RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 8


__ADS_3

“Kamu tunggu disini, aku beli minum dulu buat kamu” pintaku agar dia mau menungguku sebentar.


Karna mungkin baru saja aku kerjai dia tak percaya padaku.


“ Beneran ni, nanti dikerjain lagi aku”


“ Nggak lah, kali ini aku beneran, tungguin ya” pintaku lagi.


Akhirnya dia percaya dan menurut.


“ Yaudah iya aku tungguin ya"


Aku tak tega melihat keringat yang menembus kerudungnya, saat itu aku membelikan 1 botol Power-f yang kata iklannya sih bisa buat stamina balik lagi, hehe.


“ Nih, maaf ya lama,” kataku sambil memberinya satu botol air minum


“ Ehh ternyata bener, gak papa ko, makasih yah, pik,” jawabnya yang kembali bisa tersenyum


“ Hehe iyah, santai aja Cin, kamu juga kan pernah beliin aku minum waktu itu, Jadi kita imbang, satu sama,” sambungku dibarengi minuman yang baru kuminum satu tegukan


“ Hemm gitu yah, emang dasar yah kamu tuh.”


Hari itu kami tidak belajar karna memang agenda di kelas hanya untuk mempercantik ruangan kelas saja, jadi situasi disini tidak begitu formal dan menyenangkan.


Hingga hari-hari berikutnya kedekatan kami terus berlanjut, aku yang dulu sama sekali tak suka dengannya, kini harus menanggung malu karna sempat begitu kekeh menentang perkataan Aziz,


“ Hahaha, kata gua juga apa, lu jangan Munafik, sekarang kan kejadian,” katanya dengan penuh kesombongan


“ Iya deh, iya gua akuin, emang sekarang kayaknya gua mulai suka sama dia ziz, ternyata dia baik ziz, nyenengin, dan gua juga baru sadar, ternyata dia itu manis” kataku yang mencoba menjelaskan pada Aziz sembari membayangkan senyum indahnya


“Dulu cintaku memang Lah cinta monyet, cinta yang tumbuh di bawah atap sekolah, cinta yang terus tumbuh ketika kita saling bertukar sapa, cinta yang terus tumbuh ketika pipiku berubah menjadi merah saat mendengar namamu”


“ Tuh kan, yaudah deh iya, sekarang gua do’a in, semoga hubungan lu sama cindy terus membaik,” sambung Aziz yang semakin mendukungku.


Aku hanya bisa mengaminkan do’a nya saat itu


“ Iya pik sama sama, Kalo lu butuh bantuan gua, bilang aja ya”


“ Iya ziz pasti, tapi kayaknya gak deh ziz, masalah dia gua pengen gua sendiri yang usaha ziz, lu ngerti lah pasti,”

__ADS_1


“ Iya pik gua ngerti ko,” jawab Aziz yang seolah-olah paham betul apa maksudku


Ya, memang aku tak suka jika masalah seperti ini harus melibatkan orang lain, apapun yang terjadi aku ingin sendiri yang berjuang, supaya jika kelak dia menerimaku di hidupnya, dia akan mengenang bagaimana aku memperjuangkannya,


“ Karna hidup itu soal perjuangan, dia yang kalah pun sudah berjuang, namun dia yang tak pernah berjuang takkan pernah merasakan kalah”


Suatu hari aku pernah membuat satu kelas tertawa, termasuk guruku saat itu, ketika Cindy sedang menulis rangkuman di papan board, aku sengaja menyuruhnya untuk sedikit merubah posisi ia berdiri, namun aku menyebut namanya dengan sebutan sayang.


“ Sayang,” kataku dengan nada yang keras


Hampir semua yang ada di kelas melirik padaku, dengan wajah yang sedikit tertawa dan bingung,


“ Apaan? aku bukan manggil kalian,” sambungku dan kemudian melanjutkan aksiku tadi


“ Cindy, sayang, geser dikit dong, Aa gak keliatan nih,” lanjutku dengan nada yang semakin keras.


Semua yang mendengar perkataanku tadi pun ikut tertawa, seperti kataku tadi bahkan guruku pun ikut terbawa suasana kala itu,


2 jam setelahnya saat bel istirahat Fathul dan Zabar temanku berencana untuk memberikan sesuatu kepada wanita yang Ia suka, bahkan Fathul sempat turun dulu ke Indomaret bawah untuk membeli Coklat, dan jaraknya lumayan dari sekolah, sedangkan Zabar, dia Ingin mengungkapkan perasaannya kepada seseorang melalui Surat, Aku tau semua hal itu karna tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka,,


“ Bar Kumaha euy, era ning”(bar gimana doang, malu nih) ucap fathul dengan nada pelan


Lalu Fathul menyambung pertanyaan nya kembali


“ Emang maneh teh arek nembak saha gerah”? ( Emang kamu tuh mau nembak siapa, sih?)


Dengan sedikit malu-malu Zabar kembali menjawab nya


“ Nembak si Lasmini atuh ari maneh, saha deui ah”( Nembak si Lasmini las, siapa lagi)


Fathul malah menyemangati Zabar, padahal aku tau dia juga kurang yakin dengan dirinya sendiri hehe


“ Ouh si Lasmini, sok kuurang di do’aken ditarima,”


Zabar mulai tersenyum dan balik bertanya


“ Heeh nuhun ahh, ai maneh eta coklat jeng saha emang?” (iyah makasih, terus itu kamu coklat buat siapa?)


“ Jeung si Inez bar, daeken moalnya,?”( Buat si Ines bar, kira-kira dia suka gak yah?” jawab Fathul

__ADS_1


Kali ini giliran Zabar yang menyemangati Fathul “Sok ditarima pasti, hayu ah bisi asup manten”( Pasti diterima, ayo ahh takutnya keburu masuk)


Aku mendengar obrolan itu dari celah pintu kamar mandi. Ya, mereka saat itu mengobrol di dalam kamar mandi hehe, sedangkan aku saat itu sedang kebelet pipis, aku mengurungkan niat sejenak untuk menabung depositku karna aku ingin memberi mereka semangat dengan melihat caraku, agar mereka termotivasi, hihi, aku segera kembali ke kelas, saat hendak masuk, kebetulan aku melihat sebuah bunga di depan kelas, kurang tau bunga apa, tapi wanginya lumayan, Kebetulan pikirku, tanpa berlama-lama aku memetik bunga itu dan memberikannya kepada Cindy di depan mereka berdua,


Perlahan aku mendekati Cindy dan memberikan bunga itu


“ Cin, Bunga buat kamu, tak banyak memang, karna aku metik di depan bukan belii, ga ada duit hehe, kamu gak alergi kan sama bunga?”


Cindy sempat terpaku sejenak, dan ternyata dia menyukainya


“ Ya ampuun pik, makasih yah, iyah gak papa kok, aku gak butuh banyak, Nggak kok aku malah suka”


“ Alhamdulillah, sekarang aku minta kamu remas bunga itu sekarang,” Pintaku yang membuat dia sedikit berpikir dan bingung,


aku cukup senang mendengar itu, karna aku memang memberikan itu dengan kasih sayang, bukan sekedar ingin menunjukan sesuatu kepada Zabar dan Fathul


“ Kok di remas? Nanti bunga nya hancur dong?” Tanyanya bingung


“ Iyah gak papa lakuin dulu aja, percaya sama aku” pintaku lagi dengan menatap mata indahnya.


Lalu Cindy meremas bunga itu sampai hancur, sedangkan mereka berdua, Fathul dan Zabar terus melihat ke arah kami yang sedang mengobrol, mungkin mereka menyangka Cindy tak suka bunga itu dan malah merusaknya di depan ku.


Setelah melakukan apa yang aku suruh, cindy kembali bertanya karana kebingungannya itu


“ Udah pik, kenapa kamu suruh Aku ngancurin bunga itu?”


Dengan menatap matanya aku menjelaskan alasanku itu.


“ Sekarang, Kamu cium tangan yang kamu pake buat ngancurin bunga tadi,”


“ Wangi pik, teruus?” jawabanya lugu.


Aku sengaja sedikit mengeraskan pembicaraanku kala itu agar mereka berdua tau apa alasan Cindy menghancurkan Bunga yang kuberi padanya,


“ Aku Ingin aku menjadi bunga tadi Cin, karna suatu saat Jika kita di takdirkan harus berpisah, Setidaknya Aku akan memberikan bekas wangi di tanganmu, sekalipun kepada tangan yang telah menghancurkan aku,” jelasku dengan begitu yakin.


Dia tak melepaskan pandangannya dari ku.


Cindy hanya sekali berkedip lalu tersipu Malu dengan senyum manisnya, sedangkan mereka berdua, Fathul dan Zabar hanya bisa terperanga dengan kata-kataku tadi, lalu aku melirik ke arah mereka berdua dan memberi isyarat agar mereka semangat dengan rencana yang tadi mereka berdua bahas. Mereka hanya membalas dengan acungan jempol pertanda iya, lalu senyum percaya diri itu sudah mulai terlihat, oiya, aku mengetahui kata-kata indah tadi dari buku yang pernah kubaca, Itu adalah ucapan dari Sahabat Rosul Sayyidina Ali Bin Abi Thalib.

__ADS_1


Next part ya guys


__ADS_2