
Dia datang.
“Man, pulang aja yuk, kayaknya dia udah tidur deh” kataku sembari berjalan pelan mendekati rahman.
Terlihat dari raut wajahnya, sepertinya Rahman kesal dan tak puas dengan ucapanku tadi, tapi itu wajar karna aku sudah sangat merepotkannya.
Dan dia merasa akan sia-sia jika aku tidak bertemu dengan Cindy.
“Gak bisa gitu lah Fik, kita udah malem-malem kesini, mana tadi di jalan sempe dorong-dorong motor karna abis bensin, terus sekarang kamu mau kita pulang aja?” ujar Rahman
“Tapi man, kayaknya dia udah tidur lagian kamu juga kan dicari Ayahmu”
“Udah gak kenapa-napa itumah selow aja, Ayahku udah biasa kok kayak gini, palingan juga minta dipijit, kan bisa nanti abis pulang dari sini” jawab Rahman dengan cepat.
“Sekarang kamu balik lagi kesana Fik, kejar yang kamu mau selagi kamu bisa, udah di depan mata loh, udah berapa tahun juga kan kamu gak ketemu langsung sama dia, Aku tunggu kok” sambung Rahman.
Aku terdiam dan berpikir kembali,
Rahman benar, mengapa aku jadi sangat mudah menyerah seperti ini gumamku dalam hati.
Harapanku yang sempat pupus untuk bertemu dan melihat keadaannya kini mulai tumbuh kembali, aku mencoba meyakinkan kembali diriku, dengan satu tarikan nafas panjang dan senyum lebar setelahnya aku kembali meyakinkan langkahku dan mendekati rumahnya lagi, belum juga sampai di depan pintu terdengar suara ketukan kaca jendela dari samping rumahnya dan terdengar pula suara Cindy dari balik kaca yang tertutup gorden cream yang mulai tersingkab itu.
“Ofik, ngapain kamu kesini malem-malem” tungkas Cindy pelan di balik jendela.
Suara itu, suara yang sudah lama ingin kudengar, suara yang sudah lama mengisi pikiranku, suara yang membuatku ambigu, senang, dan sedih, nada indah yang amat sangat ku nanti, dan perasaan ini, perasaan yang mengingatkanku akan tiga tahun yang lalu, perasaan yang sama ketika saat pertama kali aku menyatakan isi hatiku di dalam perpustakaan sekolah dulu, kening yang berkeringat, wajah yang menjadi merah, dan jari tangan yang tak henti bergerak, sama persis seperti dulu.
“Tunggu disana bentar, aku keluar dasar nekad!” sambungnya dengan nada kesal.
Terlihat dari luar, bayangannya yang mulai bergegas menemui ku, terdengar pula langkah kaki yang juga masih sama saat dulu ia terlambat datang ke sekolah, dejavu atau nostalgia? Entahlah aku kurang paham perasaanku sendiri.
Waktu itu pukul 23:15 wib, tak lama aku menunggu di depan pintu rumahnya hingga ia keluar dengan wajah yang masih ditekuk karna kesal.
“Kamu ngapain sih fik malem-malem?” ucap Cindy dengan kedua tangan melingkar di atas perut.
Aku masih dalam posisiku, berdiri gemetar tanpa satu kata, sementara keringat di dahiku semakin deras menetes melewati mata, berkali-kali pula aku memejamkan mata menahan perih dari tetesan itu.
“Kebiasa yah kamu ih, setiap di tanya pasti aja keringetan” sambung cindy.
__ADS_1
“Nggak ngapa-ngapain kok Cin, aku sekalian lewat aja kesini” kataku pelan dengan kepala tertunduk, persis seperti anak yang sedang dimarahi ibu nya
“Gak mungkin, masa iya malem-malem gini, emangnya habis dari mana kamu?”
“Emmm..”
“Tuhkan diem.” Potong Cindy.
Walau dengan badan yang masih belum stabil menahan rasa malu bercampur senang aku mencoba menjelaskan semuanya.
“Iya-iya, aku emang sengaja kesini, aku denger katanya kamu sakit, kamu sakit apa? kok gak ngasih tau aku sih?”
“Tuh kan, kamu mah bandel, kan bisa siang Fik, ngapain malem-malem kayak gini!”
“Emang kamu pernah ngasih izin aku dateng kesini? Nggak kan! makannya aku kesini malem-malem dan gak ngasih tau kamu dulu”
“Tuh kan selalu aja gitu, iya emang aku gak pernah bolehin kamu kesini, tapi itu ada alesannya Fik” jelas Cindy
“Apa alesannya Cin?” jawab ku cepat.
"Aku harus tahu sekarang".
“Bukan nya apa-apa Fik, aku cuman takut aja nanti kalo ada warga yang liat dan nyangka macem-macem gimana? kamu juga kan yang repot.”
“Udah lah Cin, aku gak mau macem-macem kok ke sini, aku cuman mau liat keadaan kamu, udah itu doang gak lebih.”
“Yaudah makasih sebelumnya, aku gak papa kok, aku sehat, aku baik-baik aja, kamu bisa liat sendiri, cuman ya gini, berat badanku aja turun” jelas Cindy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Memang saat itu ia terlihat berbeda, entah karna sakitnya atau apa, ia terlihat lebih kurus, lekukan tulang di pipinya pun terlihat jelas.
“Tapi kalo kamu sekali lagi kayak gini, aku bakalan bener-bener marah” sambungnya mengagetkanku yang masih terpaku melihat setiap perubahan pada fisiknya.
“Kenapa fik? aku jelek yah?”
“Emm,, iyah.. apa?.. Nggak lah, mau kamu jadi apapun, dimataku kamu masih yang terindah”.
Senyum kecil terukir diantara goresan tulang pipinya, terenyuh .. aku tak membalas senyum itu, rasanya ada yang mau jatuh dari ujung mataku
__ADS_1
“Emm, dasar ya dari dulu gombal terus” ujarnya dengan senyum yang kini semakin lebar
“Kok kamu sedih si? Kamu gak seneng ketemu aku?”
“Apa si Cin, kebiasaan kamu juga dari dulu, suka sok tahu huu”
Dengan cepat aku memalingkan wajah dan segera menyeka air mata yang telah benar-benar jatuh, aku tak mau dia melihat itu, aku harus terlihat kuat didepannya.
“Emm ..yaudah Cin, aku pulang dulu ya, oiya ini tadi, di jalan aku beli novel”
“Wahhh, tau banget si”
Aku tersenyum, tapi sebentar.
“Iyalah, aku kan Sahabatmu, sudah seharusnya tau apa yang disuka sahabatnya” ketir hati ini saat aku menyebut kata sahabat.
“hehe, iya lah, yaudah hati-hati ya.”
“Emm iyaa”
Beberapa saat aku masih berdiri di sana, masih termangu, masih bersedih, dan masih bahagia, serta masih ada kata yang kuharapkan keluar dari mulutnya.
“Kok masih berdiri aja? Cepetan nanti keburu malem”
“Emm gak ada lagi yang mau di omongin gitu? Hehe”
“Apa lagi ofiiik?”
“Yaudah-yaudah, aku pamit ya Assalamu’alaikum”.
Ia menjawab salam lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
“Apa sahabat tak berhak dapat kalimat itu?” gumamku dalam hati
“nanti kalo udah sampe rumah kabarin aku ya” Aku hanya ingin kata ini Cin.
Mungkin saja bagi kalian ini tidak penting, namun tidak denganku, Sudah 4 tahun aku rindu ucapan manis darinya.
__ADS_1
Cindy salah akan dugaanya, katanya ia takut kalau aku tahu rumahnya, mungkin dia mengira, nantinya aku bisa sesuka hati kesana, namun pada kenyataanya tidak, aku masih sedikit segan untuk itu, aku menghargai dia, tak mau lah ada bisik-bisik tetangga yang bisa saja menyakiti perasaan nya. Semoga suatu saat itu berubah.