
Tak lama setelah aku mengirim pesan kepada beberapa temannya waktu itu, aku mendapat sebuah kabar yang kurang mengenakan, katanya di asrama Cindy sempat mimisan, dan dia tak mau dibawa pulang, dan yang lebih membuatku khawatir katanya dia tidak dibawa berobat, entah kenapa pikirku, andai aku di sana saat kejadian, aku yang akan membawanya sendiri, sayang nya saat aku menerima kabar ini, katanya ini beberapa hari yang lalu bukan sekarang, betapa aku merasa bersalah tak bisa menjaganya saat itu, tanpa berlama-lama hari itu juga aku bergegas pergi ke sana untuk mengetahui kabarnya sekarang, sebelum sampai di depan sekolah, aku bertemu dengan Ikrima, Dia sangat dekat denganku sejak pertama kali masuk asrama ini, aku sudah menganggapnya sebagai adik ku sendiri, begitu pun sebaliknya, dan ternyata dia juga sangat dekat dengan Cindy, mungkin karna mereka satu Asrama, dan juga katanya karna Cindy yang sangat baik, hingga semua yang ada di Asrama sayang kepadanya,
“Ehh Kakak, kakak kemana aja, Dede kangen, Kakak bener bukan pindah, iihh kenapa gak kasih tau Dedek,” sapa ikrima.
kemudian aku mematikan mesin motor dan mulai berbincang dengan adik ku ini,
“Ya ampuun Dedek mau kemana kok bisa keluar, iyah Kakak pindah, iyah maaf yah, Kakak gak sempet bilang,” kataku sambil membuka helm yang saat itu kupakai
“Dedek mau ke Pak Lili beli makanan" jawab nya manja
“Kakak sekarang pindah kemana?,Terus sekarang mau kemana?” sambung nya
“Kakak sekarang di rumah aja de hehe, oiya mau liat Kak Ncin katanya waktu itu sakit kan, emang bener bukan dek?” tanyaku lagi
“Iyah Kak, waktu itu hidungnya sempet keluar darah gitu, ikrim juga gak tau kenapa” jelas ikrima
“Ya ampuun, terus sekarang kondisinya gimana?” tanyaku yang semakin penasaran
__ADS_1
“Sekarang mah udah sehat lagi Kak, udah sekolah lagi, pokonya udah pulih lagi deh,” jawab ikrim sambil tersenyum.
Lega sekali aku mendengar jawaban ikrima tadi, karna aku sudah mengetahui semuanya, jadi aku mengurungkan niatku yang padahal tinggal beberapa meter lagi, tak apalah Ikrima tak akan bohong padaku,
“Yaudah makasih ya dek, Kakak mau pulang lagi aja, Dedek jaga diri disini, jaga teh Ncin juga ya, nanti Kakak kapan-kapan main lagi kesini, oke, Assalamu’alaikum” kataku seraya memutar balik motor dan pergi meninggalkan adik tersayangku ini.
“ Iyah Kak pasti, iyah dd jagain kok,, iyah waalaikumsalam” jawab Ikrim “Hati-hati kak” sambung nya lagi.
Hari hari demi hari silih berganti, tak terasa, aku sudah cukup lama dalam balutan kesendirian, disaat semua teman seusiaku disini dengan bangga memamerkan pasangan nya masing-masing, aku masih tetap kuat mempertahankan seseorang yang masih sangat ku sayang, terkadang aku juga mencoba menghilangkan rasa itu dengan sesekali memamerkan foto siapa saja yang ku temui di laman faceebook ku, dan aku menguploadnya, aku salah memang hehe, tenang saja semua sudah ku hapus.
Aku sering menceritakan kepada semua temanku tentang Cindy, jadi mereka paham dengan keisengan ku, bahkan terkadang ada saja yang menjadikan bahan lelucon ketika saling berbalas komentar, aku tak pernah menunjukan kesedihan kepada mereka, aku hanya bisa tertawa, lalu menangis setelah nya, Semua menganggap hubunganku dengannya baik-baik saja, aku yang dengan bangga berbohong kepada semua orang jika ada yang bertanya tentang hubungan kami, aku akan dengan lantang mengatakan bahwa Cindy juga menyayangiku, aku yang pertama bilang jika Kau paling sempurna diantara pasangan mereka, dan aku akan selalu paling depan jika seseorang mengejek dirimu, tapi apalah aku, aku hanya bisa berbohong dan berangan, berharap suatu saat kau akan mengetahui itu, Andai, begitu malang nya aku, di saat aku ingin benar-benar menjagamu, aku malah terjatuh sakit, ya malam itu aku merasakan nyeri yang amat sangat dahsyat, sampai seluruh bagian bawah tubuhku tak bisa ku gerakan, dan saat itu aku hanya berharap tuhan masih memberi kesempatanku untuk lebih lama di dunia ini, aku masih punya banyak tugas disini, aku belum bisa membahagiakan kedua orang tua ku, aku belum bisa membawamu bertemu dengan nya, dan aku masih ingin melihat senyummu
“Namanya siapa” kata dokter yang saat itu memeriksa keadaanku, yasudah ku jawab saja
“nama asli atau nama palsu dok, kalo nama asli Taufik, kalo nama palsu joy” kataku sambil tertawa kecil.
Aku seperti itu agar kedua orang tua ku tak cemas saja, dan itu cukup berhasil, mereka tersenyum mendengar itu, lalu setelah semua pemeriksan selesai, selanjutnya aku di pindahkan ke ruang rawat, untung saja suster yang saat itu menyuntikan jarum infus di tanganku manis, jadi aku bisa sedikit menahan rasa sakit hehe, jujur ya teman, yang sakit itu bukan saat jarum infus menembus urat di tangan, tapi saat obat di suntikan ke dalam selang infusan, rasanya semua urat di tubuhku merasakan sakit yang sama, Aku harapa kalian tak pernah mengalami ini, karna memang di sini sungguh sangat membosankan, tak seperti di film-film, itu bohong.
__ADS_1
Saat semua yang menjagaku sudah tertidur, aku kembali berharap kepada Tuhan, aku hanya ingin Cindy datang menemaniku, hanya Itu.
Oiya aku disini tak lama, karna aku paham akan pembayaran yang cukup mahal, aku tak ingin membuat orang tua ku tambah repot, yasudah sekitar jam 2 dini hari saat pemeriksaan, aku memutuskan untuk pulang saja.
“tok-tok-tok” suara ketukan pintu di iringi kedatangan staf perawat yang masuk ke ruangan.
“Pemeriksaan dulu ya a” katanya sambil memutar mutar sesuatu di infusan,
“Emh saya udah bisa pulang gak sus” tanyaku kepada salah satu suster yang ada disana saat itu,
“Belum bisa a, aa harus di rawat lebih lama lagi disini, demi kebaikan aa juga” Jelas nya kepada ku
“Tapi sus aku sudah sehat kok” Kataku lagi meyakinkan mereka,
“Tapi tetep gak bisa a,” jawab nya lagi
“Udah kamu tuh harus di rawat dulu disini, supaya cepet sembuh pik” potong ibu ku yang saat itu memang sudah terbangun,
__ADS_1
Aku tau ibuku berbicara seperti itu karna ingin melihat anaknya cepat sembuh, tapi aku juga tau kalo sekarang ini ibu juga tengah bingung memikirkan pasal pembayarannya nanti, aku terus saja memaksa kepada suster dan ibuku saat itu, bahkan aku sempat berpura pura kuat untuk berdiri kembali, dan usaha itu berhasil mereka percaya dan mengijinkanku pulang dengan syarat pihak rumah sakit tak akan bertanggung jawab jika terjadi apa apa denganku, yasudah kataku, aku menyetujui persyaratan itu, lalu aku dan semua keluarga yang ada disana pulang ke rumah.