
Lisa menghampiri Xander dan mengatakan jika Frans sedang perjalanan menuju rumah, tentu saja Lisa menjelaskan jika sang Ayah baik-baik saja. Xander pun lega, akhirnya Frans akan pulang, dengan begitu Ia akan meminta Frans untuk melamar kepada kedua orang tua Mayang untuk menjadikan gadis itu sebagai istrinya.
"Daddy kamu akan pulang hari ini, kamu jangan khawatir! Daddy tidak apa-apa." seru Lisa kepada putranya.
"Syukurlah Mommy! Dengan begitu Aku bisa melamar Mayang secepatnya, agar kami bisa segera menikah." balas Xander dengan sungguh-sungguh.
Namun, lain halnya dengan Mayang, tentu saja Mayang masih khawatir jika Sang Ayah akan tetap berusaha mencelakai Frans dan Xander. Ia masih belum yakin jika Frans baik-baik saja, Mayang khawatir sang Ayah pasti akan mengirimkan teluh itu lagi kepada Frans.
"Tapi Xander, Aku belum yakin jika kedua orang tuaku akan menyetujui hubungan kita, karena ... karena." Mayang tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia takut jika Xander akan mencelakai sang Ayah.
Xander menghampiri Mayang dan menatap dalam-dalam bola mata sang gadis. "Apa maksudmu? Apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Mayang tampak gusar dan takut, jika dirinya mengakui jika sang Ayah yang sudah mengirimkan teluh kepada Frans, apa jadinya pasti Xander tidak akan membiarkan Ayahnya selamat.
"Emmm ... Aku, Aku takut Xander." Mayang memeluk Xander, Ia benar-benar takut jika Xander benar-benar melukai sang Ayah.
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang kamu takutkan?" Xander mengusap lembut rambut Mayang sembari mengecupnya dengan mesra, sementara itu Tata yang melihat kemesraan mereka berdua tampak lemas dan meleleh.
"Ya ampun! Xander benar-benar romantis, ah Mayang pasti dibuat tergila-gila dengan nya. ya ampun dadanya ituloh, nggak bisa bayangin Mayang pasti dibuat terbang tinggi melayang." batin Tata sembari terhanyut melihat kemesraan mereka.
"Jika Aku mengatakan yang sebenarnya, apa kamu tidak akan marah?" seru Mayang sembari menatap bola mata Xander yang berwarna kehijauan itu, bola mata seorang siluman ular.
"Katakan saja! Kenapa kamu harus takut!"
Mayang menghela nafasnya dan Ia pun mulai menceritakan tentang siapa sang Ayah.
"Siapa? Pak Mintho?"
"Iya Xander! Pak Mintho meminta kepada Ayah untuk mencelakai rival bisnis nya yang tak lain adalah Pak Frans, Daddy kamu. Ayah datang ke kota ini untuk membuat kalian berdua celaka, Aku yakin jika Ayah masih ada rencana untuk mencelakai kalian berdua, dan Aku tidak mau itu, Aku ingin kamu selamat, Aku mohon kamu bisa mengerti, biar Aku yang berkorban, hanya Aku yang bisa menghentikan Ayah."
"Jadi, Ayahmu yang sudah berusaha mencelakai Daddy?" Xander terlihat begitu marah, Ia tidak bisa membiarkan sang Ayah di celakai oleh orang lain, sebisa mungkin Xander akan mengejar orang itu dan memberi perhitungan.
__ADS_1
"Aku mohon padamu, jangan celakai Ayahku, Aku sangat menyayanginya, Xander!" rengek Mayang sembari berusaha menenangkan Xander.
"Ini tidak bisa dibiarkan May! Aku harus menghentikan Ayahmu, dia sudah berani mengusik Daddy, berarti dia harus berhadapan denganku, Ayahmu harus mendapatkan pelajaran yang berharga dari Xander, tidak ada satu orang pun yang bisa lari dari kejaran siluman ular, maafkan Aku Mayang!" seru Xander yang bertekad hari itu juga akan mencari keberadaan Pak Mintho yang pastinya pria itu tahu dimana Ayah Mayang berada.
"Jangan Xander! Plis Aku mohon! Jangan dekati Ayahku, dia bisa saja melukai mu , Aku tidak mau melihat mu terluka lagi. Mengertilah! Biar Aku yang menghentikan Ayahku sendiri, dengan begitu kamu dan Ayah akan baik-baik saja." sahut Mayang.
"Ayolah Mayang, jangan bilang kalau kamu mau memberikan darahmu untukku, Aku tidak butuh itu, Aku hanya butuh dirimu ada di samping ku, itu saja." ucap Xander serius.
Mayang pun bertekad untuk memberikan darahnya kepada Xander dan sang Ayah akan kehilangan kekuatannya, begitu juga Xander akan menjadi manusia seutuhnya. Mayang mengambil pisau buah dan Ia langsung menyayat tangannya sendiri, sehingga darah mulai keluar dari tubuhnya.
"Mayang! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila." Xander segera menutup luka sayatan Mayang dengan kain, meskipun dirinya begitu ingin sekali meminum darah Mayang yang terlihat segar itu, Xander harus bisa menahannya demi sang gadis agar tetap selamat.
"Kenapa kamu tidak meminumnya?" seru Mayang sembari menatap wajah Xander.
"Aku tidak akan pernah meminumnya, Aku tidak mau kehilangan mu." jawab Xander sembari memeluk Mayang setelah Ia menutup luka sayatan pada tangan Mayang.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...