RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 11


__ADS_3

Hari itu kami kedatangan siswa pindahan dari Garut, namanya Rijal, dia duduk di sampingku, sesekali aku menyapanya, untuk mencairkan suasana, dia juga baik sepertinya, namun karna dia belum terlalu mengenalku, sesekali dia terlihat canggung, saat bel istirahat aku dan Rijal keluar paling terakhir, karna aku masih larut dengan perasaanku, kecewa, marah, malu, semua menjadi satu saat itu, tak lama, aku mendengar benda jatuh disampingku, saat kulihat, ternyata satu bungkus rokok tergeletak di lantai, rupanya kantong yang saat itu Rijal pakai bolong, alhasil rokok yang ia bawa terjatuh.


Dengan wajah kaget dan bingung Rijal mulai terbata bata menjelaskan tentang roko itu padaku, dan dia juga meminta agar aku tak memberi tahu yang lain,


"mmm ya ampuun gimana ini, ehh bro jangan di kasih tau sama yang lain ya,” Saat itu jangankan untuk ikut campur urusan orang lain, aku memikirkan perasaanku saja tidak karuan.


"Ya"


Sesingkat itu aku menjawabnya, oiya aku juga mantan perokok aktip saat masih di rumah, Aku mulai merokok saat pertama masuk sekolahku yang dulu, dan sekarang karna aturan disini aku belum pernah mencobanya lagi.


“ Oiya bro, lu ngerokok gak? Tanya Rijal


“hmmm apa bro apa, sorry gak fokus” Jawabku.


“ Makannya bro jangan ngelamun mulu, gua tanya lu ngeroko gak?” katanya dengan alis sedikit mengangkat.


Karna mungkin saat itu aku sedang kacau, dan sedikit rindu pula dengan rasa asap putih, aku meng-iyakan pertanyaan Rijal tadi, kami sedikit berbincang setelahnya lalu memutuskan untuk tidak masuk pelajaran kedua dan pergi ke warung di ujung jalan, Aku yang mengajaknya kesana, aku dengar disana juga kadang suka banyak anak sekolah lain, kami pergi kesana tanpa menggendong tas, karna yang lain bisa saja curiga jika kita membawanya.


Rasa takut dan cemas pasti ada di benakku, Aku yang tak masuk dipelajaran ke dua, dan juga aku bersama Rijal murid yang baru saja masuk tadi pagi, tapi percayalah teman, saat itu aku sedang benar-benar kacau, semua rasa cemasku itu kalah dengan sifatku yang bangkit kembali setelah sekian lama tertidur.


“Ini kan warungnya?” Tanya Rijal


“ Iya ini, yaudah pesen aja, yang jaganya di dalem,” Jawabku padanya


“ Buk, kopi dua” Teriak Rijal, kemudian duduk disampingku.


“ Ada masalah apa lu bro,? Gua liat dari tadi di kelas semenjak gua masuk lu keliatannya murung banget” Sambungnya


Sebegitu terlihatkah masalah di wajahku ini, bahkan rijal pun yang baru mengenalku bisa berkata seperti itu. “ Nggak bro, biasa lah, namanya juga hidup” ucapku pelan “Ouh gitu, yaudah bro gak papa kalo lu gak mau cerita, tapi sekarang jangan dulu di pikirin lah kita ngopi dulu aja, sebenernya dari tadi tuh gua mau ngajakin orang buat di ajak ngopi, tapi gua kan belum tau siapa yang suka kayak gini siapa yang nggak, ehh gua malah sama lu yang gak gua sangka, soalnya muka lu muka murid baik-baik, gak ada tampang bandelnya hehe"


“ Hahah bisa aja lu, sebenernya gua juga pindahan di sini, gua masuk kelas 3 MTS , gua dikeluarin di sekolah gua yang dulu, ya karna gitu lah , lu pasti paham” jelasku padanya


“ Hah?” jawabnya terperanga,


“ Gua gak nyangka, bener dah, emang lu asli mana?” sambungnya


“Iya bro gak papa, kalo lahir si di Banten, cuman gede di sini, di Bogor, deket dari sini kok, nanti kita maen ke rumah gua ya,” pungkasku lagi


“Wah boleh tuh boleh, kayak nya seru juga”


Kami di sana menghabiskan dua gelas kopi yang tadi ia pesan, tenang saja , ampasnya gak ikut habis kok, mungkin sekitar 2 jam-an, jarum jam menunjuk tegas ke arah angka 12, tak lama lagi sekolah akan segera pulang, dan sebagian ada yang melewati tempat ini, jadi aku mengajak Rijal untuk pergi ke asrama lewat kebun di belakang sekolah, ini jalan rahasiaku, hanya aku dan Aziz yang tau jalan ini, kami biasanya lewat sini kalo mau ke indomaret di ujung jalan sana.


“ kehidupan itu sejatinya hanya sebuah perjalanan, perjalanan bagaimana kita bisa mengikuti kata hati yang menjadi alur dan penunjuk, dan dalam kehidupan akan ada saja manis dan pahit di dalam nya, ya terkadang memang manis sama seperti saat aku membeli gulali di pasar malam , atau pahit seperti aku yang tak sengaja meminum ampas kopi”

__ADS_1


Benar saja tak lama kami sampai di Asrama, semua teman kelas kami sudah menunggu, termasuk Aziz


“Pik lu tadi kemana, parah ih, lu di tanyain” Tutur Aziz tersengal-sengal.


Tak salah lagi, pasti yang menanyakan Bu Amy kalo gak Pak Uti, Atau guru yang lain nya.


“Gua abis dari warung ujung, ngopi, bosen ahh di kelas mulu, siapa yang nanyain emang”


“Cindy pik, katanya lu kemana, tadi kan ada sekarang ko ngilang ,mana nanya nya maksa lagi”


“Massa sih sampe nanya terus maksa segala lagi, gak mungkin Ziz, lu jangan boong” tanyaku lagi karna tak percaya.


Lalu Aziz menjawab dengan cepat “Ya ampuun pik, sumpah gua gak boong, kayanya dia khawatir deh sama lu, soalnya dari mukanya keliatan” sambung Aziz dengan keringat yang terus tercecer


“ Lu serius kan Ziz gak lagi bohong? Soalnya aneh aja kalo dia khawatir sama gua” ucap ku dengan lebih penasaran


“Ya ampuun pik mas gua udah sumpah gini lu gak percaya sih” Katanya “Lu gak percaya apa lu seneng di khawatirin sama dia” Sambung Aziz kembali.


Sambil menggaruk kepala bagian belakang kujawab dengan sedikit tertawa


“Ya pokok nya Dua-dua nya deh” kataku sambil berlalu meninggalkannya


“eehh woi mau kemana lu,” teriak Aziz sambil mengikutiku.


Malam ini aku terbayang semua nya, terbayang saat pertama kali aku melihat nya, mengenal, membelanya, mengobrol, mendekatinya, bahkan sampai saat dia menolakku kala itu, apa yang salah dengan nya jika dia menolak ku saat itu, padahal aku sendiri, sebelum menyayanginya, tak pernah memberi syarat agar dia balik sayang padaku, aku terpejam dan ku dengar satu kata yang masih ada dalam ingatan, “Kamu berhak sayang sama aku, tapi aku juga berhak kan sayang sama dia”, dan memang dia tidak salah, bisa apa aku dengan keadaan ini, ini soal peraasaan dan aku tak bisa memaksanya, dan saat itu pula aku sadar bahwa dengan aku menjauhinya pun tak akan ada yang berubah, aku sadar sekarang jika aku benar-benar menyayanginya, tugasku hanya untuk membuat dia bahagia, walau dia tak bersamaku.


Di depan sekolah pagi harinya, aku berpapasan dengan Cindy, kami hanya saling berhenti tanpa ada yang melirik, aku sangat ingin menyapanya saat itu, dan dia juga mungkin punya keinginan yang sama, tapi itulah kita, itulah aku, itulah JANUARYKU.


Di dalam kelas pun kami hanya bertukar pandangan tanpa sepatah kata yang keluar, menyebalkan memang.


“Samperin, bilang semua yang mau lu bilang, jangan Cuma pandang-pandangan aja, gimana si lu kan cowok” cetus Aziz padaku dengan mata yang tertuju pada Cindy


“Gua malu, takut Ziiz,” jawab ku


“ Lu gimana si, Sama Pak Uti lu ngelawan, pas kemaren lu berani gak masuk, masa sama cewek cantik lu takut” ejek Aziz pelan pada ku


“Iya, yaudah deh gua bukan takut, gua malu” jawabku salah tingkah


“Masa malu si, lu minjem duit mulu sama gua aja lu biasa,” sambung Aziz yang semakin mengejekku


“Sialan lu emang bener, lu liat nih gua samperin” jawabku tegas pada nya,


Aku tak sungguh-sungguh saat itu bicara pada Aziz, namun karna sudah terlanjur dan Aziz akan semakin mengejek ku nantinya, yasudah aku memberanikan diri saja, perlahan aku maju mendekatinya, dia tidak menyadari itu karna dia sedang sibuk menulis sesuatu di Diary kesayangan nya itu

__ADS_1


“Ehem,” ku coba menarik perhatian nya,


“Ehh pik, iya kenapa” jawabnya sambil memutar badan menghadap pada ku


“Aku ganggu ya Cin, gak jadi deh” ujar ku sambil berbalik hendak kembali lagi.


“Mau kemana pik” balasnya sedikit teriak.


Akubmengentikan langkah dan berbalik lagi padanya


“Kamu tuh kenapa si pik, kenapa kamu jauhin aku, kamu tau gak pik, aku rindu becanda sama kamu, katamu kamu gak akan kayak gini, terus kenapa sekarang malah gak sesuai” sambung nya dengan suara gemetar


Aku bingung harus berkata apa pada nya, mulut ku terkunci mataku tak bisa berkedip, tangan dan kakiku seketika kaku, sebisaku aku menjawab nya.


“ Maafin aku cin, aku udah gak nepatin janjiku waktu itu, tapi aku juga gak bisa boong cin, aku kecewa, aku malu, aku marah, tapi sekarang aku sadar Cin, bahwa menyayangi tak sepenuhnya harus memiliki, aku minta maaf, aku janji gak akan kayak gini lagi, kamu mau maafin aku? Jelas ku dengan terbata bata,


“Iya pik, aku ngerti, aku juga minta maaf sekali lagi perihat tempo hari, maaf aku gak nyapa kamu duluan, aku malu lah kalo harus duluan menyapa mu, aku kan cewek, iya aku maafin kok” ujar nya dengan di akhiri penerimaan maafku.


Tangan dan kaki yang tadi kaku kini sudah mulai bisa bergerak, mataku kembali berkedip, dan aku sudah menemukan kunci untuk membuka gembok di bibir ku, bahkan mulut ku tersenyum.


“Hehehe, makasih yah Cin, “


“Iyah sama-sama, oiya aku mau marah sama kamu” katanya sembari menaruh kedua tangannya di pinggang


“Kok gitu, mau marah apalagi, tadi kan udah di maafin, gak konsisten ih” ejek ku


“jangan cengar-cengir kamu, aku mau tanya, kenapa kemarin kamu gak ada pas pelajaran ke dua? Sama murid baru lagi, kemana kamu?”


“eee, aaakuu eee”


“Jangan aa ee aa ee kayak gitu, jawab!” katanya memotong pembicaraan ku


“Aku kemarin pergi ke warung ujung Cin, Rijal kok yang ngajak awalnya, beneran” jawab ku


“warung ujung yang di sana bukan?” sambil melepas tangan dari pinggang nya dan menunjuk ke arah warung, “ngapain kamu di sana, ?” sambung nya lagi


“Ya aku diem aja Cin, aku mau, mau, oiya mau refreshing aja kok, bener” jelasku berbohong


“ bener tapi kan gak ngapa-ngapa in, gak yang aneh-aneh kan?” tanyanya curiga


“Iya kok beneran, aku cuman refreshing aja, mau jalan-jalan sedikit”


“yaudah iya, tapi awas aja ya kalo kayak gitu lagi, aku gak suka, lain kalo kalo kamu ada masalah apa-apa cerita sama aku aja, gak usah tuh ke warung ujung lagi, mana bolos lagi dari kelas, bener-bener ya kamu” Pinta nya lagi pada ku

__ADS_1


“Maafin aku Cin, aku gak jujur sama kamu, maaf juga aku belum bisa cerita tentang diri aku yang dulu, aku takut kalo kamu tau,kamu akan ngejauh dari aku” kataku dalam hati


__ADS_2