RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 19


__ADS_3

Pagi harinya saat aku kembali membuka handphone yang semalam kutinggal, ternyata Cindy mengetahui kabarku yang tengah sakit, entah dia tau darimana,


“Pik kamu sakit bukan? Sakit apa pik?” isi pesan singkat itu


“iyah Cin, tapi aku baik-baik aja kok, sekarang udah pulang, cuman kecapean aja” jawabku cepat membalas pesan itu


“Gak mungkin kalo kamu cuman kecapean, kamu bener pik gak mau jujur sama aku?”


sebetulnya berat untuk jujur padanya saat itu, tapi aku tak ingin dia menduga-duga, akhirnya ku beritahu semua tentang penyakit ku, dia sempat lama membalas pesanku saat itu, entah kenapa, dan aku juga ingin tau bagaimana reaksinya ketika mendengar perihal penyakitku itu.


Beberapa hari setelahnya, kami kembali di pase bagaimana sulit untuk bertukar pesan, dia tiba-tiba menutup akun media sosial Facebook miliknya, jadi sekarang aku tak bisa menyimpan fotonya yang memang sering ku curi di media sosial ini, untung saja aku sudah sempat menyimpan banyak, sebetulnya bukan sulit untuk menghubunginya, tapi aku menghargai kehidupan Dia saat itu, dan dia entahlah, masih peduli denganku atau tidak, oiya aku sempat lupa menceritakan sahabat Cindy di sana, ya, di kampung halamannya, Ia beruntung memiliki sahabat yang sangat peduli satu sama lain, mungkin karna memang mereka sudah sejak dari bangku SD bersahabat, maka tak heran jika perhatian itu akan mengalir begitu saja, mungkin lebih tepatnya keluarga ke dua baginya, Koplak kompak, kalo tak salah mereka menamai persahabat itu dengan nama ini, dia sering menceritakan perihal mereka, katanya kalo koplak itu buat cewek-cewek, sedangkan kompak buat para cowok, tapi sayangnya dia tak memberitahu nama dari mereka masing-masing, dulu aku sempat menghubungi salah satu dari mereka, tapi aku lupa siapa namanya, saat itu aku tau karna sering kepo Fb Cindy.

__ADS_1


Setelah jatuh sakit, aku tak diperbolehkan lagi berjualan oleh orang tuaku, katanya takut nanti takut malah kerasa di tengah jalan, aku sempat mencoba masuk di SMK yang lain, tapi karna jarak sekolah ini dengan sekolahku dulu di Assyukur cukup dekat, mereka tahu akan semua hal buruk yang pernah aku lakukan dulu, dan itu sebabnya aku tak di beri izin, dan sekarang aku hanya menghabiskan waktu di rumah, menonton televisi, memandang foto Cindy, lalu menjahili adikku, memandang foto Cindy lagi, buka handphone, memandang foto Cindy lagi hehe, apapun rutinitasku saat itu, pasti ku selingi dengan melihat potretnya, kalo kata anak zaman sekarang sih dia itu namanya Mood Booster, gitu kalo gak salah.


Aku juga sudah lama tak mengunjunginya, karna memang saat itu kondisiku tengah tak baik, kami hanya sesekali berbalas pesan singkat saja jika ada waktu, sampai suatu saat aku dengar, bahwa hubungan Cindy dan Mang Mendi mulai renggang, aku tau kabar ini dari Rossy yang memang sudah janji akan memberitahu aku jika ada hal baru mengenai Cindy, aku tak pernah tau apa yang membuat hubungan mereka menjadi seperti ini, tapi aku yakin mereka punya alasan masing-masing dibalik semua kejadian ini, saat mendengar kabar itu perasaanku berada di antara dua pilihan, apakah aku harus senang dengan kabar ini? atau justru kebalikan nya, jika kalian berada di posisiku kalian akan memilih yang mana kawan? Apa? Ya, kalian benar, aku senang mendengar itu, walau terdengar seperti orang jahat, tapi ini memang sangat kunanti, agar tak akan ada lagi janji yang menghalangiku untuk kembali lebih peduli padanya.


Sejak saat itu kami kembali sering menjalin komunikasi via ponsel, aku yang memulai pembicaraan, hingga kubuat dia tak sadar bahwa sedari tadi aku tengah membawanya terbang setelah sekian lama aku membiarkannya berlari sendiri, maafin aku, aku sempat berjanji dulu, dan aku Laki-laki, dan amat sangat pantrang seorang lelaki mengingkari janji, di tengah-tengah obrolan aku sering mengajaknya untuk bertatap muka, video call maksudku, tapi entah kenapa dia selalu tak menyetujui itu, padahal aku hanya ingin melihat wajahnya sebentar, tak apalah, dengan bisa kembali berbalas pesan saja aku sudah sangat mensyukurinya, sekarang dia kelas 11 SMK sama denganku jika aku melanjutkan sekolah ku dulu, hehe, biasanya di seluruh Indonesia atau bahkan Dunia, jika seorang pelajar SMK sudah menginjak kelas 11 atau kelas dua SMK maka mereka akan di tempatkan di salah satu perusahaan sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, kami biasanya menyebut dengan nama PKL(Praktek Kerja Lapangan) atau juga sebutan yang lain, katanya dia sekarang di tempatkan di salah satu perusahan susu kemasan, PT Milko namanya, di daerah Ciherang, tak jauh dari rumahku, aku dulu sempat beberapa kali kesana sekedar ingin menemuinya, tapi gagal hihi, katanya dia berangkat di rumah Nadia dengan 2 teman yang lainnya, Sulis dan Risma, Nadia itu salah satu teman dekat Cindy di asrama selain sulis, Risma juga, tapi Dia tak begitu dekat dengan mereka, Sulis dan Nadia ini orangnya tak beda jauh dengan Cindy mereka cantik dan pintar juga, tapi lebih cerewet, tak ayal saat itu temanku Andri begitu menyukai sulis tapi gagal, Andri ini sedari dulu memang sering gagal masalah asmara, dulu juga dia sempat suka dengan wanita yang pernah Aziz pacari, dan Dia juga gagal saat itu, iyaa atu tak Bohong, Dia benar-benar gagal.


Saat itu aku juga pernah menawarinya jasa antar jemput, supaya dia tidak boros ongkos dan menghemat waktu juga, karena memang jaraknya lumayan dari Rumah Nadia ke sana, tapi dia juga menolak, katanya tak mau merepotkanku, padahal aku sangat suka jika direpotkan olehnya, tapi dia tak juga kunjung mengerti, aku sangat rindu saat itu padanya, aku pernah sekali mengabari Nadia agar memberitahuku dimana rumahnya, aku hanya ingin mengantar makanan untuk teman-teman yang sedang berjuang, masalah bertemu Cindy itu mah bonus pikir ku, hehe, untungnya nadia itu baik, dia memberitahuku, dan Cindy juga tahu itu, tanpa banyak pikir aku berangkat menuju rumah Nadia, cuaca saat itu mendung, semoga saja tak hujan hanya itu ingin ku, aju memulai perjalanan, namun setelah dekat dengan tujuanku, hujan ternyata benar-benar turun, karna pikirku sudah dekat dan aku akan berteduh disana, maka tak kuhiraukan, hingga sampailah aku di depan sebuah bangunan yang kuanggap itu rumah Nadia, segera kuhubungi Cindy, aku tak memberitahu yang lain bahwa aku akan kesana,


“Aku di rumah Nadia pik, kamu di depan mana yang bener?” jawabnya lagi dengan emot bertanya


“Aku di depan rumah Nadia, ini kehujanan, bisa keluar dulu gak? Pintaku yang mulai menahan rasa dingin.

__ADS_1


Entah aku yang salah rumah atau Cindy yang enggan menemuiku, tapi apa mungkin dia setega itu padaku, dia bersikeras tak melihat ku lewat jendela di rumah Nadia


“Tapi ini aku liat di jendela depan gak ada siapa-siapa pik, mungkin kamu salah rumah kali” balasnya lagi


“Ouh gitu yah, kayaknya aku salah rumah Cin, yaudah aku pulang lagi aja deh, gak tahan dingin” balasku lagi dengan jari yang semakin bergetar,


“Makanya kamu tuh jangan suka sok tau, kalo kamu mau kesini bilang dulu sama aku atau nggak sama temenku yang lain disini, jangan asal berangkat aja, sekarang kan jadinya gini, yaudah kamu hati-hati di jalan,” begitu jawab nya.


Karna saat itu aku sudah benar-benar tak tahan dengan cuaca sekitar, aku tak sempat membalasnya, dengan keriput tangan yang sudah terlihat karna dingin, aku memacu motorku saat itu, ditengah derasnya hujan, aku menangis saat itu, tak akan ada yang tahu juga kan, walaupun aku seorang lelaki yang dituntut tak boleh cengeng, tapi aku juga sama dengan kalian, aku manusia, aku punya hati dan perasaan, terserah apa kata kalian di sana.


Mungkin sekitar Lima Belas hari aku bertukar pesan dengannya setelah ia pulang dari tempat prakteknya itu, katanya sekarang dia berangkat dari rumah, Sulis dan Risma juga sama, ya aku memang lebih setuju seperti itu, alesannya yang pertama kasihan juga sama Nadia, sama keluarganya, yang ke dua kalo di rumah kan mereka bisa sama-sama enak, dari berangkat sampi istirahat pun bisa lebih leluasa.

__ADS_1


__ADS_2