RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
BAB 27


__ADS_3

Siang itu Aku, Galih, Ogon, Aziz, Ilfa, Wahidah, serta Wildah berangkat bersama, katanya Sulis dan Agil akan menyusul jika urusannya sudah selesai, perjalanan akan cukup lama jika harus melewati jalur biasa, aku sudah tahu jalan pintas kesana, karna memang sebelumnya pernah kulalui saat kepuncak bersama kawanku, mungkin mereka belum tahu jalur itu, hari itu aku yang memimpin di depan melewati jalan dan indomaret yang sudah tak asing lagi bagiku, aku hafal betul jalan disini, di dekat pasar akan ada jalur berlubang yang dulu hampir saja membuatku celaka, dan setelahnya ada banyak permukaan jalan yang tak rata, rasanya aku ingin mengadu pada Pak Presiden!.


Aku melepas helm yang rasanya sudah seperti mencekik, kencang sekali!


Rupanya Nadia sudah terlebih dulu ada disana, masih ingat Nadia? Yang beberapa kali kusebut diawal? Kawan Cindy yang pernah kutanyai tentang buku apa yang Cindy suka? Jika lupa, kalian harus segera pergi ke klinik! Mungkin ada yang bermasalah pada salah satu syaraf ingatan kalian, tapi, memang ada ya syaraf ingatan? Aah, entahlah pokoknya, itu!


“Kok cepet si?” Tanya Nadia


Galih menjawab seraya menoleh padaku


“Tuh, kita lewat jalan pintas ngikutin si Ofik”


“Ouh gitu, ofik-ofik, sampe jalan pintas kerumahnya aja tahu” Nadia meledek ku!


“Aku tahu semuanya tentang Cindy, satu


yang belum”


“Apa?” saut Aziz


“Perasaannya padaku”


Ogon menimpal!


Harusnya aku yang bilang seperti itu, baru saja datang kami sudah memulai keramaian disana


“Syuut berisik!, masuk aja yuk!” Kata Nadia.


Ada yang langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu, ada yang duduk di teras depan, dan yang cewek memilih untuk segera menemui Cindy di kamarnya.


“Ada siapa Nad di dalem?”


“Ada Ilfa, Wahidah, Wild…”


“hey.. bukan itu!” potongku


“hehe, iya iya, gak ada siapa-siapa, aku sama Cindy doang, tadi pagi si, ada sulis cuman dia izin pulang dulu, mau kuliah katanya!”


“sudah tahu kalo itu”


hatiku menjawab

__ADS_1


“Ibu sama Ayah nya?” tanyaku kembali


“Belum pulang kerja”


Entah lah, saat itu aku ingin sekali marah pada ibu dan ayah nya, bagaimana bisa mereka meninggalkan Cindy yang masih lemah, memang benar dia tidak benar-benar sendiri, tapi apa mereka setega itu?, Memikirkan itu aku kembali ingat saat dulu ia menangis di kelas karna tidak di perhatikan orang tua nya, seketika itu pula aku ingat bahwa aku sendiri yang bilang jika mereka seperti itu adalah bentuk kasih sayang yang mereka tahu, walaupun berbeda dengan kebanyakan orang tua!.


15 menit sudah aku dan kawanku di sana, dan aku belum juga menemui dia, maksudku Cindy! yang lain sudah semua, termasuk kawanku yang cowok, bergiliran! Karna memang tidak akan cukup jika semuanya langsung masuk, bukan tak mau bertemu, justru orang pertama yang ingin kulihat saat baru sampai hanya dia, hanya saja saat itu aku sedang mengatur perasaanku sendiri, jujur saja! Melihatnya dengan kondisi seperti itu pasti akan membuatku menangis, dan masalahnya aku tak mau jika dia tahu.


“Fik, Cindy belum makan tahu dari pagi!” ujar Nadia sambil menyapu teras yang mulai kotor bekas cemilan yang dimakan kawanku


“hah?”bAku kaget “kenapa bisa belum


makan? Udah mau jam satu siang loh?” tanyaku


“Gak tau tuh, dulu pas awal-awal kamu kasih air yang dari kakek mu itu nafsu makan nya balik lagi.” Jelas Nadia


“tapi dari semalem gak mau makan lagi”.


Darimana Nadia tahu kalo aku pernah kesini ngasih air dari kakek?


“Kok kamu tau aku kesini nganterin air?”


“Cindy cerita lah sama aku!”


“Yasudah! Biar kubujuk”.


Langkahku terhenti tepat di depan pintu kamarnya itu, ia sedang berbincang dengan Wildah, sepertinya seru karna sesekali mereka tertawa! Itulah mengapa Cindy belum menyadari keberadaanku!. Sejenak ku pandangi wajahnya, wajah yang dulu jadi salah satu alasan mengapa aku suka padanya, aku tak munafik! Salah satu alasanku suka padanya ya memang dia berparas cantik, namun jika ada salah satu pepatah yang mengatakan jika Cinta membutakan dan menulikan itu juga benar, karna sekarang aku tak perduli mau seperti apa kondisi fisiknya, mau seperti apapun perkataan orang terhadapnya, aku akan tetap dan tetap menyayangi nya.


“Tok-tok-tok” ucapku menirukan suara ketukan pitu


Mereka menoleh! Widah tersenyum, namun Cindy diam saja memandangiku


“Boleh mengganggu waktunya?” ucapku sembari masuk dan duduk disebelahnya.


Bisa ku tebak! Cindy sepertinya merasa grogi dengan ada nya aku di sana, aku memang tidak pandai membaca bahasa tubuh, tapi mukanya yang memerah sudah cukup menjadi alasan kuat mengapa aku bisa menerka seperti itu.


“Yasudah aku keluar ya.” Ucap wildah


“jangan wil, disini aja temenin!”


“kan ada si ofik” ucap Wildah

__ADS_1


“ih kan dia mah cowok” katanya


“gak baik” lanjut Cindy sembari berbisik


“Iyah wil, jangan kemana-mana disini aja” ujarku.


Sebetulnya aku juga ingin wildah keluar, bukan mengusir! ingin sekali rasanya duduk berdua hanya dengan Cindy, seperti dulu saat di kelas, bisa berbicara apapun dengan nya.


“Katanya di sini ada yang belum makan ya?” tanyaku mengawali kembali obrolan


“iyah nih fik, Cindy susah di suruh makan nya”


“Uwil apa si ih!” timpa Cindy yang semakin malu dengan perkataan wildah tadi, alasanku yang menebak kalau dia sedang grogi kini menjadi semakin kuat.


“Yasudah, sekarang juga kamu harus makan ya Cin”


“gak ada apa-apa fik” jawab nya “ibu ku gak sempet masak tadi” lanjutnya


“Yasuda-yasudah, sekarang silahkan Ibu mau pesen apa? Tulis saja menunya di sini” bujukku sembari menyobek kertas dan mengambil ballpoint yang tergeletak di meja belajarnya


“Emh emh co cweeet”. Lagi lagi wildah meledek.


Aku dan cindy sedikit tersipu, kami memandang satu sama lain dengan tersenyum malu


“terserah aja deh bapak mau buat apa” jawab Cindy membalas rayuanku.


Di dapur memang benar tidak ada yang bisa di makan, hanya ada mie instan yang masih terbungkus rapat, beberapa sendok besi dan piring kaca, kebetulan sekali! Mudah bagiku jika hanya memasak mie.


“Taraaa, pesanan sudah sampai” seraya membawa mie hangat yang kumasak sekitar 7 menit.


Cindy mulai terduduk dibantu wildah yang memberikan bantal untuk menopang tubuhnya


“Apa ini?” tanya wildah yang sebetulnya sudah tahu itu mie


“Kok mie sih!” ucapnya kemudian


“iyah mie, dari pada gak makan sama sekali kan”


“justru itu ofik! Cindy itu lambungnya lagi gak baik, terus dari tadi belum makan, dan sekarang kamu mau ngasih dia mie?”


“dia bukan malah sembuh kalo gitu” sambung wildah.

__ADS_1


Konyol sekali aku ini! Mungkin tadi aku terlalu sumbringah menyiapkan makanan untuk dia, sampai hal yang sudah begitu jelas pun jadi tak terpikirkan oleh ku.


Aku baru pulang dari warung di pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya, beli telur, bukan tanpa alasan! Selain mie aku hanya bisa memasak telur, nasi goreng juga bisa sebenarnya, tapi saat memasak mie di dapur tadi, aku hanya melihat tomat, bayangkan! Nasi goreng tomat seperti apa?.


__ADS_2