
Walau kami jarang berkomunikasi langsung, tapi aku tau kondisinya disana , aku sering bertanya tentang itu, aku juga kadang melihat dari beberapa story temannya, dia disana terlihat bahagia, dan itu sudah cukup bagiku, cukup untuk menemani sisa kerinduan ini, dan sebentar lagi dia akan menghadapai ujian akhir, ya ujian kelulusan, ujian yang akan menentukan kelululusannya, namun sayang ujian itu tak bisa dilakukan secara langsung, melainkan dengan cara online, karna adanya wabah virus yang cepat menyebar dan sudah menyebar ke beberapa negara, termasuk negara kita, di satu sisi aku senang dengan kabar ini, karna aku bisa kembali berkomunikasi dengannya, tapi disisi lain aku sedih dengan keadaan ini, bagaimana tak sedih, kondisi ini merubah semuanya, dari aktifitas, sosialisasi antar masyarakat dan masih banyak lagi efek yang ditimbulkan wabah ini, semoga wabah ini segera enyah dari dunia, hanya itu yang bisa aku lakukan berdo’a kepada sang Maha kuasa, selama beberapa hari ia mengerjakan ujiannya itu, aku tak mau mengganggunya, aku tahu dia harus fokus, walau aku percaya dia pasti bisa karna aku tahu kemampuannya itu.
Benar saja, dia berhasil melewati semua soal demi soal itu, dan katanya setelah ini, dia dan yang lain sudah mulai bersiap untuk mengadakan acara kelulusan, walau tempat dan harinya masih belum di tentukan.
Suatu hari aku mendapat sebuah kabar yang bagiku lebih buruk dari kabar apapun, dia januaryku tengah lemah, dia sakit dan sudah beberapa hari ini hanya bisa terbaring di tempat tidur, katanya hanya demam biasa, namun tetap saja aku tak kuasa mendengar kabar itu, karna aku tahu dia tak pernah sakit sampai berminggu-minggu, aku sangat-sangat mengkhawatirkan keadaan nya.
“Cin gimana kabar kamu? Masih sama?” tanyaku risau padanya.
“Emhh udah mendingan kok pik,” balasnya
“Yang bener Cin, jangan ada yang ditutupin ya kalo ada apa-apa, aku mau tahu cin” lanjutku
“Ia Pik, pasti kok, aku pasti ngabarin kamu,” balasnya lagi.
Aku sangat tahu saat itu dia berbohong tentang kabarnya dan tentang apa yang barusan ia katakan, tapi aku hanya bisa mengiyakan itu semua, aku juga ingin dia merasa lebih tenang, hari-hari berikutnya aku tak pernah absen menanyai kabar baik darinya, dan jawabannya pun tetap sama, tapi anehnya aku merasa itu belum cukup, aku merasa Cindy masih berbohing dan mencoba menutupi sesuati, aku harus bertindak atau malah menyesal nanti, hingga terbuatlah sebuah keputusan yang sudah kubulatkan, aku harus menemuinya, aku tak perduli dan tak akan bertanya padanya, aku hanya ingin melihat kondisinya.
Sekitar jam 8 malam sebelum aku berangkat mencari rumahnya yang pasti tak akan jauh dengan acara maulid tempo hari, aku memastikan dahulu dengan bertaya kepada Nadia, dan katanya memang dekat dengan acara tempo hari, katanya jika sudah ada disana aku bisa bertanya kepada warga yang ada, pasti mereka tahu betul dimana rumahnya, aku juga tak lupa kesukaannya yaitu membaca novel, dia bisa berjam-jam menghabiskan waktu jika sudah bertemu buku, jadi di jalan aku mampir terlebih dulu ke sebuah toko buku, yang kebetulan kulewati sebelum kesana, aku tahu dia akan merasa sangat jenuh dengan keadaanya yang hanya bisa berdiam diri di rumah, aku tak mau hal itu berlanjut, karna itulah aku berinisiatif membeli sebuah buku, sebelum benar-benar mantap dengan buku yang kupilih, aku kembali meminta pendapat Nadia, apakah nanti dia akan menyukai buku yang kubeli ini, beberapa contoh buku aku foto dan kukirim pada Nadia, dan Nadia bilang kalo sepertinya Cindy akan lebih suka dengan gambar buku kedua yang kukirim, buku yang berjudul “Muhasabah cinta” selain Nadia, aku juga sebetulnya menyukai buku ini hehe, setelah selesai di toko aku kembali melanjutkan perjalanan, saat itu aku di temani Rahman, temanku, kami melanjutkan kembali perjalanan sekitar pukul 20:30 atau setengah sembilan, memang sempat ada beberapa kendala selama di jalan, rantai motor yang hampir putus lah, kehabisan bensin lah, dan yang paling parah kami tersesat karna saat itu aku lupa jalan menuju kesana, dan Rahman pun tak ikut saat acara Maulid dulu, jadi dia lebih tidak tahu dari pada aku, kami bertanya kepada setiap orang yang ada di jalan saat itu, dan dengan perlahan mengikuti petunjuk dari orang yang kami temui dan akhirnya kami behasil sampai disana, ya walau pun saat itu kami tiba cukup larut malam, sekitar pukul 22:30 dan itu buruk, ditambah tak ada satu pun warga yang kami temui, terpaksa aku kembali bertanya kepada temanku yang sudah pernah kerumahnya, Ogont dan Galih, ya, mereka memang sudah pernah kesini saat acara masak-masak, aku harap mereka belum tidur dan kuharap Cindy juga begitu, kata Ogont kalo sudah ada ditempat acara maulid, kami tinggal masuk ke sebuah gang dan mencari mesjid berwarna hijau, dan di samping mesjid, itu rumah Cindy, begitu katanya, ya sudah kami bergegas mencari masjid tersebut hingga kami benar-benar menemui sebuah mesjid berwarna hijau, dengan segera aku menuju rumah yang berada tepat disamping mesjid itu, karna takut memancing warga yang lain saat itu aku berpura-pura sebagai kurir pengantar paket ya walaupun aku tahu saat itu sudah terlalu malam bagi seorang kurir, tapi apa boleh buat, sebetulnya juga aku tak yakin kalo itu memang rumahnya, tapi menurut petunjuk yang Ogont beri memang ini yang paling mendekati, sebelum aku benar-benar mengetuk pintu terlebih dulu aku kembali mengecek whaatsapp Cindy, takutnya dia sudah tidur, tapi untungnya saat itu dia masih online, aku tak menghubunginya, aku hanya memastikan saja, dengan langkah yang pelan dan wajah ditutupi masker aku me beranikan diri medekati, dan sekarang aku sudah berada tepat dimulut pintu.
“Assalamu’alaikum” dengan suara yang lirih sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Masih tak ada jawaban, aku kembali mengulang salamku dengan nada yang sedikit lebih keras dari yang tadi.
“Assalamu’alaikum, pakeet” kataku lagi dengan tangan kanan yang kembali mengetuk pintu lebih keras.
“Wa’alaikumsalam” terdengar sebuah jawaban dari dalam rumah
“Sebentar” sambung seseorang yang ada di dalam tadi.
Samar mulai terdengar langkah kaki yang mendekat, jantungku berdekup sangat kencang saat itu, keringat mulai keluar dari dahi yang sedari tadi kututup dengan jaket, tanganku yang memeluk sebuah buku mulai gemetar, dan tak lama dari balik pintu keluar seorang laki-laki, umurnya kukira sekitar 25 tahun, dalam hati aku mulai bertanya, “Siapa dia?” karna memang setahuku Cindy tak punya kakak apalagi laki-laki, dan jika dia ayahnya pun aku rasa masih terlalu muda, mungkin saudaranya pikirku tak ingin berdebat dengan diri sendiri.
“Iya mas, ada perlu apa” tanya laki-laki tadi sembari menarik celana jeans pendek yang saat itu ia pakai.
“Emhh ini mas ada paket buat Cindy januarty” jawabku sembari mengusap keringat yang semakin bercucuran
“Ia mas Cindy januarty, ini kan mas bener?” lanjutku
“Aduuh, bukan Mas, kalo Cindy januarty masuk ke gang samping madrasah yang ada diatas mas” jelasnya lagi sembari menunjuk ke arah jalan.
“Nanti mas balik lagi ke jalan yang di atas, nah gak jauh di sana ada madrasah yang banyak foto habaib, di samping kirinya ada gang kecil lagi di atas, mas naik aja terus nanti ketemu mesjid warna hijau, nah sampingnya itu baru rumah Cindy” sambungnya lagi.
__ADS_1
Betapa harus menanggung malunya aku saat itu, aku tak harus berlama-lama
“Ohh gitu ya mas”
“Ouh iyah mas makasih yah” kataku lagi.
Rahman yang menungguku di belakang tak bisa menahan tawanya saat itu, kami segera pergi dari sana dengan tawa malu mengiringi.
“Kenapa pik, salah yah? Hahaha” tanya rahman sembari terus berjalan.
“Hahaha, iyah Man, salah bukan yang ini gangnya tapi yang di atas sebelah madrasah” kataku.
“Haha, iya iya siap-siap” sambung Rahman.
Kami segera kembali ke jalan, karna saat itu waktu sudah semakin larut, dan aku takut Cindy sudah tidur, kembali, kutarik handphone disaku dan melihat whaats app nya, dan infonya sudah 5 menit terakhir di lihat, aku harus cepat, sampai di madrasah ternyata benar ada sebuah gang menanjak disana, dan tanpa banyak berpikir kami bergegas masuk ke sebuah gang yang kuyakini tak akan mungkin salah lagi karna memang ini satu-satunya gang yang ada di samping madrasah, setelah masuk ke dalam, Rahman kembali menunggu di belakang dan aku mulai kembali mendekati salah satu rumah yang paling dekat dengan mesjid tersebut, karna keadaan saat itu sangat sepi akan sangat memancing perhatian warga sekitar jika aku mengucapkan salam seperti tadi, karna tak ingin melibatkan Rahman dalam masalah aku akhirnya memberitahu Cindy lewat pesan singkat, sambil berharap dia membacanya, mau tak mau.
“Cin, aku ada di depan rumah kamu, bisa keluar dulu gak sebentar” kataku.
Pesan itu terkirim namun belum ia baca, aku khawatir saja kalo saat itu dia sudah benar-benar tertidur.
__ADS_1
“Cin please, keluar dulu sebentar” sambungku, lagi-lagi tak ada jawaban darinya, saat itu aku yakin dia memang sudah tertidur, dan aku tak enak jika Rahman harus menunggu terlalu lama, sedangkan sedari tadi dia selalu ditelfon oleh ayahnya, aku putuskan malam itu untuk tak jadi menemui nya dan segera pulang saja.
Namun setelah beberapa langkah meninggalkan rumah itu, terdengar ada suara seseorang yang tengah mengetuk kaca jendela ......