti besar-besar. Kamu pasti jadi santapannya." Xander terus menakut-nakuti Mayang agar gadis itu tidak jadi pergi. Namun, justru Mayang mengatakan sesuatu yang membuat Xander garuk-garuk kepala.
"Kamu pikir Aku takut dengan ular-ular di sini? Mereka tidak akan bisa memakan ku. Justru Aku yang akan memakannya. Apalagi ular kamu." setelah mengatakan hal itu Mayang segera berlari dan menjauhi Xander yang sedari tadi mengikutinya, seolah Xander tidak mau jika Mayang pergi.
Seketika Xander menelan ludahnya dan berpikir, "Sialan nih cewek! Kalau saja kamu bukan gadis penawar itu. Mungkin Aku sudah membuatmu memakan ular ku. Shiiit! Apa-apaan ini, harusnya Aku meminum darahnya, kenapa Aku justru tertarik untuk menggodanya, Siapa sebenarnya dia?" batin Xander yang terus mengintai Mayang dari belakang.
Mayang berjalan dengan bantuan senter, tentu saja suasana malam dalam hutan itu membuat bulu kuduk berdiri, apalagi suara-suara lolongan serigala yang tentu saja membuat suasana kian mistis. Mayang merasa ada seseorang yang sedang membuntuti dirinya.
"Sialan! Dia pasti sedang mengikuti."
__ADS_1
Mayang pun segera membalikkan badannya dan melihat ke arah belakang, dengan sorot senter yang Ia gunakan untuk melihat ke sekeliling. Tapi, tidak ada seorangpun yang ada di belakangnya.
"Hai kamu! Jangan coba-coba ikutin Aku! Loh kok nggak ada orang? Hmm ... sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja." Mayang kembali membalikkan badannya ke depan, dengan menutupkan Hoodie jaket di kepalanya. Mayang melanjutkan perjalanannya.
Hingga akhirnya di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba saja ada suara dari balik semak-semak. Sejenak Mayang berhenti dan diarahkan senternya pada semak-semak tersebut.
"Siapa di sana!"
Seketika dari balik semak-semak itu muncul seekor harimau kumbang yang tiba-tiba mendekati Mayang. Seketika Mayang sangat terkejut dan mencoba untuk tidak bergerak. Harimau kumbang itu terus mengaum, seolah Ia telah mendapatkan makanannya. Kucing besar berwarna hitam itu terus mendekati Mayang dan siap untuk menerkam nya.
"Oh tidak! Aku harus bisa pergi dari sini, sebelum kucing besar ini menerkamku, sialan!" tanpa pikir panjang, Mayang berlari secepat mungkin untuk menghindari kejaran kucing hitam itu, Ia menyusup ke semak-semak agar harimau kumbang itu tidak melihat dirinya. Namun sayang, sekuat kaki Mayang berlari, tak bisa menandingi kecepatan berlari hewan buas itu, Mayang terjatuh dan kakinya keseleo, Ia pun tak bisa berlari lagi, sementara Kucing buas itu sudah berada di hadapannya dan siap untuk menerkamnya.
"Tidak, pergi ... tidaaaaaakkkk!" Mayang berteriak sekencang mungkin, tapi tiba-tiba saja Ia mendengarkan suara hewan buas itu sedang kesakitan dan tampak sedang berguling-guling di atas tanah. Tentu saja Mayang sangat panik. Dan Ia pun segera mencari senternya dan menyorotkan pada harimau kumbang yang sedang berguling-guling itu.
Seketika Mayang sangat terkejut saat melihat seekor ular besar tengah melilit tubuh hewan buas itu, iya ular sebesar paha manusia itu tengah melilitkan badannya pada harimau kumbang itu, sehingga sang kucing besar tidak bisa bergerak, meskipun sempat ada perlawanan dan ular tersebut terlihat berdarah. Tapi, ular itu terus berusaha untuk melumpuhkan lawannya.
"Haaa ... omaigad! Harimau itu mati?" Perlahan Mayang berjalan mundur, dan mulai menjauhi kedua hewan buas yang sedang bertarung itu, apalagi diketahui jika si ular yang memenangkan pertarungan. Dan dikhawatirkan ular itu akan berganti menyerang dirinya.
"Tidak, tidak! Aku harus segera pergi dari sini." Mayang pun bergegas untuk pergi. Tapi untuk sesaat Mayang menghentikan langkahnya saat melihat ular tersebut diam dengan luka yang ada pada tubuhnya, tentu saja darah segar itu keluar dari tubuh ular berukuran jumbo tersebut. Entah kenapa tiba-tiba saja ada rasa iba yang ada dalam hati Mayang. Setidaknya ular tersebut sudah menyelamatkan dirinya dari terkaman harimau kumbang itu.
Mayang berbalik arah dan berjalan menghampiri ular yang sedang terluka itu. Perlahan Mayang memberanikan diri untuk mendekati si ular yang sedang melingkarkan tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya.
Mayang melihat luka bekas gigitan harimau kumbang itu pada tubuh ular tersebut. Mayang pun berusaha untuk menolongnya dan berharap ular itu tidak menggigitnya.
"Kasihan sekali! Kamu pasti sangat kesakitan." ucapnya sembari mencoba mengobati luka pada tubuh ular raksasa itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakiti mu, kamu tenang, ya! Aku akan mengobati luka mu, darahnya harus segera dihentikan." Mayang pun segera mengambil sesuatu yang ada di dalam tas yang Ia bawa, setidaknya dia membawa air bersih untuk membersihkan luka pada tubuh ular itu agar tidak terjadi infeksi. Setelah itu Mayang menyobek sedikit kemeja yang Ia pakai, untuk menutupi luka menganga pada tubuh sang ular.
"Sudah! Sekarang lukamu sudah tertutup, setidaknya luka itu tidak terbuka dan kamu bisa bergerak dengan nyaman." Mayang berkata kepada ular itu. Setelah nya ular tersebut pergi ke semak-semak.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
...Sambil menunggu author update bab berikutnya, mampir dulu ke karya punya kak Santi Uki yang berjudul HAND POWER OF GOD...
Blurb
Rico Dominico, masuk ke ruang bawah tanah di rumah tua milik kakeknya. Dia melihat sebuah buku yang tersimpan secara terpisah. Begitu dibuka ada cahaya yang keluar dari buku itu dan menyeret dirinya ke dimensi dunia lain.
Kini Rico berada di dunia antah berantah, yang dimana para penghuninya memiliki kekuatan sihir dan bisa memanggil hewan suci sebagai pelindung mereka.
Rico mengucapkan sebuah mantra yang bisa memanggil Raja Naga yang legendaris. Hal ini membuktikan kalau dirinya punya kekuatan yang sangat besar. Akibatnya, dia diburu oleh banyak orang yang menginginkan kekuatan dirinya.
Rico dan teman-temannya melawan Raja Didio yang kejam dan sangat kuat untuk membebaskan negeri Eleanor.
Akankah Rico bisa selamat dari incaran mereka?
__ADS_1
Apakah dia juga akan bisa kembali ke dunia aslinya?