
“Heh-heh lagi pada ngapain itu berduan, enak banget ya,” Bu Amy mengejutkan kami saat itu, aku lupa kalo sebentar lagi guru akan masuk kelas, ada-ada saja.
“ini bu, aku mau minjem buku kamus sama Cindy, iya kan cin” jelas ku sembari melihat Cindy
“Iya bu, bener kok,” kata nya menenangkan suasana
“Yaudah sana balik ke bangkunya” Suruh Bu Amy
Aku hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduk ku.
“Gimana pik, sukses?” Tanya Aziz si manusia kepo
“Alhamdulillah, udah beres, makasih ya bro, berkat lu gua jadi baikan lagi sama dia,” ucap ku.
Dengan wajah bangga nya Aziz menjawab “Santai bro, itu guna nya temen, makanya kata gua juga kalo butuh bantuan bilang sama gua”
“anak ini” kataku dalam hati “Iya siap bro, nanti lain kali kalo gua ada masalah gua bakal cerita sam lu deh” sambung ku,
“ nah gitu dong, good lah good”
Hari itu adalah hari dimana biasanya setelah pelajaran pertama kita akan ada acara pramuka, mungkin tak lama lagi kita akan migrasi lapangan, karna memang sebenta lagi istirahat.
Bell sudah berbunyi tadi, dan semua sudah kumpul dilapangan, kecuali aku, aku masih di dalam kelas, aku penasaran dengan buku diary nya, jadi rencananya aku mau ambil buku itu diam-diam, setelah kupastikan semua sudah benar-benar sepi, aku mulai mendekati tas nya, perlahan kubuka dan ya, I find it, sebuah buku berwarna oren, di jilid pertama aku tak menemukan yang aneh masih sama saja dengan kebanyakan buku diary yang pernah kulihat, aku tak punya buku itu, tapi dulu aku sering melihat punya teman ku, namanya juga diary, pasti isi nya tentang semua hal yang ia temukan di hidup nya, oh no, tidak semua, mungkin yang menurutnya unik dan menarik.
__ADS_1
Di halaman ke dua barulah ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menarik sekaligus membingungkan, sebab ada tukisan berbahasa korea, ya itu yang kutemukan, dia memang pandai berbahasa korea, bahkan pernah waktu itu aku di kasih surat dari huruf latin si tapi bahasanya korea isinya “Begosipeo” mudah-mudahan aku tak salah dalam mengetiknya, karna sulis juga sedikit mengerti bahasa Korea yasudah ku tanya saja padanya, entah mereka belajar dari mana sampai bisa sepaham itu, sejujurnya aku berharap ada sesuatu tentangku di sini, mungkin terkesan naif atau apalah, tapi saat itu aku tak perduli.
Lembar demi lembar kubuka dan aku belum menemukan itu, sampai dilembar paling akhir aku menemukan namaku, lengkap dengan tanggal lahir dan asalku, di bawah nya ada seperti surat atau apapun itu namanya, tapi aku tak mengerti, karna lagi-lagi dia menulis nya dalam bahasa Korean, tak apa lah setidaknya aku spesial di hidupnya, apapun itu isi suratnya, mau jelek, atau bagus aku tak terlalu perduli, tapi aku yakin itu pasti bagus, Itu harapan ku, dan mudah-mudahan benar.
Karna takut ada yang melihat, segera ku taruh lagi buku itu di dalam tas nya, persisi seperti saat aku menemukan dan mengambilnya, “maafkan aku Cin, aku cuman penasaran, apakah aku berbeda dengan yang lain dimatamu,” kataku bergumam dalam hati sambil berjalan ke lapangan.
Sudah sangat ramai sekali di sana, seperti di pasar kelapa, karna semua pakaian yang kami kenakan berwarna coklat, jika ada yang tak memakai nya berarti mereka pengepul.
Sebetulnya aku tidak tertarik dengan Pramuka, aku mengatakan ini bukan berarti aku setuju kalau pramuka itu jelek, tidak! Tidak sama sekali, karna banyak juga kawanku yang bisa sampai membanggakan sekolah di pelajaran ini. Aku juga lernah sekali ikut serta lomba kepramukaan. Aku mengatakan ini murni hanya karna pendapaku, toh tak penting, siapa juga yang akan mendengarku.
“Habis dari mana kamu pik, ko baru
dateng” tanya Cindy yang baru melihatku,
Dengan percaya dan mengangguk Cindy bilang “Ouh gituu,” “eh iyah ngomong-ngomong pangkat mu banyak ya, dulu rajin pramuka bukan? Sambungnya.
Seperti kataku tadi, dulu saat kelas 3 memang pernah ikut kegiatan lomba pramuka, dan waktu itu kita juara umum, dan baju yang kukenakan ini bukan punyaku, tapi punya Farhan, ketua regu dulu.
“Emm bukan Cin, ini baju temenku dulu pas MTS, namanya aja aku ganti hehe” jawab ku sembari menggaruk kepala, itulah yang ku lakukan jika aku bingung.
“Ouh gitu yah pik, yaudah deh, aku lanjut lagi ya, gabung ke timku dulu,” jawab nya singkat.
Singkat cerita, hari itu sangat melelah kan, aku tertidur sepulang sekolah, saking lelah nya aku sampai tidak ikut mengaji malam itu, “hukuman nya nanti saja saat setoran hafalan besok pagi” Seru Alm Aang lembut padaku, Aang itu guru sekaligus Ayahku disini, Beliau pimpinan diyayasan ini, dan Beliau amat sangat dekat dengan murid-murid nya, pokonya kalian gak akan pernah nemu sosok seperti Aang dimanapun, namun saat aku menulis ini Aang sudah tiada, Aang wafat karna penyakit lambung yang diderita nya, semua murid amat sangat terpukul saat Aang pergi, tapi harus bagaimana , Allah lebih sayang kepada beliau,
__ADS_1
“Muhun Bi” jawabku,
Saat pagi hari tiba, setelah semua selesai hafalan, Aku tidak dulu diperkenankan untuk kembali ke Asrama, hukuman yang belum ku tuntaskan harus ku selesaikan terlebih dahulu.
“Opik die kasep” (opik sini ganteng) sahut Aang dengan nada suara yang indah,
Segera ku hampiri, dan aku sudah siap menerima apapun itu hukuman nya, “kemaren tuh kan belum ya di hukum nya, nah sekarang sini berdiri samping Abi”
Apa yang hendak di lakukan Abi saat itu pikir ku, “Coba sekarang opik nyanyi dangdut, sedikit aja”
Saat itu memang sedang tak banyak orang, ada beberapa dari petugas kantor saja, tapi aku malu walaupun hanya beberapa, apalagi harus bernyanyi di samping Abi, “Opik kan jago tuh nyanyi lagu bang H.Rhoma Irama, coba sedikit aja nyanyiin” sambung Abi,
Aku memang sering bernyanyi dengan nada keras jika hendak ke kamar mandi dan seusai selesai setoran, dan sepertinya Abi tau akan hal ini, “gak bisa bi” jawab ku sambil tertunduk malu “jangan gitu ah, ayo sedikit aja kok” Ucap Abi lagi, karna aku tak mau membuat Abi marah dan kecewa yasudah ku nyanyikan saja, aku masih ingat saat itu judulnya BEGADANG JANGAN BEGADANG, Ya ampun, muka ku merah sekali, suaraku gemetar, “Begadang jangan begadang,,” “udah-udah, sekarang boleh ke asrama, lain kali jangan ketiduran lagi ya,” Potong Abi sembari tersenyum padaku, itulah Abi, sosok yang sangat Penyayang, Abi selalu memberikan hukuman yang ringan namun dengan efek jera yang dalam, sesuatu yang sangat luar biasa bagiku,entah bagi kalian,setelah itu tak ada lagi seorang Taufik Ryan Hidayat yang tidak mengaji, aku selalu duduk di depan dan tak pernah tertidur,
Selanjut nya di Sekolah hubungan Ku dan Cindy kembali membaik, bahkan kembali dekat seperti dulu,banyak kejadian-kejadian indah dan lucu kami lalui bersama, salah satunya saat hari itu,
“Ehh ada bola volly nganggur nih pik, ko ada di sini si” kata Aziz sembari memungut bola itu “bekas Anak-anak kemaren kali gak di beresin lagi” jawab ku sembari mengambil bola yang sedang di pegang Aziz “Bisa jadi, ia emang bekasnya tuh suka gak di rapihin lagi mereka mah,” “Yaudah main yu sebentar, operan aja” sambung nya,
Karna kami hari itu berangkat pagi sekali untuk piket, dan kebetulan Aziz melihat bola volly tergeletak, jadi kami bermain dulu sebentar di depan kelas, hanya operan kecil kok,
“Pik jaga” teriak Aziz dengan memukul keras bola itu, sontak saja aku menghindar, dan kebetulan Cindy sedang lewat dan ada di belakang ku saat itu, dan “buuk” bola itu menghantam tangan kanan nya, “Aww, Aziiz ihh sakiit” dengan perasaan yang begitu cemas Aku langsung melihat keadaan nya, dan Aziz malah kabur ke dalam kelas,sialan emang anak itu. “Coba aku lihat Cin, gak papa kan? Sakit ya?” Tanyaku khawatir pada nya “Iya ihh sakit, gak hati-hati ihh mainnya” jawabnya sembari menahan sakit,
Lalu tangan ku refleks memegan tangan Cindy yang tadi terkena bola, perlahan aku mengusap dan meniup tangan lembut itu, dan ini kali pertama aku bisa memgang tangan nya, “Sini-sini Cin mana yang sakit, ini kan, maafin aku ya,” dia tersipu beberapa saat dan tidak menarik tangan ku, “Iya pik udah gak papa kok, udah gak sakit, maksih yah” balas nya sembari tersenyum dan menatap ku, kalian pasti berpikir kejadian ini hanya aku buat-buat di novel ini, karna kalian terlalu sering melihat kejadian serupa di Ftv kan, hayooh ngaku aja hehehe,. Tidak teman, ini memang pernah terjadi pada kami, jika kalian tak percaya, kalian boleh bertanya pada Aziz, mungkin dia hanya akan tersenyum jika di tanya hal itu.
__ADS_1
“Emm yaudah deh syukur, maaf ya” lanjut ku sambil melepas tangan nya, “Iya opiik gak papa, yaudah main sama aku yuk sebentar, ajarin cara mukulnya gimana si” Siapa yang akan menolak jika gadis yang kalian sayang meminta hal seperti itu,