RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
bab 13


__ADS_3

“Ayoo, sini sini aku ajarin” jawab ku


"Nah jadi tangan nya kamu harus ngepal kayak gini, supaya gak sakit” Sambungku sembari mempraktekan kepalan tangan “Ouh gitu, kayak gini ya” jawabnya kembali sembari mempragakan kepalan yang aku tunjukan tadi padanya “Nah iya gitu, sekarang kamu pukul pelan-pelan ke aku ya, nanti gantian, okey”,, “okey” jawabnya kegirangan.


Kami mulai bermain sembari tertawa kecil karna Cindy yang selalu melenceng saat memukul, dan aku sangat senang saat itu, dimana aku bisa melihat tawanya yang begitu lepas, aku bisa melihat dia dengan mata indah dan senyum menawan berbahagia di depan ku, andai aku lebih dulu mengenal nya.


“Nah karna udah agak pinter, main nya udahan dulu, soalnya udah mau masuk, sini bolanya biar aku simpen lagi” Potong ku di tengah permainan “Yaah, kenapa harus masuk si, kan aku baru bisa sedikit” sambung Cindy sedikit kecewa.


Sebenar nya aku aku ingin menghentikan waktu jika kubisa, ingin terus seperti ini denganmu, ingin selalu di sisimu, aku ingin mengajari apa yang belum kamu tau, aku ingin jadi sebab kau tertawa seperti ini, tapi aku lebih menyanyangimu daripada ego ku, aku tak ingin kamu malah terkena masalah setelah ini.


“Iyah yah, tapi kan sebentar lagi masuk Cin, nanti kita sambung lagi yah, aku janji” kataku sembari membawa pergi bola yang ia pegang, “Yaudah deh iyah gak papa, tapi nanti ajarin lagi ya” tambah nya, aku hanya mengangguk dan tersenyum saat itu “heem”


Sebenar nya hubunganku dengan Cindy tidak begitu berjalan lurus, disini banyak yang menyukainya juga, namun entah karna kelas mereka jauh atau apa, Cindy tak pernah merespon mereka, padahal jika dilihat dari segala sisi mereka jauh lebih baik daripada aku, ya walaupun aku bukan pacar nya, tapi aku nerasa setidaknya aku lebih spesial dari mereka, bahkan suatu hari aku tau satu kabar, Keponakan Ceu-ceu Istri aby yang baru pulang dari pondok nya di jawa timur, aku tak bisa menyebut namanya di sini, karna aku belum izin terlebih dahulu padanya, ternyata dia suka pula sama Cindy, ya walau aku tak suka tapi aku bisa apa saat itu, aku hanya sahabat dimatanya, tak lebih, aku hanya berharap dia bisa melihat siapa yang benar-benar menyayanginya, itu saja, jika suatu saat nanti pilihan nya bukan aku, aku akan merima itu dengan lapang, InsyaAllah, aku tau hal ini karna pernah tak sengaja mendengar pembicaraan Cindy di kelas dengan teman asramanya saat itu, aku lupa siapa namanya,


“Cin, tau gak mang syarif (nama samaran)suka sama kamu loh” katanya dengan nada pelan.


“Mang syarif ponakan Abi bukan,?” jawab Cindy santai,


“Ia itu, soalnya aku denger di dapur tadi, orang-orang kantor yang bilang, katanya gitu, dia suka sama kamu”


“Hihi, yasudah gak papa, Itu hak dia kok,” tandas Cindy lagi.


Dengan jiwa kegosipan yang menggebu, si Teteh yang aku tak ingat namanya ini terus saja mengoceh


“Terus rencana nya kamu mau gimana Cin,?”


“Gimana apanya,? Yah aku mah gini aja,kenal juga ngga aku sama dia” kata Cindy sembari tersenyum dan mengakhiri pembicaraan itu.

__ADS_1


Sebetulnya hatiku tenang dengan jawaban Cindy, karna aku pun yakin dia bukan type wanita yang mudah tertarik pada lawan jenis nya, dia tak akan memandang materi dan sebagai ny sebagai acuan, tapi di sisi lain, dia ponakan Abi yang punya yayasan ini, aku hanya takut saja dan terus berpikiran yang macam-macam, memang terkadang aku benci pikiran ku ini, aku mengatakan ini bukan berarti aku tak rela jika nanti dia bersamanya, justru aku akan sangat ikhlas jika kelak Ia dengan mang Syarif, karna aku yakin dia akan bahagia dan terjamin, sebab aku hanya perlua realistis, aku sadar posisiku saat itu, hanya seorang pelajar yang belum tahu bagaimana dan seperti apa aku di masa depan.


“karna sejatinya hakikat paling tinggi dalam mencintai bukan lah memiliki, namun merelakan nya pergi”


Sore hari itu kami kembali kedatangan murid baru dari Jakarta, ia diantar kedua orang tua nya, dan merupakan pindahan dari pondpes yang cukup terkenal di sana, bahkan Ia sudah sering berganti-ganti pondpes.


Kami sedang berkumpul di Asramaku sore itu, dan dari luar terdengar ada yang mengetuk pintu seraya mengucap salam


“Assalamu’alaikum” serunya dengan sopan


“Waalaikumsalam, mangga kalebet” jawab salah satu temanku.


Dari balik pintu nampak seseorang dengan badan tinggi besar lengkap dengan tas yang ia gendong, kami segera merapihkan tempat dan menyambutnya hangat.


“Masuk a masuk,” Ucapku sambil menggeser posisi duduk, kemudian dia duduk dan menaruh tas sambil membukanya,


“Oiya a, gampang-gampang” balas temanku dengan senyum malu dipipinya


“Oiya a, kata orang di kantor, aku tinggal di asrama ini, bareng A opik, yang mana ya orang nya” tanya nya lagi


“Ouh saya sendiri a, oiya iya gak papa a, satu lagi, jangan panggil Aa panggil nama aja, oke” jawabku padanya


ia tersenyum dan menjawab.


“Oiya deh, hehe, yaudah aku istirahat dulu ya, capek, gak papa kan a” seru nya lagi


“Oiya sok aja ,sok di sini aja dingin di sana mah” Jawab ku sambil menunjuk ke tempat yang lebih nyaman.

__ADS_1


Mungkin 2 jam setelah ia memejamkan mata dan tidur pulas, salah satu temanku mulai membuka tas yang tadi ia bawa,


“Ehhh, mau ngapain tuh?" Tanyaku tegas sambil mengambil tas itu


“yah kan laper pik, lagian tadi juga dia kan nawarin” jawabnya dengan muka mengiba,


“Heeh dasar, tadi aja gak mau,”


Tadi kan malu bro, biasa lah speak dlu aja hihi” pungkasnya lagi, mungkin tak sampai 20 menit, semua makanan dalam tas itu habis, dan kami tertidur pulas dengan perut kenyang malam itu.


Pagi hari saat ia terbangun aku melihat wajah kebingungan dari wajahnya mungkin dia mencari makanan yang semalam ia bawa, yasudah, ku jelaskan saja padanya, dia paham sambil tersenyum mendengar penjelasan kami, lalu kami sedikit berbincang.


“Oiya a, asli Jakarta atau gimana a?” tanyaku mengawali pembicaraan,


“Ia a, kalo rumah di Jakarta, tapi aku Pindahan dari Banten” balas nya


“Ouh gitu, banten mana a? Aku juga kalo asli dari banten” sambung ku lagi.


Dengan posisi duduk lebih tegak dia menjelaskan semua nya


“Di bayah a, Ouh si Aa juga asli banten ya, Banten mana nya a?” katanya balas bertanya pada ku.


Aku lalu menjelaskan dimana Banten tempat lahirku, cukup jauh memang dengan Pondpes yang dulu ia tempati, karna daerahnya paling ujung,


“Tau kesini dari siapa a? kan lumayan jauh tuh?” tanyaku lagi


“Ouh iyah, kalo masalah itu aku ada sodara dulu yang pernah di sini, mbak dina kenal? Kata nya

__ADS_1


“Ouh mbak dina, kenal lah, dia dulu yang ngajar Qur’an di sini”


__ADS_2