RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 9


__ADS_3

Tak lama setelah itu, mereka berdua melancarkan aksinya, lalu setelahnya saat kembali ke kelas, Fathul sepertinya berhasil, karna wajahnya saat itu begitu sumringah, Sedangkan Jabar, aku tak melihat hal yang sama dengan yang ku lihat pada fathul.


Kutanyakan langsung saja pada mereka berdua, dan benar saja dugaanku, inez suka dengan coklat yang fathul bagi padanya, Sedangkan Zabar harus menelan pahit karna Lasmini belum bisa menerimanya, Katanya Dia perlu waktu,


“ Sabar yah bar, semua butuh proses, Thomas alva edison pun butuh seribu kali percobaan untuk menyempurnakan Lampu pijar yang ia kerjakan, massa kamu baru sekali aja ditolak udah lemes kayak gini” kataku sembari merangkul pundaknya.


“ Ia pik, pasti sabar ko, bener pik Mungkin gua harus lebih yakinin dia lagi,"


“Nah gitu dong, semangat,” saat itu aku seakan menjadi orang ketiga yang begitu ikhlas memberikan semangat kepada sesorang di tengah diriku sendiri yang belum memiliki itu.


Sejujurnya aku belum bisa mengatakan perasaanku kepada Cindy karna aku takut seperti Jabar, Aku takut kecewa, dan yang lebih ku takutkan dia malah menjauh dariku, aku benar-benar tak ingin itu terjadi.


Di asrama setiap seminggu sekali Akan ada acara muhaddoroh, Muhaddoroh itu Penampilan dari satu Asrama ke asrama yang lain, dan disaksikan oleh semua yang tinggal disana, lebih tepatnya acara untuk melatih mental kita kedepannya, seperti membiasakan berbicara di depan banyak orang, kebetulan malam itu Cindy, Inez dan lasmini yang mewakili asramanya, diawal seperti tak ada yang aneh dari mereka bertiga, namun tiba –tiba Inez mengawali satu pembicaraan yang seperti mengarah kepada fathul.


“ Emang paling seneng yah, Kalo lagi Di sekolah lagi capek-capeknya, eh ada yang ngasih coklat Duh gimana gitu rasanya,” kata Inez dengan mike yang menempel dibibirnya.


Sembari melirik pelan kearahku Cindy mulai ikut berbicara


“ Kamu mah enak di kasih coklat, lah aku, aku cuman di kasih bunga, hmm”


“ Hah bunga? Udah gak zaman kali cin ihh” Ujar Inez di atas panggung.

__ADS_1


Dengan mata terpejam Cindy mulai menjelaskan tentang bunga spesial dariku tadi "Tapi bunga yang waktu itu dia kasih beda, sangat beda, dia selalu punya kejutannya disetiap hal-hal kecil untukku,”


Saat itu bibirku bereaksi dengan sendirinya, senyum tiba tiba merekah di pipi ini, aku tak sadar semua tengah memperhatikan tingkah anehku, dan sontak saja mereka tahu bahwa aku yang memberi bunga tersebut, suasana pun berubah menjdi riuh sampai akhir acara.


Sekarang, setiap hari minggu pagi saat sekolah libur, aku selalu mondar-mandir di jalan menuju kamar mandi, bukan untuk buang air, namun agar bisa terus berkomunikasi dengan Cindy, dapur asrama putri bersebelahan dengan jalan menuju kamar mandi, caraku untuk selalu berkomunikasi dengannya yaitu dengan melempar surat ke dalam jendela dapur milik asrama putri, dan Ia sudah setia menunggu setiap suratku itu, lalu dia akan melempar jawabannya ke jalan yang kusebut tadi, Ini rutinitas baruku semenjak dekat dengannya.


Mungkin seperti suatu hal yang konyol, namun bagiku ini sangat penting, dan sangat berkesan.


Suatu hari di kelas, Ia mengajakku duduk di bangku paling belakang untuk mengobrol, katanya sih penting, entahlah.


“Pik sini dulu deh, aku mau ngobrol sama kamu” pintanya sembari berjalan ke belakang


Aku segera menuruti permintaanya itu, tak biasanya juga dia seperti ini.


“ Aku mau curhat tentang keluargaku pik, kamu mau dengerin, kan" ucapnya dengan wajah yang mulai sedih


“ Ia lah pasti aku dengerin ko,” jawabku yang mencoba membuat dia untuk semangat kembali.


Cindy mulai menceritakan semua masalahnya kepadaku


“ Kamu tahu kan, kalo aku tuh anak pertama, sekarang aku punya adik baru lagi, Umurnya baru 2 bulan,”

__ADS_1


“ wah, selamat yah, punya dedek baru lagi, cewe-cowok?” tanyaku lagi, kuharap dia bisa tersenyum habis ini.


“ Cewek pik, tapi masalahnya bukan itu, baru aja dua bulan eh sekarang Adikku harus di tinggal kerja sama ibu, aku gak mau hal yang dulu aku rasain, di rasain sama adik ku juga, aku tuh kalo di rumah selalu sendiri pik,” jelas Cindy padaku dengan nada yang perlahan melemah


“ Sendiri gimana cin?” tanyaku lagi yang mulai tidak mengerti apa yang di maksud Cindy, karna aku tau, ayah, dan Ibu nya masih lengkap.


Dengan air mata yang mulai menetes dia kembali melanjutkan ceritanya itu


“Sendiri pik, ayahku kerja di Hotel, Ibuku Di Bank, sedangkan aku di rumah selalu di tinggal, makannya kenapa dulu aku jarang ada di rumah, aku sering nginep di rumah temenku, dann itu juga alesan kenapa aku mau ke sini."


Sekarang aku sudah mulai paham akan inti masalahnya, masalah yang sangat sering kutemui juga pada temanku di MTS, dan saat itu aku mencoba menjelaskan dengan perlahan apa yang aku tahu akan masalah seperti ini “Hmm gitu yah, aku ngerti sekarang, gini cin, mereka kayak gitu juga buat kamu, mereka sayang sama kamu, makannya mereka kerja kayak gitu, mereka pengen anaknya jadi anak yang lebih baik dari mereka cin, kamu ngerti kan maksudku,”


“Aku ngerti pik, aku ngerti, tapi aku juga seorang anak pik, aku mau rasain kasih sayang mereka, aku mau kayak temen-temen ku, pulang sekolah disambut sama orang tua nya, mungkin lelah saat di sekolah akan hilang saat melihat ibu atau ayah senyum, meluk nyapa, sedangkan aku belum pernah kaya gitu” balasnya dengan pipi yang semaki basah sebab air mata yang terus mengalir.


Hatiku saat itu campur aduk mendengar ceritanya, aku tak bisa menyalahkan orang tua nya, dan aku juga tak bisa menyalahkan Cindy, seorang anak yang butuh kasih sayang, ingin sekali rasanya saat itu aku menghapus tetes demi tetes air matanya dengan tanganku sendiri, nemeluknya erat memberi kekuatan, tapi apalah daya, itu hanya sebuah keinginan.


“ Yaudah, pokonya kamu jangan berpikiran negatif dulu tentang orang tua mu, aku yakin nanti kamu akan dapet semua itu, sekarang kan disini ada aku, aku bakal beri semua yang belum diberi orang tua mu, aku akan beri kasih sayang itu, aku akan beri perhatian itu, asal, kamu jangan sedih lagi ya, kamu kan kuat."


Aku juga tau mungkin saat itu dia butuh pelukan, tapi keadaanku saat itu tak mungkin untuk bisa melakukan itu.


“ Makasih yah pik, makasiih banget, kamu udah mau dengerin Cerita aku, kamu udah baik banget sama aku, kamu udah jadi sahabat aku, makaasih” jawabnya dengan tangan yang mulai sibuk menghapus semua air matanya

__ADS_1


“Iyah Cin, sama-sama, kalo kamu butuh orang buat cerita, kamu boleh cerita sama aku, kalo kamu lagi marah, kamu boleh marah sama aku, aku akan selalu ada buat kamu Cin” jawabku dengan sebuah senyuman.


Kamu tau Cin, Saat itu hatiku seperti menolak saat kamu bilang aku adalah sahabatmu, Sebenarnya aku ingin lebih dari itu.


__ADS_2