RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 17


__ADS_3

Hari itu saat pengajian siang dihari ke tiga hendak dimulai, aku duduk disebelah mang mendi dan teman sekelasnya, sebetulnya tak ada yang aneh dari sikap mang mendi padaku, tapi karna teman yang di sebelah nya terus saja seperti mengejek pada kami berdua aku jadi mulai paham dengan apa yang terjadi.


“Cie mendi sampingan sama maruk nih” ejek mang Irgi dengan nada sedang


“Adeeh, akur nih” kata mang Ari yang mulai ikut berbicara,


mang Mendi saat itu tak terlalu mendengar ocehan mereka, tapi karna aku duduk di sebelah nya dan aku juga bukan anak kecil lagi saat itu, aku paham dengan apa yang mereka bicarakan.


Setelah pengajian hari itu selesai, aku segera mendatangi Aziz dan yang lain, aku ingin bertanya perihal apa yang kudengar tadi, saat aku hampiri kebetulan dia sedang bersama temanku yang lain, aku jadi bisa lebih leluasa bertanya.


“Ziz, aku mau nanya nih,” kataku sambil bergabung dengan mereka.


“Nanya apa pik” jawabnya.


“Ziz, emang bener yah kalo mang Mendi sama Cindy lagi deket?” Sambungku.


Aziz hanya diam saat itu, tapi Zabar menjawab dari belakang,


“Yaah gitu lah pik, mereka kan sebangku pas Ujian akhir semester, kamu kan udah gak ada disini waktu itu, yah kamu tau sendiri lah gimana” kata Zabar seraya meminum kopi yang masih panas,


“Ouh gitu yah bar, jadi mereka sebangku?” tanyaku lagi

__ADS_1


“Iyah pik, saranku kamu mending lupain aja Cindy, dari pada gini kan,” sambung Zabar


“Emh iyah nanti kucoba”


“Ouh iyah pik, tapi kata Cindy makasih bunga sama coklatnya” seru Ncep memotong pembicaraan kami.


“Hehe, iyah bilangin sama-sama"


Setelahnya aku berpamitan kepada mereka untuk pulang, karna malam itu sudah sangat larut, hari itu aku harus pulang sedikit terlambat, mungkin sekitar jam satu lebih lah, di perjalanan yang sangat sunyi, aku terus saja memikirkan perihal Cindy dan Mang Mendi, bohong kalo aku akan melupak Cindy, tapi disisi lain aku mulai menyadari apakah rencanaku ini berhasil, angin malam menemani kegundahanku saat itu, harusnya aku senang dengan keberhasilan ku jika ini memang benar, tapi aneh nya aku seperti tak ikhlas saja walau memaksa untuk tersenyum, apa aku tidak benar-benar tentang rencana ku hari itu? padahal aku sudah memikirkannya sangat baik, terus saja pertanyaan itu berkecamuk di dalam angan ku.


Hingga tiba saat aku menerima satu pesan dari sahabat Cindy, awal mulanya dia tak membicarakan perihal itu kepadaku, tapi karna aku yang terus bertanya, akhirnya dia membuka suara dan mengatakan yang sejujurnya, katanya Cindy sudah benar-benar melihat foto yang ku pajang di sosial media tempo hari, dan katanya dia sangat kecewa akan hal itu, tapi, apakah aku salah dengan semua hal yang aku lakukan? Aku masih bisa mengingat jelas bagaimana perkataannya saat menolak ku di kesempatan ke tiga saat itu, “Aku ingin fokus belajar” begitu kan katanya? Dan aku melakukan ini semua agar dia bisa benar-benar fokus terhadap pelajarannya, namun sepertinya aku mendapat kan sebuah bonus pahit dari rencana itu.


Semenjak itu kami pernah bertukar pesan kembali, dengan aku yang menanyakan kabarnya, karna saat itu aku melihat whaats app nya sedang Online, namun sudah semakin jelas kawan, dia yang dulu seakan saling berlomba berbalas cepat dengan ku sudah tak ku temui lagi, dia benar-benar sudah berubah, dan sebuah pesan kecil di akhir pembicaraan kini hilang, aku mulai sadar akan posisiku, dan aku sadar ini juga salah ku jadi sudah semestinya aku untuk mengerti, waktu demi waktu kami mulai kehilangan komunikadi, aku tak ingin menjadi perusak antara hubungan mereka. Rossy sempat bertanya padaku karna Cindy bercerita tentang itu, lalu ku katakan saja kalau aku tak mau mengganggu hubungan mereka, aku harap dengan ini Cindy bisa lebih bahagia.


Hari pun begitu cepat berlalu, aku yang selalu mencoba melupakan cindy namun tak kunjung berhasil, semakin aku mencoba justru semakin aku ingat padanya, sebenarnya aku sempat beberapa kali menjalin hubungan dengan orang lain, namun semua selalu kandas di tengah jalan karna aku yang selalu merasa bersalah, entah apa yang sebenarnya terjadi, semakin hari aku semakin menyesali tindakan gila ku saat itu, Ohh tuhan.


“Perlahan aku mulai sadar akan hakikat paling tinggi dalam mencintai, yaitu bukan memiliki, tapi benar-benar merelakan nya pergi”


Tak terasa hari itu hari kenaikan kelas, ingin sekali aku pergi kesana , sekedar bertemu untuk melepas rindu dan mengucapkan selamat padanya, tapi sepertinya aku tak bisa, aku sudah berjanji tak akan mengganggu mereka, tapi jika sekedar berbincang via ponsel tak apa kan kawan? Apa aku melanggar janjiku, entah lah, mungkin karna aku sudah sangat-sangat rindu, aku kembali menghubunginya dengan nomor yang berbeda, aku hanya ingin mendengar suara nya saja,


aku ketik satu persatu nomor yang dulu pernah tak sempat ku lihat sama sekali, dengan hati yang yang sebenarnya ragu, saat itu aku mencoba.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum” sapaku melalui ponsel


“Iah waalaikumsalam, siapa yah?" Jawabnya heran saat itu, karna dia memang belum mengetahui nomorku,


“Emhh, aku temen mu, gimana kabarnya? Selamat ya naik ke kelas yang lebih sulit nantinya” sambung ku dengan sedikit merubah suara bicara ku


“Aku baik, oiya makasih, tapi ini siapa, temen ku yang mana?” Tanyanya lagi semakin penasaran.


Tak lama kami berbincang Cindy mulai menyadari suara ku dan, sambil tertawa geli dia menebak bahwa ini aku,


aku hanya ikut tertawa saat mendengar itu, lalu tak lama semua berubah, saat Cindy memanggil seseorang.


“Mang Mendi sini, ini si opik mau ngomong” Teriaknya yang ku dengar jelas di ponselku saat itu seketika tawa di pipiku hilang.


“Hallo pik, Giamana kabar nya” sapa mang Mendi


“Ia mang Alhamdulillah baik mang, maaf ya mang aku cuman mau ngasih selamat aja sama Cindy gak ada yang lain kok mang, yaudah aku matiin lagi ya mang, Assalamualaikum” jawabku cepat karna tak sanggup lagi menahan sakit yang semakin menjadi.


“Oiya Pik iyah gak papa, kalian kan temenan udah lama dari dulu juga kan gak papa lah, oiya pik sok aja, Waalaikumsalam,” jawab mang Mendi


begitulah mang Mendi, dia orang baik dan sangat dewasa, itulah sebabnya aku yakin bahwa Cindy bisa bahagia dengan dia, aku benar-benar tak menghubunginya lagi setelah itu, aku malah sering mengubungi teman-temannya, sekedar titip dia dan segera kasih tau aku kalo suatu saat dia sedang ada masalah, aku hanya menjauh karna ingin dia bahagia, dan jika nanti dia ada masalah, itu berbeda urusan pikirku,bdan beberapa dari mereka menyetujui itu.

__ADS_1


Rutinitas ku sekarang memandang dari kejauhan, seraya berdo’a untuk kebahagiaan nya, memang benar ternyata


“Jika ada wanita dan lelaki bersahabat, maka ujian yang paling berat adalah perasaan” aku sangat merasakan itu.


__ADS_2