
Ya, karna mungkin hanya itu hal terbaik yang bisa kuberikan,
“Oiya Cin, gimana hubungan kamu sama mang Syarif?” tanyaku disela obrolan
“Ko kamu tau si aku deket sama mang Syarif?” Balasnya heran.
Aku terdiam sejenak, ingin sekali kukatakan padanya bahwa selama dua tahun ini aku tak henti mengawasi dan memperhatikannya dari jauh, tapi itu tak jadi kukatakan, aku malu, aku rasa aku tak pantas mengatakan itu.
“Emh, aku tahu dari kawanmu, tapi maaf aku tak bisa beritahu siapa orangnya” balasku
“Ouh gitu yaudah gpp, aku sekarang udah gak kontekan lagi pik, udah jarang, mungkin dia ada kesibukan,”
membaca jawaban itu secepat kilat kubalas dengan antusias.
Aku merasa bahwa diruku aneh, bersifat seolah baik di depan kalian, padahal aku sangat jahat, mengharap bahwa Cindy hanya punyaku
“Loh kenapa? Padahal kalian cocok loh, keluarga kalian udah saling kenal juga kan, sayang Cin” Sebetulnya aku berat mengatakan hal itu, tapi jika di depannya aku harus bersikap layaknya seseorang yang dia ingin, bersikap sebagai seorang sahabat.
“Ko kamu tau juga si tentang itu, dari kawanku juga bukan?” tanyanya yang semakin heran.
Aku bingung harus mengatakan apa, jika aku berbohong dan mengiakan pertanyaan-nya tadi, aku takut dia malah menduga-duga, tapi jika aku jujur aku malu, tak apalah kukatakan yang sebenarnya saja, toh sekarang kita hanya dua orang sahabat, tidak lebih.
“Bukan ko Cin, emh aku tau dari Instagram Mang Syarif, waktu itu dia pernah upload foto kamu yang lagi ada di tengah-tengah keluarganya” balasku lagi.
“Ouh gitu, dasar yah kamu kepo, hehe” balas Cindy singkat.
Malam itu aku menemani dia sampai tertidur, tak lama aku juga menyusulnya, aku tak ingin berlama-lama menemuinya di alam mimpi.
Selama tiga tahun berjalan aku tak pernah lagi benar-benar jatuh cinta, selama itu pula aku mencintainya dengan kerinduan, aku hanya menyimpan satu nama, CINDY JANUARTY, biarpun aku disebut gila oleh teman-temanku, aku rela jika itu karna dia, percayalah kawan, kekuatan Cinta adalah yang paling utama, sebetulnya aku sering dijodohkan oleh teman-temanku, dengan si ini lah, dengan si itu lah, tapi sayang aku selalu berhenti di tengah jalan.
__ADS_1
Tak lama lagi ulang tahunnya, mungkin sekitar enam hari lagi, tapi aku masih belum punya kado untuknya, lagi pula aku bingung harus memberinya bagaimana, dia sekarang di asrama, dan sangat sulit untuk bertemu dengannya di sana, jika di rumahnya pun aku tak tahu yang mana, lagian, dia juga selalu tak mengijinkan aku, hari demi hari aku terus memikirkan itu, hingga tiba saat itu, aku sudah menemukan satu cara, Aku buatkan dia Video saja, walau tak berbentuk barang tapi mudah-mudahan dia suka, aku di bantu Aldi dan teman yang lain saat itu, karna mereka mengetahui seperti apa aku jika mengenai Cindy, akhirnya mereka menuruti permintaanku, mungkin sekitar empat jam aku membuatnya, Aldi yang menemaniku, yang lain hanya kupinta mengucapkan selamat saja, pagi-pagi sekali aku mengirim hasilnya, tapi sayang sepertinya dia masih di Asrama karna WA-nya ceklis satu saat itu, yasudah tak apalah, nanti juga dia buka harapku, lalu tak lama setelah aku mengrirm video itu padanya, ponsel kecilku menyala, kukira balasan darinya, ternyata dari teman nya, dia memberi tahuku kalo hari ini Cindy ulang tahun, ia mengingatkan takut aku lupa katanya, aku tertawa membaca itu, bagaimana bisa aku lupa hari-hari penting di hidupnya, dan dia juga bilang kalo sekarang sedang dirayain bareng Mang Syarif di Asrama, aku termangu, tanganku mengepal dan seketika itu pula tawaku terhenti, begitu sakit rasanya, mengapa dia membicarakan hal itu padaku, mengapa tak ia rahasiakan saja pikirku, aku sempat berniat untuk menarik kembali video yang sudah ku kirim, namun aku terlambat, Cindy sudah membukanya.
“Makasih pik videonya, Aku suka” sebuah pesan singkat darinya yang nampak di layar ponselku.
Aku tak ingin membalasnya, tapi aku harus memastikan apa benar yang di katakan temannya tadi
“Iyah Cin sama-sama, maaf aku gak bisa kasih kado tahun ini, tahun depan aku janji bakal kasih sesuatu buat kamu” balasku memancing obrolan
“Iyah pik gpp, ini aja cukup kok,” jawab Cindy
“Iyah Cin maaf ya kalo jelek”
“Nggak kok pik bagus, aku suka” katanya.
Entah saat itu dia benar-benar menyukainya atau hanya sekedar membuatku senang saja,
“Alhamdulillah kalo kamu suka, oiya Cin aku mau nanya boleh?” ucapku mengalihkan tema obrolan saat itu
“Emang bener ya itu kamu ngerayain ulang tahun di asrama bareng mang Syarif?” tanyaku sedikit canggung, bagaimana tak canggung, saat itu aku seperti seseorang yang penting dihidupnya, segala yang mengenai dirinya kutanyakan, mungkin dia juga risih
“Enggak kok pik, kata siapa?” balasnya.
Mungkin jika saat itu aku sedang bertatap muka dengannya aku akan tahu betul dengan reaksi wajahnya, ya, pasti dia menunjukan wajah menyeramkan itu, sungguh aku merindukannya, wajah cantik yang dipaksa untuk berbohong.
Beberapa hari setelah obrolan itu hubungan ku semakin akrab dengan Cindy, sebagai sahabat tentunya, dia sering bercerita kembali tentang bagaimana keadaannya di Asrama, bahkan dengan sangat yakin dia membicarakan perihal hubungannya dulu dengan mang Malik kepadaku, aku senang walau aku harus bersedih lagi setelahnya, di bawah bilik kobong yang dekat dengan rumahku, aku merasa fisikku seperti sangat dekat dengannya, bahkan dia mengajak serta adiknya yang masih kecil, salsabilla, gadis kecil yang dulu 2 tahun yang lalu dia ceritakan padaku di atas bangku paling belakang di kelas, sekarang kami menjadi lebih sering melakukan obrolan seperti ini, obrolan vidio.
“Cin nanti aku ke rumahmu, ya?” Tanyaku
“Mau ngapain? Emang kamu tahu rumah ku”? katanya sembari semakin mendekatkan wajah ke depan kamera
__ADS_1
“ya mau silaturahmi, mau ngobrol sama calon mertua hehe” sambungku sembari tertawa, dia juga tertawa saat itu, lalu menyambung kembali obrolan itu dengan sebuah senyum kecil, dia bilang
“Apaan si kamu pik, geli aku dengernya,”
“Ya iya kan Cin, Amiiniin kek, temen-temen yang lain udah pernah ke rumahmu, aku juga boleh, kan?” potongku
“Iya boleh kok, tapi kamu mah nanti ya, 5 tahun lagi, iya kan dek?” jawab nya sembari bertanya lugu kepada adiknya.
Entah saat itu dia benar-benar serius atau tidak dengan perkataanya, tapi jawaban itu sudah cukup membuatku tertawa lebar, andai itu benar, aku akan sangat sabar menunggu tahun demi tahun itu, aku tahu kemarin-kemarin temanku ke sana, kerumahnya, dan aku telat mengetahui itu, aku baru tahu setelah melihat story galih saat itu, katanya saat kutanya mengapa tak memberitahuku, dia lupa, yasudah lah bisa apa aku, lupa kan wajar kepada setiap seorang insan.
Rembulan begitu cepat silih berganti, tak lama lagi, Cindy dan temanku yang lain menginjak kelas 3, dan biasanya sebelum kenaikan atau setelahnya, mereka akan sedikit menikmati udara di luar kota, maksudku disana biasanya akan ada acara Ziarah bersama, itu sudah sangat rutin setiap tahun, aku juga pernah dulu saat masih kelas 3 MTS, dan saat itu pula aku mendapatkan kalung pemberian seorang kakek tua disana yang sekarang sudah kutitipkan kepada Nya, dulu kata Kakek yang aku sudah lupa bagaimana raut wajah ya, kalung ini bisa menjagaku karna kebesaran Allah, karna aku lebih ingin Cindy yang selalu terjaga, makannya aku memberikan kalung itu, sekarang aku tak tahu apakah ia masih menjaganya atau tidak, tak apalah karna yang menjaganya bukan itu, melainkan Allah, sesuai kepercayaan saja.
Selang beberapa hari setelah ini, mereka benar-benar berangkat ke kota Tasikmalaya, Ziarah ke sana, aku juga dulu sama ke sana, tapi kami sempat ke Banten dulu, dan tak tahu sekarang mereka ke tempat mana lagi setelah itu, sebelum berangkat dia menelponku, bukan lewat telpon, si, lebih tepatnya obrolan video, waktu aku mengangkat telpon itu, dia sudah duduk manis di dalam bus yang sepertinya tak lama lagi akan berangkat, di sana juga ada Salma, teman MTS ku dulu, tapi dia tidak melanjutkan sekolahnya, dia hanya melanjutkan pendidikan pesantrennya di sana, jadi semenjak masuk SMK aku belum pernah melihatnya lagi memakai baju sekolah, hehe, kata Salma aku lebih putih katanya, dan kumis dibibirku ini menambah nuansa manis diwajahku hihi, aku tertawa kecil dan sedikit malu saat itu, karna dia sudah memujiku, sebagai imbalannya aku minta dia menjaga Cindy selama disana, dia juga ikut tertawa mendengar itu, katanya itu bukan imbalan melainkan perintah, hehehe, kami mengobrol tak lama, sebab bus sudah mulai jalan dan obrolan kami terganggu dengan goncangan di sana, aku minta dia banyak-banyak berdo’a saja, jangan sering main HP, kecuali kalo itu untuk mengobrol denganku hahaha.
Dua hari dia di sana, dan selama itu pula aku tak henti mendo’a kan keselamatannya, aku tak minta apa-apa juga darinya, aku hanya ingin dia kembali dengan kondisi yang lebih baik, dan Do’a ku terkabul , Cindy dan yang lain pulang ke asrama dengan keadaan baik, tanpa ada lecet sedikitpun, dan tak ada yang kurang satu pun dari mereka, kalau pun ada, mungkin itu do’a ku yang masih tersangkut di jok bus yang ia tempati hehe, aku tak ingin menganggunya dulu, karna aku tahu dia pasti sangat lelah, walaupun ia tak berkata demikian, tapi aku tahu itu, karna nyatanya dia pulang ke rumah dulu tak langsung ke asrama.
“Rrrrrrrrr” ponselku bergetar, kulihat di layar ada sebuah pesan dari Cindy, secepat kilat kubuka dan membalas pesan itu, aku tak mau jika dia harus terlalu lama menunggu,
“Pik, aku pamit ke asrama lagi ya,” katanya
“Oiya Cin, emang udah gak capek?” balasku
“Enggak kok pik, udah seger sekarang mah, malah bosen di rumah tuh, kebiasaan di asrama kali, ya” lanjut Cindy
“Oyaudah kalo gitu, kamu hati-hati disana ya, jaga kesehatan yang baik, makan dan minumnya juga di jaga, kalo kamu ada apa-apa bilang aja ya ke temenmu yang sekolah di luar, supaya mereka bisa ngasih tahu aku” lanjutku penuh harap
“Ia pik, pasti kok, yaudah Assalamu’alaikum”
“Ia wa’alaikumsalam”
__ADS_1
Sebelum kami benar-benar mengakhiri obrolan malam itu, dia sempat jujur padaku, tentang mengapa ia menjadi sangat tenang ketika aku meminta dia agar memberitahuku jika ada masalah saat kita bertemu di acara maulid dekat rumahnya yang sudah kuceritakan di atas, katanya dia heran mengapa aku tahu kalo saat itu dia memang sedang banyak masalah dan tak tahu harus bercerita kepada siapa, kataku, aku akan selalu tahu semua tentangnya, karna aku selalu mengawasinya dari jauh, di situ juga aku jujur padanya tentang hal yang selama ini aku rahasiakan juga darinya, kami sama-sama jujur malam itu, hingga kami tak lagi bercakap setelah ia pulang ke asrama dan tak akan membawa HP.
Selama beberapa hari setelah ia berangkat, kegiatanku disini masih sama, mengaji, bekerja, mengajar, dan diajar, semua tak berubah, dan rasa ini juga masih tetap sama, bahkan semakin hari semakin dalam, dalam, dan dalam, jika suatu saat dia sadar dan bertanya padaku mengapa aku bisa begitu menyayanginya, aku akan menjawab jika aku selalu menyayanginya, semenjak rasa benciku hilang aku sudah menyayanginya, semenjak dia sering bercerita padaku di bangku belakang, aku sudah menyayanginya, semenjak dia sering memberiku sebuah surat kecil aku sudah menyayanginya, bahkan aku sendiri lupa sejak kapan aku menyayanginya.