Ranjang Panas Siluman Ular

Ranjang Panas Siluman Ular
Racun cinta


__ADS_3

"Ada apa, May?" tanya Tata yang melihat sang sahabat tampak gusar.


"Entahlah, Ta! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi Aku benar-benar ingin sekali bertemu dengan Xander, apa kamu bisa membantuku? Aku mohon!" pinta Mayang kepada sahabatnya itu.


"Apa yang bisa Aku lakukan, May?"


Mayang pun berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa bertemu dengan Xander, Ia pun menemukan sebuah rencana untuk bisa keluar dari rumah tanpa Dewa merasa curiga.


Mayang membisikkan sesuatu pada telinga Tata, untuk sesaat Tata berpikir keras untuk membantu temannya itu.


"Aduh ini resiko nya besar banget, May! Nanti Ayahmu pasti marah besar kalau sampai tahu."


"Ayah nggak akan tahu, kalau kamu nggak memberi tahu, ayolah Aku mohon sama kamu Ta, hanya kamu yang bisa bantu Aku, plis!" rengek Mayang kepada Tata.


Karena Tata kasihan, akhirnya Ia pun memenuhi permintaan sahabatnya itu.


"Ya udah, biar nanti ku coba, mudah-mudahan Ayahmu tidak curiga." ucap Tata.


"Makasih banyak, Ta! Kamu memang teman yang paling baik." Mayang memeluk Tata penuh sukacita, akhirnya Mayang berkesempatan untuk bertemu dengan Xander lagi.


Tata pun melihat wajah Mayang yang begitu gembira saat dirinya akan bertemu dengan Xander, seolah-olah Mayang tidak bisa dipisahkan lagi dari pria siluman ular itu.

__ADS_1


"May! Kalau boleh tahu, kenapa sih kamu kok ngebet banget pengen ketemu sama Xander? Apa karena kalian berdua sudah berhubungan ...!" Tata tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia merasa tidak enak mengatakan hal itu.


"Aku juga nggak tahu, Ta! Semenjak pertemuan itu nggak tahu kenapa, Aku merasa ingin dekat terus dengan Xander, padahal kami juga baru kenal, dan Aku merasa setiap aliran darah ku ini telah menyatu dengan darahnya, setiap Aku ingin memejamkan mata, bayangan Xander selalu hadir di pelupuk mata, dan dia seolah sedang memanggil-manggil ku, ahh Tata! Aku benar-benar sangat tersiksa." ungkap Mayang sembari dirinya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mungkin kalian berjodoh, May! Apa gara-gara Xander telah menyentuhmu, kamu jadi seperti ini, ketagihan dan ingin mencarinya, ahh gila gila May! Otakku jadi nggak fokus gara-gara ular siluman itu, karena yang Aku tahu dan ku baca di salah satu buku, jika siluman ular itu sudah menemukan satu wanita yang mampu membangkitkan hasratnya, sampai kapanpun siluman ular itu tidak akan pernah melepaskan mu, dia akan selalu membayangimu, Aku nggak bisa bayangin jika kamu hamil anaknya siluman ular itu, idiiih kok Aku ngeri sendiri sih." ungkap Tata.


"Hamil anaknya Xander? Hamil anak siluman ular? Tapi, Aku rasa jika Aku hamil anak Xander, Aku yakin bayi itu tetap manusia, bukan seekor ular." balas Mayang serius.


"Bagaimana kamu bisa yakin?" Tata semakin penasaran.


"Yakin dong! Coba kamu pikir, masuknya berupa ular, masa keluarnya juga berupa ular, ya nggak mungkin dong, pasti keluarnya tetap manusia." ucap Mayang santai, tentu saja itu membuat Tata membulatkan matanya dan berkata, "Mayang! Haduh ya ampun! Ternyata pikiranmu sudah terkontaminasi oleh siluman ular itu, ya Tuhan! Sadarkan lah teman hamba ini."


Mayang pun tertawa kecil melihat Tata seperti itu.


Keduanya pun saling tertawa, hingga akhirnya pandangan keduanya di kejutkan dengan kedatangan seorang pria dengan mobil mewah yang berhenti tepat di depan rumah Dewa.


"May! Itu siapa yang datang? Apa itu langganan Ayahmu?" seru Tata yang melihat seseorang turun dari mobil mewah itu.


"Nggak tahu, ya bisa jadi dia pria yang membutuhkan jasa Ayah." jawab Mayang sembari memperhatikan Pria itu.


Seorang pria berbadan subur dengan penampilan rapi bak seorang pengusaha sukses berjalan memasuki rumah Mayang. Dan benar saja kedatangan pria itu disambut hangat oleh Dewa.

__ADS_1


"Apa kabar Pak Dewa? Senang rasanya bisa bertemu dengan Anda!" sapa pria yang bernama Mintho itu. Dewa hanya menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Pak Mintho untuk duduk.


"Apa yang bisa Saya bantu!" Dewa menawarkan jasanya untuk menolong Pak Mintho.


"Begini, Pak! Saya ingin Pak Dewa membuat seseorang rival bisnis saya mampus, Saya sudah gedeg dengan keberhasilan nya, dia selalu memenangkan tender dan selalu lebih unggul dari Saya, ini fotonya. Namanya Frans Alvino, sejak dia dibantu oleh anaknya Xander, kini perusahaan Frans semakin besar, dan itu sangat merugikan Saya, karena banyak karyawan saya yang resign gara-gara tergiur pekerjaan di perusahaan mereka, dan jika lama-lama dibiarkan, maka perusahaan Saya akan bangkrut dan gulung tikar, Saya tidak mau itu terjadi, jadi saya mohon kepada Pak Dewa untuk membereskan keluarga mereka." ungkap Pak Mintho yang merupakan musuh bisnis Frans.


Dewa melihat foto dua pria yang merupakan Ayah dan anak itu, sejenak Dewa melihat ada sesuatu yang aneh pada wajah Xander, seolah Dewa melihat wajah Xander dalam foto itu, separuh wajah manusia dan separuh wajah ular.


"Siapa laki-laki ini?" Dewa bertanya kepada Pak Mintho sembari menunjuk ke salah satu foto yang tak lain adalah foto Xander.


"Oh itu Alexander Alvino, putra semata wayang Frans Alvino, dan gara-gara anak itu, perusahaan Saya menjadi tersaingi, maka dari itu Saya mohon sama Pak Dewa untuk melenyapkan mereka atau salah satu diantara mereka, saya ingin melihat mereka hancur dan menderita." seru Pak Mintho yang memiliki dendam kepada Xander dan Frans.


Dewa pun bernegosiasi untuk mahar yang akan diberikan Pak Mintho padanya.


"Baiklah! Saya akan melakukan apa yang Pak Mintho minta, tapi maharnya tidaklah murah. Saya butuh emas seberat dua kilo dan bunga tujuh rupa satu truk. Ayam cemani dua puluh ekor. Dan uang tunai dua ratus juta. Jika itu sudah tersedia, maka Saya akan mulai mengirim teluh kepada mereka." ucap Dewa sembari menghisap rokok yang ada di tangannya.


"Tidak masalah! Saya akan mengirimkan sekarang juga, yang penting Saya bisa melihat Frans dan anaknya mampus."


"Itu sangat mudah, Pak Mintho! Jika maharnya sudah tersedia, malam ini Saya akan mulai mengeksekusi mereka." balas Dewa enteng.


Sementara itu tanpa sengaja Roro Bening mendengar percakapan antara suaminya dan Pak Mintho. Pekerjaan itu sudah menjadi kebiasaan suaminya dan Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa, Roro Bening hanya memendam rahasia sang suami meskipun sebenarnya sangat bertolak belakang dengan hati nuraninya.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Semoga Engkau cepat memberikan kesadaran untuk suamiku, sebenarnya Aku sangat tidak rela dia melakukan hal ini, sungguh apa yang akan Ia Iakukan itu sangatlah jahat." batin Roro Bening.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2