RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 21


__ADS_3

“Pik, nanti kesini gak hadiran?” katanya lewat pesan singkat.


Yasudah terlanjur saja aku berpura-pura tak tahu mengenai hal ini, agar percakapan kami bisa lebih panjang. Jujur aku saat itu terkejut Cindy mengabariku, senang juga, tapi tidak banyak.


“Dimana Cin,?”


“Dideket rumahku Pik,”


“Ouh iyah InsyaAllah aku kesana”.


Obrolan kami terhenti sampai sini, harapanku untuk bercakap panjang lebar ternyata gagal.


Tiba waktunya pada acara tersebut, Aku, Aldi dan Ako bertiga berangkat kesana, mereka ikut dnganku karna ingin bertemu dengan Wan Syaikhon dan juga penasaran seperti apa Cindy yang sangat sering kuceritakan kepada mereka itu, tiba disana kami mulai mengeluarkan ponsel masing-masing dan mulai merekam acara yang sangat luar biasa, sembari berjalan kami mengabadikan momen tersebut, hingga tak sengaja aku melihat Cindy dikamera ponselku yang saat itu berpapasan dengan kami, dia menyapaku, tapi karna saat itu banyak jemaah yang juga menghadiri acara tersebut, ditambah aku yang belum terlalu yakin bahwa itu dia, yasudah jadi aku sedikit tak menghiraukannya, kami terus saja berjalan menuju acara yang sudah dimulai, smpai disana, kami duduk di pelataran masjid yang tak jauh dari lokasi panghung didirikan, kami sempat beristirahat, hingga aku cek kembali rekamanku dan ternyata itu benar dia, itu Cindy, mengenakan gaun dan hijab Pink, terlihat begitu anggun, sebelum kejadian ini, sudah dua tahun aku tak bertemu dengannya, bahagia sekali perasaanku saat itu, bertemu dengannya mungkin adalah salah satu keinginan terbesarku saat itu, walau aku munafik karna tak pernah mau mengakui itu, aku tak bisa berbohong akan hal itu, sejak dua tahun itu aku hanya melihat kebahagiaan barunya, dia mulai bisa kembali tertawa dengan lepas, bahagia dengan segala kegiatannya disana, tentu, aku harusnya senng, bahkan aku pernah lihat mereka berfoto bersama orang tua mereka, ya, Cindy dan mng syarif, lagi-lahi aku harusnya bahagia. Tapi aku bohong, karna nyatanya, aku sangat terluka kala itu.


Saat kuputar kembali rekaman itu dia mengabariku, katanya dia tadi melihatku dan aku tak menghiraukannya.


“Pik kamu ada disini bukan? Tadi kita papasan juga, sombong ihh” ujar Cindy


“Iyah Cin aku ada disini, iyah emang?


"Sebenarnya aku dengar kamu menyapa, tapi aku takut salah orang, lagian kan banyak orang Juga jadi gak enak"


"Ouh gitu, yaudah kamu hadiran dulu aja, aku mau anter temen ke bawah” sambung Cindy


“ Ouh iyah Cin, hati-hati”


“ Pake hati-hati segala pik hehe” balas Cindy lagi dengan emot tertawa.


Mungkin sekitar dua jam aku disana, ponsel milik Aldi Lowbat, katanya pengen di Charge, tapi dimana? Aku tak tau tempat apa-apa disini.


“Pik, batreku habis nih, ikut ngecas dimana ya” lontar Aldi membuyarkan fokusku


“Emhh dimana yah, aku gak tau tempat apa-apa disini Dil,”


“Ehh Cindy orang sini kan, yaudah atuh ikut di rumah dia aja” saran Aldi.

__ADS_1


Boleh juga pikirku, sembari ikut Charge disana, aku juga sekalian tahu rumahnya.


“Ouh iyah bener coba tunggu chat dulu Cindy nya” jawabku


sembari berpindah tempat karna tak enak pegang HP di tengah-tengah pengajian, aku menelfon Cindy.


“Cin masih dimana?” tanyaku gugup p


“Aku udah dijalan mau kesana, kenapa emang? Jawab Cindy sembari balik bertanya.


“Ini Cin, batre temen aku Lowbat, ikut Charge di rumah kamu boleh gak?” pintaku lagi


“Ouh gitu, yasudah kamu tungguin aja di gang sebelah kiri deket makam, nanti aku kesana,” jelasnya.


Memang tak jauh dari tempat duduk kami ada makam dan gang yang tadi disebut Cindy, kami akhirnya kesana untuk menunggu dia, tidak lama dari itu, dia benar-benar datang, aku yang tak bertemu lagi dengannya sejak dua tahun terakhir begitu senang bisa kembali bertatap wajah dengannya, dan sepertinya dia juga sama, karna aku paham betul dari raut wajahnya, pipinya mulai berubah menjadi merah, senyumnya terputus-putus, dan dia tak bisa berlama-lama memandangku, persis seperti dulu aku memberikannya bunga di depan sekolah, ya ampun aku malah jadi nostalgia.


“Hi pik, gimana sehat?” sapanya dengan nada pelan


“Hi Cin, aku sehat, kamu gimana?” balasku dengan nada yang sama pelan


“Emhh iyah emang? Oiya yah, sekarang kan sebentar lagi kamu naik kelas tiga yah? Jawabku lagi


“Iyah pik, hehe”


“Woi-woi apaan si malah ngobrol, ini Charge dulu mau mati ni HP” seru aldi memotong pembicaraan kami.


Cindy terkejut dan berhenti berbicara untuk sesaat, lalu melihat Aldi dan mengambil HP nya.


“Oiya a , maaf sini hp nya,” pungkas Cindy lagi


“aku anter ya ke rumahnya” potong ku.


dengan wajah yang semakin kaget Cindy kembali menjawab


“Gak usah pik, rumahku bukan disini, tapi di atas, aku mau charge di rumah temen aku aja, nanti kalo mau diambil chat aja ya”

__ADS_1


“Ouh gitu yah, yaudah deh iyah” jawabku tertunduk.


“Kayanya ngebet banget Nih pengen ketemu calon mantu” ejek Ako yang sedari tadi diam saja


“Hahaha, bisa aja, udah ah, yuk lanjut Lagi” jawabku cepat mengakhiri pembicaraan yang sudah mulai tak jelas.


Malam itu acara demi acara telah usai dilaksanakan, perlahan jemaah pun satu persatu mulai meninggalkan tempat yang sudah di persiapakan panitia tadi, kini disana tinggal tersisa kami bertiga dan beberapa panitia pelaksana, karna tak enak akhirnya kami beranjak dari sana lalu menghampiri sebuah warung yang jaraknya tak jauh, sembari menunggu batre HP Aldi penuh kami membeli secangkir kopi dan menikmati malam yang penuh kenangan di sana.


“Udah Pik, ambil aja ah, udah malem juga gak enak” ucap Aldi


“Ouh yaudah”


Lalu aku kembali memberitahu Cindy, sekalian pamitan juga nantinya, kami bertemu di tempat yang sama, namun bedanya kali ini dia yang sudah menunggu kami, dengan ponsel dalam genggaman nya.


“makasih yah Cin” ujarku padanya.


Sembari mengembalikan ponsel itu, dia menjawab


“Emh iyah pik sama-sama,kamu mau langsung pulang?” tanya Cindy.


Aku akui saat itu tanganku mulai berkeringat, Ako dan Aldi dibelakangku saat itu, teman Cindy juga sama jadi kami berdua sedikit berbincang disana, karna malam sudah semakin larut dan perjalanan pulang pun cukup jauh akhirnya aku berpamitan padanya.


“Yaudah Cin, aku pulang dulu yah, kamu baik-baik di asrama nanti, kalo ada apa-apa bilang sama aku yah, jangan sungkan” kataku sembari mengggit bibir bawah


Entah mengapa Cindy seperti tenang mendengar ucapanku, setelah menatapku beberapa saat dia mengangguk pertanda bersedia dengan pintaku tadi.


Di jalan Aldi mengakui semua ceritaku tentang dia.


“Bener pik, manis, imut, cocok sama kamu” katanya. Entah dia bohong atau tidak aku tak perduli, yang penting aku senang mendemgar itu.


“Kataku juga apa, aku gak akan bohong sama kalian,” jawabku dengan bangga.


Sungguh, malam itu aku sangat-sangat senang, Cindy juga mengirim beberapa pesan saat itu, di dalam layar ponselku yang tidak terbaca jelas karna terguncang motor yang sedang melewati jalan berbatu, katanya


“Hati-hati pik di jalan, kalo udah sampe kasih tahu aku” aku hanya tersenyum membaca pesannya itu, setelah sampai rumah aku menuruti permintaannya untuk mengabari jika aku sudah sampai, kukatakan saja bahwa aku tadi sangat canggung setelah dua tahun tak bertemu dengannya, dan dia pun mengatakan hal yang sama, kami meneruskan obrolan kami tadi, dan di tengah obrolan itu aku menanyakan perihal hubungannya dengan mang Syarif, aku hanya ingin memastikan bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2