
Di luar kamar Ibu dan Bapakku sudah mendengar semua percakapan kami di dalam, mereka tidak masuk kesana sama sekali, mungkin pikirnya aku perlu waktu untuk sendiri, menerima luka untuk mendewasakan diri, seketika kabar itu pun menyebar, saat kulihat ponsel banyak sekali panggilan masuk di sana, aku sudah tahu mungkin mereka ingin mengabariku, tanpa menghiraukan semua kejadian di sekitar, kami (Aku dan Aziz) segera bergegas ke kediaman Cindy, sebelumnya kami datang ke rumah Jabar dan Adiw yang memang searah, di tengah jalan mataku hitam, pandangan ku kabur seketika, saat itu pula aku tak sadarkan diri, ketika terbangun ternyata aku sudah berada di rumah besar milik Adiw, maaf, di awal cerita aku tidak terlalu menyebut nama Adiw dan Jabar dalam cerita ini, tapi tetap saja mereka teman yang juga ikut andil dalam perjalananku bersama Cindy,
“Minum hela Fik” (minum dulu fik) kata Adiw ketika melihatku mulai tersadar
“Embung diw, urang mah embung nanaon, hayang si Cindy” (Aku gak mau apa-apa, cuman mau Cindy) ucapku dengan tatapan kosong kembali menangis.
Terlihat Aziz, Jabar, dan Adiw hanya bisa saling memandang dan terdiam, membiarkanku sejenak melepas tangis, lalu tak lama Jabar memecah suasana di tengah keheningan itu
“ Yaudah Fik ayo ke rumah Cindy, kalo kelamaan takut gak keburu hadirin pemakaman dia”
“Iya, Jabar bener, ayo cepet”
“ Ayo fik, lu pasti bisa, gua bantu bangun ya” ucap Adiw sembari merangkul pundak ku.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, masih saja berharap ini memang hanya sebuah mimpi, dan aku ingin cepat terbangun dari mimpi itu.
__ADS_1
Tak lama kami segera bergegas ke rumah Cindy, dari kejauhan sudah terlihat dua bendera kuning berkibar di depan gang kecil menuju rumah nya, sungguh aku benar-benar tak menyangka bahwa ini benar-benar nyata, mengapa harus secepat ini? Tanyaku kembali bergemuruh di dalam hati
“Udah diw, turun disini aja” ucapku tepat di gang itu
“Yaudah ayo cepet fik kesana, gua mau parkirin motor dulu”.
Aku berlari kecil dengan sisa tenagaku, angin kencang seakan meniup air mata ini, seakan memberitahu bahwa aku harus kuat, belum sampai di depan rumah nya, langkahku terhenti di depan mesjid hijau itu, dari dalam sana terlihat sebuah keranda yang membawa Cindy, disusul banyak orang di belakangnya, aku terduduk lesu sembari menatap kepahitan itu, menyaksikan kekasihku terbaring lemah tak bernyawa, rasanya baru kemarin aku mengantarkan novel padanya, baru kemarin aku menyuapinya makan, baru kemarin aku berbincang via telfon dengannya, mengapa harus secepat ini? Padahal aku belum sempat mengembalikan ballponitnya yang dulu kupinjam, aku belum sempat berterima kasih karna ia selalu mengajariku bahasa inggris, padahal aku belum sempat menepati janji akan membawa dia terbang dengan kebahagiaan, padahal kami belum sempat menepati janji kami lalu apa yg harus aku lakukan sekarang? Rasanya otak ku berhenti untuk beberapa detik, lalu perlahan Ia melewati ku, aku tahu mungkin saja ruh nya sedang berteriak saat itu, memanggil Ibu, Ayah, keluarganya, atau bahkan Aku, disana aku masih sempat terdiam hingga akhirnya salah satu dari kerumunan itu menepuk pundak ku
“A, kunaha?” (A, kenapa)
Sontak saja aku kaget lalu spontan menjawabnya
“Ouh nya, sugan kunaha a bengong wae kitu” katanya (kirain kenapa, soalnya bengong terus)
“hayu atuh a, sareng” (ayo atuh, bareng)
__ADS_1
“oiya kang” jawabku
Kakiku berjalan dengan sendirinya, mengantar Cindy ketempat terkahir kali ia akan beristirahat, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini, rasanya aku ingin cepat mati agar bisa terus bersamanya, sebab harapanku satu demi satu perlahan gugur, disapu angin berterbangan tanpa arah, tega sekali engkau, membiarkan aku sendirian memungut sisa-sisa mimpi yang dulu kita rangkai, kau bohong tentang janjimu kala itu, kau bilang, aku akan bersamamu, kau bilang aku sahabatmu, kau bilang aku orang yang benar-benar kau butuhkan, nyatanya apa? Kau hirap dan hanya menyisakan jatah untukku terus jatuh, lalu aku disini harus apa? Menyaksikan kejamnya dunia sendirian? Lantas setelah kau tak ada dengan siapa aku harus melepas rinduku? karna siapa aku bisa tertawa? Sebab siapa aku bisa menangis? rasanya semua gelap dan mengecil, hanya ada aku dan keranda yang membawa itu disini.
Lalu perlahan aku menyaksikan kau diturunkan dari dari keranda itu, terbungkus kafan dan tak kulihat lagi pandanganmu yang menyeramkan, semua orang mengiringi kepergianmu, kecuali aku, sebab aku tak pernah sedikitpun berpikir jika harus seperti ini akhirnya.
Aku menangis sejadi-jadinya saat gundukan tanah merah mulai menutup kehadiranmu, semua disana memperhatikanku, tapi aku tak merasakan kehadiran mereka, aku hanya perlu kamu.
"Udah pik, yang sabar" kata Aziz sambil merangkulku.
Lalu dari arah sebrang ibu Cindy mulai mendekat dan memelukku, kami berdua menangis bersama dalam pelukan itu, sedangkan ayahnya hanya tertunduk dan sesekali menyeka air mata.
"Sabar ya sayang, Cindy pasti udah tenang, dia sudah sehat sekarang" Ujar ibunya dengan tangisan
Aku tak membalas ucapannya, aku hanya terus saja menangis.
__ADS_1
Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu mulai meninggalkan tempat itu, dan terakhir aku melihat ibu ayah dan adiknya berdoa bersama sebelum mereka juga pulang, aku sempat diajak, tapi aku menolak, aku masih perlu waktu lebih lama bersamanya, setelah hanya ada aku dan Cindy yang kini telah tertutup gundukan tanah itu, aku mulai mengatakan kembali hal yang belum pernah aku katakan dulu, dengan tangisan aku meminta maaf karna tak bisa datang saat dia di Rumah Sakit, aku meminta maaf karna tak bisa menepati janjiku, aku menyesal karna selama ini aku gagal membuatmu sembuh dan berpijar, dan untuk yang terkahir kali aku juga katakan perasaanku yang tak pernah sedikitpun memudar, justru semakin hari semakin besar, aku tahu aku terlambat mengatakan itu, aku tahu aku bodoh karna tidak memperjuangkanmu, aku tahu aku salah melepas dan membiarkanmu bersama orang lain, sebab dimana mereka sekarang? Dimana Malik? Dimana syarif? Mengapa mereka tak ada? Mengapa mereka tak datang? Dimana orang yang dulu kau puja dihadapanku, kau elukan mereka seolah merekalah yang paling menyayangimu, mungkin sekarang kau tahu dan paham, siapa yang benar-benar tulus menyayangimu.
Lama sekali aku menangis sambil berbicara sendiri disana, dan aku merasa sangat lelah saat itu, sambil memeluk pusara Cindy aku tertidur, dalam tidurku, aku bertemu dengannya, ia memelukku erat sambil menangis lalu tersenyum, dan ini adalah pelukan pertama dan terakhir kita, dia juga berkata bahwa selama ini dia juga menyayangiku, aku senang dan kecewa, senang karna dia juga merasakan hal yang sama, serta kecewa mengapa ia baru mengatakan itu, setelah kini jasadnya tak bisa lagi aku dekap, tak bisa lagi aku lihat, tak bisa lagi kudengar, mengapa kau baru mengatakan itu?