RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
BAB 29


__ADS_3

Ketika semua berangsur membaik, anehnya di hari itu aku mendengar ia kembali harus terbaring, bukan masalah lambung seperti dulu, tuhan kini memberinya ujian di bagian kaki, kakinya membengkak namun tanpa gejala rasa sakit, tubuhnya yang mungil mungkin saja tak kuat menopang beban di kakinya sendiri, Cindy yang baru saja menemukan tawanya kini harus kembali pada masa di mana ia hanya bisa terduduk tanpa suara, terkadang ia menangis akan takdir yang tuhan garis kan, takdir memang tak akan pernah bisa terpungkir.


Aku hanya berharap, Tuhan jika semua bisa ditukar, ijinkan aku menukar sisa tawa yang ada pada diriku, biarkan aku saja yang harus terbaring. Tuhan biarkan aku dan dia bahagia, sisa tawaku tersisa hanya ketika melihat wajah nya meski itu tanpa tawa, berikan aku lebih dari itu, aku yakin dan percaya jika aku akan lebih bahagia dengan tawa di pipi mungil nya, tak perduli apa pun kondisiku. Tuhan, maka dari itu tukar saja penyakit nya dengan sisa tawaku, tuhan bahagiaku hanya ada pada tawanya.


°°°°°°°°°°


Hari itu sulis mengabari, katanya Cindy sekarang sedang di rawat di salah satu rumah sakit di daerah Cibeureum, RS khusus paru, kabar yang sama sekali tak ingin kudengar, demi tuhan! Katanya sudah dari kemaren malam, mungkin saat aku kerja lembur waktu itu, harus mendengar kabar ini dari sulis juga membuat aku sedikit sebal pada Cindy, mengapa dia tak mengabariku? Padahal sudah beberapa kali kuingatkan agar mengabari jika ada hal-hal yang tak di inginkan, dan sudah beberapa kali juga ia meng-iya kan, tapi nyatanya dia bohong, dan selalu berbohong, sebetulnya aku mengerti sifatnya, mungkin tak enak jika harus mengabariku, tapi jika kupikir kembali apa salahnya? Jika sulis sahabatnya diberi tahu, lantas mengapa aku tidak? Toh aku juga sama sahabatnya. Bahkan yang terbaik seperti ucapannya dulu. Perasaanku campur aduk saai itu, aku kesal, marah, namun aku juga bersedih.


“Makasih ya Lis kabarnya, nanti besok sore kita kesana ya, temenin!”


“Sama anak-anak lagi?” tanya sulis


“gak usah! Takut pada sibuk, ngerepotin!”


“Oyaudah, tapi InsyaAllah ya, kalau gak ada jadwal kuliah” katanya


“iyah lis” Jawabku.

__ADS_1


Aku sampai tidak masuk kerja hari itu setelah mendengar kabar dari sulis, saat itu aku memang sedang bekerja di salah satu pabrik pembuatan aneka macem sosis di salah satu daerah yang tidak jauh dari rumahku.


Rasanya hari itu untuk berbicara saja malas, ingin cepat cepat ke sana melihat Cindy tapi tak bisa! Itulah mengapa aku harus menunggu besok, besok kan hari minggu otomatis semua temanku libur, jadi aku bisa leluasa meminjam motor mereka dan terbebas dari pekerjaan.


Untuk menghilangkan rasa cemas, malam itu aku pergi ke tempat biasanya kawanku ngopi, tak jauh hanya berjalan kaki pun sampai, dan benar saja! Di sana sudah sangat ramai, ada yang cuman duduk-duduk, ada yang sedang maen gitar, ada yang lagi sibuk sama gawai, pokonya macem-macem, kalo siang tempat ini kami sebut markas, kalo malam jadi basecamp, aneh ya! Tak konsisten.


Jujur! Malam itu aku terus saja terpikirkan perihal Cindy, padahal sudah beberapa kali ku bawa rilex dengan mengobrol atau bermain gitar sesekali, karna memang biasanya jika aku terpikir Cindy dengan seperti ini bisa sedikit tenang, tapi sekarang tidak! Semakin di buang itu akan semakin datang, aku juga sempat berbincang dengan Eri perihal keadaan Cindy, dan anehnya dia bilang bahwa aku harus bisa Ikhlas jika dia tak diberi umur panjang, sontak aku marah saat itu, bukan ucapan seperti itu yang kuharapkan, aku hanya ingin membagi bebanku, tapi dia malah menambah itu.


Malam itu sudah pukul 00:01, sebagian temanku sudah tertidur, aku dan sebagian yang lain masih dengan mata terbuka, tak tahu lah apa yang temanku kerjakan sampai harus bergadang tengah malam, dan aku? Aku sendiri bukan nya tidak mengantuk, namun bayangan Cindy seperti membangunkanku ketika sudah hampir tertidur.


Mungkin pulang akan lebih baik, membiarkan sejenak waktu untuk pilu mendapatkan tempat nya, menikmati perih yang kupercaya dapat merubah pola pikir seseorang.


Pagi itu baru saja satu kaki ku melangkah ke gerbang mimpi, semalaman aku tak bisa tidur dan baru terpejam pukul 05:00 dini hari, tak lama setelahnya Aziz datang ke rumah dan langsung membangun kan ku, mengganggu saja pikir ku mengapa harus datang pagi-pagi seperti ini, biasanya ku suruh kesini saja susah


“Hmm, apa Ziz, pagi-pagi ganggu aja ah” jawabku dengan mata yang masih terpejam.


Saat itu Aziz hanya diam yang membuatku bangun karna penasaran

__ADS_1


“Ada apa Aziz?” tanyaku kembali


“Gimana ya Fik bilang nya, gak enak gua”


“Halah tumben lu punya rasa gak enakan sama orang”


“Cindy fik, Cindy” jelasnya dengan ucapan terpotong.


Sontak saja aku langsung memaksanya untuk berkata apa yang sedang terjadi pada Cindy, walau sejujurnya aku masih sangat mengantuk saat itu.


“Lu baca Sendiri aja lah” katanya sembari memberiku ponsel milik nya.


Dengan mata yang masih sangat berat aku melihat kenyataan, beberapa kali aku mengocek mataku sendiri, lebih memastikan jika aku salah melihat, karna disana terpampang foto Cindy dengan ucapan berbela sungkawa


“Innalillahi wainna ilaihi raajiiun, telah berpulang kerahamatullah, teman kita semua, Saudari Cindy Januarty, semoga Keluarga almh diberi kekuatan dan semoga amal kebaikannya di terima disisi Allah S.W.T”


Setelah membaca itu dengan pelan, amarahku memuncak saat itu, bisa bisanya Aziz membuat lelucon seperti itu padaku, dengan nada membentak aku memarahinya, menarik kerah bajunya, tapi Aziz hanya diam saat itu, dia menunduk dan tak sekalipun membalas makianku, dengan sikapnya itu secara tidak langsung dia membuat aku sadar tentang satu kenyataan pahit yang tak pernah ku harapakan, ia serius dengan apa yang ia coba sampaikan, dan aku keras kepala untuk tidak mempercayainya, dengan badan yang sudah sangat lemas aku melepaskan tanganku di kerah nya, pikiranku saat itu hanya CINDY CINDY CINDY dan CINDY, dalam tatapan kosong dengan air mata yang mulai mengalir, jiwaku telah pergi jauh mengenang masa pertama kali aku mengenalnya empat tahun yang lalu, melihatnya kembali di bangku paling depan sedang lahap memakan mie yang ia bawa, melihat wajahnya yang sangat ketakutan ketika sedang di marahi salah satu guru kala itu, melihatnya tertawa mengejek karna berhasil membuat aku kesal dengan tingkah nya saat di PTIK, melihat raut wajahnya yang begitu sedih ketika menceritakan perihal kedua orang tua nya, melihatnya tersenyum manis saat ia mengajariku tentang rumus matematika, melihatnya kesakitan saat Aziz tak sengaja memukul bola Volly dengan keras ke arah nya, melihat wajah dinginnya ketika pertama kali aku menyapanya, melihat wajahnya dengan mata nanar saling bertatapan ketika kami tak sengaja terjebak hujan hari itu, semua tampak begitu jelas, manis, aku sungguh bisa merasakan nya walau aku hanya bisa mengingat nya.

__ADS_1


Dengan pipi yang semakin basah, perlahan bibirku tersenyum pekik ketika mengingat itu semua, lalu dengan sangat keras aku menampar pipiku berkali kali, berharap semua ini tak nyata dan hanyalah sebuah mimpi belaka, namun ternyata semua benar-benar fakta, begini adanya, aku merasakan perih di pipi bekas tamparanku sendiri, di sisi lain hatiku lebih perih ketika aku di paksa harus menerima semuanya, tangisku mulai bersuara, aku menjerit sejadi-jadinya, dengan hal sepahit ini aku bahkan lebih percaya pada khayalan karna sebuah kenyataan yang pernah aku harapkan.


__ADS_2