
“ Zis pinjem ballpoint dong, habis nih,”
“ Yah, gak ada pik, coba pinjem sama yang lain,” jawab Aziz
Yah, harus pinjem kesiapa lagi aku, ke Teh Putri malu pinjem mulu, ke yang lain aku belum kenal semua, mungkin seperti itu suara yang tengah bergumam di hatiku.
Satu kelas ku pinjam ballpoint dan hasilnya nihil, mereka tak ada yang membawa lebih, bahkan aku menyampingkan maluku dengan meminjam ke teh putri tapi hasilnya juga sama, Teh Putri juga tak membawanya, bagaimana ini, mana aku gak ada uang lagi, mungkin Cindy tau saat itu aku kebingungan, karna sedari tadi aku hilir mudik dekat mejanya, hingga
“Nih,” sembari menyodorkan ballpoint kepadaku
Aku sempat terdiam dan hanya terperanga saat itu
“Ehh iyah, gak papa emang?”
“ Gak papa kok itung itung bales kebaikan kamu waktu itu, lagian kenapa gak ngomong aja, sih" sambung nya sembari membenarkan peniti yang ada di bawah kerudung yang sedang ia pakai
“ Hehe, iya lupa mau minjem sama kamu tuh, makasih ya, nanti pulang sekolah aku balikin” kataku lagi
“ Gak usah, itu buat kamu aja” balasnya singkat dengan senyuman manis
“ Ehh enggak, aku pinjem aja ya, nanti aku balikin”
aku tak enak meminjam ballpoint padanya saat itu, apalagi diberi, itulah mengapa aku tak begitu saja menerimanya
“ Yaudah deh terserah kamu aja,” jawabnya sedikit kesal dengan ku, mungkin dia pikir aku ribet.
Dengan ucapan terima kasih untuk yang kedua kali, aku pun kembali ke tempat duduk
“Cie-cie, dapet pinjem dari siapa tuh, pegang boleh? Hihi” kata Aziz yang lagi-lagi mencibirku.
__ADS_1
Sangat kesal sekali aku padanya, mana gak ngasih pinjem, mana ngejek lagi
“ Ya ampuun ziz, aku pinjem ballpointnya aja berisik banget kamu ziz,”
“ Hahaha, bercanda bro,, bercandaaa"
Aku memakai ballpointnya sampai jam pulang, niatku habis itu mau langsung kukembalikan padanya, gak enak juga kan, tapi aku lupa waktu itu, aku malah membawanya pulang ke Asrama, mungkin karna aku buru-buru, di asrama ada baju yang belum kucuci, dan baju itu hendak kupakai keesokan harinya.
Celaka, saat kucari dalam tas di kesokan harinya, ballpoint itu tidak ada, aku ingat betul, aku menyimpannya di dalam tasku, lalu aku meletakkan tasku ini di atas lemari di asrama, tapi entah kemana menghilangnya, kalo seperti ini harus bilang apa sama dia, mana kemaren aku lupa, ehh sekarang malah hilang.
Saat kembali bertemu di depan kelas keesokan harinya, aku berbicara yang sejujur jujurnya, aku harap dia ngerti
“ Cin aku minta maaf ya, ballpointmu hilang, aku gak sengaja beneran, sumpah”
“ Minta maaf soal apa pik?” tanya Cindy.
Hari itu pertama kalinya dia memanggil namaku.
“ Oh itu, iya gpp kali, kan aku udah ngasih itu ke kamu” jawabnya,
kalian bisa baca sendiri kan jawabannya, aku kembali salah menilai dia.
“Emm Tapi kan aku juga janji mau ngembaliin itu ke kamu cin” sambungku lagi dengan mimik wajah yang masih sama
“ Udah gak papa , gak usah di bahas lagi,” jawabnya yang kembali membuatku semakin tenang
“ Aku bener-bener minta maaf ya, nanti lain waktu ku ganti deh,” janji ku saat itu padanya
“Iya gpp beneran pik, gak usah di pikirin."
__ADS_1
Hari itu aku sudah mulai merasa nyaman dengannya, aku sudah mulai mengenal dia dengan baik, dia yang ternyata juga periang, ceria, selalu tersenyum, dan maniis, apalagi saat memakai baju pramuka, kulitnya yang putih, seperti melengkapi warna bajunya, indaah, dan semenjak hari itu pula aku semakin ingin mendekatinya, karna ternyata hanya suratku yang dia balas, dan aku mengetahui itu bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri.
Dengan senyuman manisnya itu dia memberi balasan suratku yang kemarin
“ Nih, balesan surat yang kemarin,”
“ Kamu bales surat aku? Gak salah orang kan,?” Ucapku dengan sedikit heran
“Gak kok, iyah aku bales surat dari kamu, dan hanya dari kamu yang kubalas,” jawabnya lagi yang semakin mengagetkanku, bagaimana tak kaget, kemaren aku hanya iseng mengirim surat itu, dan sekarang malah aku yang di bales.
Aku sedikit bercanda menjawab itu, untuk menghilangkan mimik anehku juga kan,
“Serius nih? Berarti aku spesial dong? Hihi”
“ Hmm bisa jadi sih, tapi ada yg lebih spesial" katanya
"apa?"
"Martabak"
"ada yang lebih spesial lagi" kataku
"apa?"
"Penjualnya"
kita tertawa kecil saat itu.
"hihi, ya sebenernya aku lebih kenal kamu aja, ada si dari kelas lain juga, tapi aku gak mau ngasih tau kamu, takutnya mereka malu”
__ADS_1
Aku memang masih remaja waktu itu, jadi maklum saja jika perasaanku berubah ubah, tapi disini aku mulai yakin bahwa dia lah yang akan mengajarkanku bagaimana menjadi dewasa, umurnya memang lebih muda dariku dia lahir tanggal 11 January 2002, ya , jika kalian cari di kalender itu bertepatan di hari Jum’at, tapi aku akui dia lebih dewasa dari pada aku waktu itu,
Mulai saat itu, aku menjadi semakin dekat dengannya, kami sering belajar bersama di kelas, bercanda, tertawa, bahkan tak jarang juga bersedih, Aku ingat betul saat menjailinya hari itu.