
Singkatnya selesai sudah aku menggoreng telur, di dapur aku masih saja tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri.
“Bisa-bisanya kasih mie buat orang yang belum makan” kira-kira seperti itu pikiran yang membuatku terus tersenyum sekaligus malu.
“Nah ini baru!” Ucap wildah dengan tawanya
“Iya baru” jawabku “baru di masak”
“ih jadi ngerepotin kamu fik” Cindy ikut bicara
“Tak apa, aku senang direpotin kamu”
Wildah menutup rapat mulutnya, tapi gagal! Akhirnya terlepas karna sudah tak sanggup lagi menahan tawa akibat omonganku tadi, entah lah apa yang lucu? Mungkin bukan lucu, sepertinya dia geli, atau bisa juga iri?
“Udah ah aku keluar, disini kayak jadi obat nyamuk aja” kata wildah sembari keluar meninggalkan kami
“Pintunya jangan ditutup wil” kataku membuatnya terhenti di depan pintu
“lagian siapa yang mau nutup? Enak kamu fik hahah”
Wildah hilang dari pandanganku dengan suara tawanya yang masih terdengar itu, dan kini kami benar-benar hanya berdua saja, sengaja kubiarkan pintu terbuka agar tak timbul omongan-omongan yang tak ingin kudengar, walau aku yakin itu takan mungkin, tapi buat jaga-jaga apa salahnya.
Perlahan mataku mengunci matanya, kami saling berpandangan untuk sesaat, aku tersenyum, Cindy juga!
“Makan, ya?” tanyaku
“aaaa”
Dia mengangguk, tersenyum lalu membuka mulutnya, ini kali pertama semenjak 4 tahun aku bisa kembali sedekat ini dengannya, aku duduk di tepi ranjang, sedangkan Cindy berbaring dengan satu bantal disampingku, aku datang masih sebagai teman yang belum bisa menghilangkan perasaan aneh setiap kali memandang matanya.
Di tengah-tengah menyuapi, ia menunjuk sebuah tempat seperti penyimpanan barang-barang pribadinya, aku kurang tahu namanya.
“Fik liat gak?” katanya menunjuk.
Jujur aku tak tahu apa yang sedang ia coba tunjukan, aku hanya melihat ada beberapa medali, foto dia saat masih kecil dan beberapa boneka besar disana
“apa?” tanyaku
“Eh gak keliatan ya”
“ketutupan”
“apa yang ketutupan?”
tanyaku lagi
“Kamu pindahin dulu gera boneka panda itu!” "ganggu pemandangan aja” lanjutnya.
Aku bangkit dari tempat tidur dengan piring yang masih menempel di tangan kiriku, sedangkan tangan kanan mencoba meraih boneka yang cindy maksud, setelah berhasil kusingkirkan, disana terlihat ada sebuah boneka beruang kecil berwarna pink yang masih terawat dengan baik, dengan tulisan happy birthday dibagian dada boneka, seakan membuka kembali kenangan masa lalu itu, dimana saat itu ada seorang pria yang tak berani memberinya ucapan ulang tahun secara langsung, memilih memberi hadiah boneka yang ia titipkan pada kawannya di sekolah.
__ADS_1
“Masih inget gak fik?”
Aku tak menjawab, tersenyum adalah satu-satunya isyarat yang tersirat, merasa bangga sekaligus bahagia dengan apa yang baru saja kulihat, tak ku sangka! Selama itu dia masih menyimpan salah satu pemberianku.
“Boneka nya bagus, aku rawat juga!”
Sambil kembali duduk di tepi ranjang itu, kujawab “iya aku tahu, masih bagus banget”
“dulu aku sayang banget sama orang yang ngasih boneka ini” ujarnya.
Dengan tatapan kosong ia melanjutkan perkataan itu
“tapi sayang, dia malah rusak semua benih bunga yang mulai tumbuh disini” sambungnya sambil menyentuh dada
“ternyata bener ya kata orang! Kalo semua tak ada yang tahu kebenarannya”
Aku menaruh piring yang sudah kosong itu, memberikan waktu sejenak untuk hening menciptakan suasananya.
“Iya, memang gak ada yang tahu kebenerannya Cin! Termasuk kamu”
“Maksudnya fik” ia bertanya dengan tatapan khasnya itu.
“Ah apa? Nggak kok bukan apa-apa, aku asal bicara hehe”
“Eh dasar!”
Untuk mencairkan suasana yang sempat tak baik, aku menunjukan salah satu keahlianku yang lain, dimana waktu SD aku pernah jadi juara tingkat Kecamatan karna hal ini, dengan sisa pengalaman, aku cukup piawai menggerakan leher boneka kecil yang masih kupegang sedari tadi, menghiburnya dengan memberikan efek suara seolah si boneka sedang berbicara, klise memang! Tapi itu cukup untuk membuatnya tertawa, itulah Cindy, dia suka dengan hal-hal kecil seperti ini, dia suka dengan sesuatu yang mungkin sepele bagi orang lain namun tidak demikian baginya.
“Pulang juga si mamah” Ucap nadia di tengah kami yang sedang asyik berbincang.
Semua mata tertuju keluar.
“Assalamu’alaikum” Seru ibu Cindy
Serentak kami pun menjawab lalu menghampiri untuk sekedar cium tangan.
“Wah rame yah!” lanjutnya
“yasudah lanjut dulu, gak ada makanan, ya?”
“Eh gak papa mamah, malah keenakan kalo di kasih makanan” kataku
“Hehe, bisa aja kamu, yasudah mamah bersih-bersih dulu”
"Eh iya, ini tuh siapa mamah lupa" sambungnya sebelum ia benar-benar pergi.
"Opik mah"
"Pake P atau F?"
__ADS_1
"Apa saja boleh mah"
Semua tertawa saat itu, lalu setelahnya kalian bisa tebak lah, kami berbincang dengan sedikit candaan bersama ibu Cindy, itu Asyik! Karna ibu nya ini orangnya persis seperti ibuku, cerewet juga lucu, ia juga pandai menyembunyikan rasa sedihnya, persis seperti yang dilakukan Cindy.
Suasana seketika berubah, semua haru ketika kubacakan Do'a saat hendak pamit pulang, aku meminta apa saja agar Cindy segera bisa pulih, saat itu tak ada yang kupinta selain itu.
“kembalikan senyumnya Ya Allah”
“angkat penyakit nya”
Karna memang sudah cukup lama disana, kami memutuskan untuk pulang sesusai berdo'a bersama tadi, cindy dengan tubuh lemasnya tak bisa mengantar kami ke depan, ia hanya terduduk di sofa ruang tengah, matanya sayu, ada beberapa kebahagian disana, namun rasa sedih dan lelah lebih banyak dalam mata itu.
Jika nanti bayangmu menghilang dalam gelap malam, izinkan aku meminta setitik sinar dari mata indahmu itu, tak bisa kupegang namun akan kujaga, tak bisa kusentuh namun akan selalu kurasa, izinkan! Akan kusimpan ia dalam jurang hati yang penuh kemalangan ini.
Senang sekali mendengar kabar Cindy yang terus membaik sejak saat itu, melihat dan mendengar kembali tawanya seakan membangun kembali bahagiaku sendiri, aku yang sudah mulai merasa tenang kembali harus menepati janjiku, janji yang sebetulnya tak pernah ingin terucap, janji yang selama ini menjadi pemisah antara rasa, asa, dan diriku.
“Rrrrr”
Getar notifikasi membangunkanku hari itu,
“Assalamu'alaikum, pagi ofik”
Sebuah pesan dari Cindy
Seusai tersenyum beberapa jam melihat pesan itu, tidak! Maksudku beberapa detik!. Bak Valentino rossi di atas sirkuit aku membalas pesan itu dengan cepat, senang sekali, pagi ini kami saling berbalas pesan, mengahabiskan waktu akhir pekan yang sangat manis, sesekali ia juga bercerita perihal baju yang terasa longgar ketika ia sakit, kini kembali bisa terpakai di badan nya, sudah kubilang diawal Cindy adalah orang yang lebih menyukai hal kecil untuk diperbincangkan.
“Kamu kapan kesini lagi?” tanyanya kemudian
“Emh kenapa emng? Kangen ya?”
Dia hanya menjawab dengan emotikon kesal.
“Hihi, kenapa?” giliran ku bertanya"
“Gak papa, heran aja dari dulu GR nya gak pernah hilang”
“Percayalah, aku hanya seperti ini padamu” lanjutku
“Apaan si fik, udah kaya film dilan aja bahasanya”
“Ia aku kan dilan”
“Preeeet”
“Dilanda rindu karena mu, Wkwkwk”
“Diih, paling bisa emang ya”
“Bisa apa?”
__ADS_1
“Bisa buat aku senyum”
Pagi itu kami benar-benar menghabiskan waktu bersama, tanpa kujelaskan kalin pasti akan sangat tahu bagaimana perasaanku saat itu.