
Namun, bagai anak panah yang tepat menghujam sasaran, jawabannya lagi-lagi membuat aku terdiam.
“Maaf pik, aku gak bisa, aku mau fokus belajar disini, aku gak mau mikirin hal lain lain dulu, itu juga alasan kenapa aku putus sama pacarku yang di rumah, maaf juga aku gak ngasih tau kamu, kamu baik pik, aku juga sayang sama kamu, tapi untuk saat ini aku belum bisa, sekali lagi aku mau fokus dulu sama pelajaranku disini, maaf” Dengan lantang Andre membacakan balasan surat tadi, aku yang amat sangat kecewa tak sengaja merobek kertas itu, aku tak mengerti akan sikap nya tu, seperti ada satu hal yang masih mengganjal dihatinya, tapi aku yakin kalo dia juga menyayangiku, dan sekarang, setelah mendengar itu semua tak ada lagi alasan untukku bertahan disini, Keputusan ku sudah bulat, setelah semester satu ini beres aku akan pergi dari sini. Maksudku bukan karna Cindy saja alasan aku harus pergi, tapi aku juga jangan egois dengan tidaj menyikapi orang tuaku.
Hari itu pun tiba, hari dimana aku harus meninggalkan tempat ini, hari dimana aku memulai kesedihan yang tak pernah berujung, waktu itu aku sengaja tak memberi tahu yang lain, apalagi Cindy, rasanya aku tak akan kuat jika harus berpamitan padanya
aku hanya memberi tahu Aziz.
Sebelum jam pelajaran pertama dimulai, aku diam-diam masuk ke ruang guru dan mengatakan yang sejujurnya di depan kepala sekolah dan yang lain, mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.
“Maafin Bapak, bapak gak bisa bantu kamu, kamu hati-hati di sana, semakin baik kedepannya dan sukses terus ya nak” Kata nya sambil memeluk dan menangisi kepergianku.
Lalu aku berpamitan kepada semua yang ada diruangan saat itu dan segera pergi dari sana.
Namun saat motor Rio sahabatku yang menjemput hendak pergi, terdengar suara yang memanggilku dari belakang.
“Opiik tunggu,” Jerit Cindy yang sedang berlari bersama Rossy sahabatku.
Aku tak tahu kenapa dia bisa tahu dan mengejarku.
“Kamu mau kemana?, kamu benar bukan mau pergi dari sini? Kamu bener mau ninggalin aku pik,?” Tanya nya sambil berderai air mata,
aku sangat tak tega melihatnya seperti ini, aku lemah, tapi apa bisaku, sembari mengusap air mata itu aku mencoba menenangkannya
“Ia Cin, tapi aku cuman pergi dari sini kok, aku bakal sering kesini buat liat kamu,” jawabku menunjukan sebuah senyuman,
dia tak menjawab, malah tangisnya semakin menjadi, kami menjadi bahan tontonan kakak kelas yang saat itu baru hendak masuk sekolah.
“Ini aku ada kalung, kamu jaga ya, kenang kenangan dari aku” sembari membuka tangan kirinya yang sedari tadi ia pakai untuk menutup matanya yang sedang menangis,
“kalo kamu pergi aku sama siapa pik, siapa yang perhatian sama aku lagi, siapa yang jagain aku lagi, siapa yang kasih sweater kalo aku dingin, siapa lagi yang mau denger cerita aku kalo kamu gak ada” katanya dengan suara tersedu-sedu.
“Cin lihat aku, aku bukan pergi dari hidupmu, aku hanya pergi dari tempat ini saja, sekarang kalo kamu mau cerita, Rossy kan ada, iya kan ros” kataku sambil melihat ke arah Rossy
“Emhh iyah pik” jawab rossy sambil tertunduk
__ADS_1
“Kamu jaga diri baik-baik, aku pergi dulu ya, ros tolong jaga Cindy ya, Assalamu’alaikum”
Dengan berat hati aku meninggalkannya tanpa menoleh lagi, aku berharap dia disini bisa bahagia tanpaku.
“ Maafkan aku karna pernah begitu mencintai mu, dan maaf kan pula aku yang kini harus pergi meninggalkanmu, ini bukan inginku, andai saja kau tahu, jika nanti kau rindu, rindu saja padanya tak apa, di sini biarkan aku merindukanmu dengan air mata yang mengalir”
Sampai di rumah jujur saja aku terus memikirkan dia, namun aku juga harus berpikir agar ia disana bisa bahagia, aku tak boleh ego dengan hanya memikirkan perasaanku, aku pernah berpikir untuk membuat sandiwara agar dia kecewa kepada ku dan bisa secepatnya lupa semua tentangku, tugas merindukan biar aku saja yang jalani, sedangkan tugasnya hanya untuk berbahagia, tapi rencana itu sempat kutunda karna sebentar lagi dia ulang tahun, aku tak mau dia malah bersedih di hari ulang tahunnya itu.
“Jika kau terluka oleh kuku yang panjang, maka potong kukunya bukan jarinya, begitupun dalam sebuah hubungan, jika tersakiti dalam hubungan, maka potong ego nya agar kalian tetap akan saling memahami”
mungkin sekitar seminggu aku di rumah, aku kembali ke sekolah untuk menitipkan boneka sebagai kado dihari ulang tahunnya,
“Pik, gua kangen sama lu , gimana kabar lu di sana?” tanya Aziz sambil memberi pelukan sebagai seorang sahabat
“Sama Ziz, aku juga kangen sama lu, sama temen-temen semua” jawab ku
“Lu tau gak pik, semenjak lu pergi Cindy tuh murung terus, lu gak kasian sama dia pik, lu gak mau balik lagi kesini” sambung Aziz
“Justru sekarang gua kesini karna sayang sama dia, gua mau titip boneka” kata ku lagi sembari memberi boneka yang sedang ku pegang.
“Emhh gitu yah, yaudah gua kasih yah, gua masuk dulu, lain kali kalo mau kesini pas libur sekolah, jadi gua bisa ngobrol sama lu” jawab Aziz lagi.
Selepas itu aku kemudian pergi dari sana dan melanjutkan rutinitasku di rumah, selama di rumah aku ikut dengan Rio berjualan ikan, kami pergi dari tempat satu ke tempat yang lain, lumayan untuk membantu perekonomian keluarga di rumah, aku juga sempat membuat sebuah lagu yang ku beri judul sama dengan Novel ini, nanti di akhir akan aku nyanyikan,
Pagi itu di dalam kamar, aku kembali bisa tersenyum karna melihat satu titik pesan notifikasi Facebook dari seseorang yang tak aku kenal
“Assalamu’alaikum pik, ini aku Cindy makasih yah boneka nya aku suka, gimana kabar mu di sana, baik kan?” Sebuah pesan dari cindy yang membuat aku langsung terduduk saat membacanya waktu itu,
“Alhamdulillah kalo kamu suka Cin, maaf yah aku cuman bisa kasih itu,aku baik kok, kamu gimana di sana?” jawabku dengan senyum yang tak mungkin ia lihat saat itu,
“Gak papa pik, suka kok, yang paling penting Do’a nya aja yah” katanya lagi dengan cepat membalas percakapan Via ponsel, aku juga tak tahu dia sedang tersenyum atau tidak saat itu
“Oiya cin , kok kamu bisa pegang hp, kamu bawa hp yah di asrama” tanya ku lagi
“Engga pik, aku lagi pulang, ada acara di rumah” katanya
__ADS_1
Lalu kami pun berbicang sangat lama sekali, maklum saja kami sedang melepas kerinduan,rindu yang kadang menjelma menjadi sesuatu yang menakut kan,selama beberapa hari sebelum dia kembali ke asrama kami sangat sering bertukar pesan singkat, pagi,siang,dan malam sebelum ia tidur, dan selama itu dia tak pernah lupa dengan satu pesan yang dulu setiap hari ia beri padaku melalui kertas kecil yang berisi “You Are My greates Boy” pesan yang memang sangat ku rindukan semenjak aku jauh dari nya,walau aku sangat merindukan dan tak ingin di pisahkan lagi dengan nya, tapi keadaan saat itu tak bisa kami atur, dia juga harus kembali ke Asrama karna acara di rumah nya sudah selesai, sebelum aku hendak menyapanya melalui sebuah pesan, aku terlebih dulu mendapatkan itu, dia berpamitan dan harus kembali lagi,yasudah aku hanya bisa pasrah dengan itu, dan akhirnya kami pun kembali di pisah oleh jarak,oleh keadaan, hari-hari kembali terasa begitu sepi semenjak itu, aku yang sempat bisa bangkit kini harus kembali terjatuh di tempat yang sama,dan rindu yang dulu sempat pergi kini pulang kembali,
Kami kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, aku yang harus meringankan beban keluarga sebagai anak, dan dia yang harus kembali menempuh pendidikan untu masa depan nya kelak,
Namun terkadang jika aku rindu, aku akan pergi kesana hanya untuk melihat nya dari jauh, ini baru ku ceritakan sekarang, semua tak ada yang tahu, kecuali Aku,malaikat, dan Tuhan ku, oiya dan motor itu yang menjadi saksi tak berbicara, walau aku harus puas dengan melihat senyum itu dari jauh, tak apalah pikir ku,
Suatu hari aku berhasil menjual banyak ikan yang biasa ku jajakan,dan hasilnya cukup untuk ku sisihkan separuh, aku hendak memberi Ia Coklat dan bunga, aku ingin dia juga merasakan hasil keringat ku, sebagai latihan jika nanti kami bersama hehehe,,
Aku sangat antusias sekali hari itu, dengan bunga dan coklat di dalam tas selempang yang saat itu aku bawa, aku mulai memacu motor, tak sabar untuk memberikan inisemua padanya, tapi setelah disana aku terlambat, mereka sudah masuk kelas, jika aku menunggu sampai bel istirahat mungkin akan terlalu lama, untung saja saat aku hendak pergi aku bertemu dengan Widi, teman sekaligus kk kelas ku dulu, aku titipkan saja padanya
“Ehh Wid, lagi sibuk gak, lagi mau kemana?” sapa ku
“Ehh pik, kemana aja, gak ini mau ambil pensil aja di Asrama, kenapa?” jawabnya sembari menghampiri ku
“Engga wid aku cuman mau nitip ini, buat Cindy,kamu bisa kasih gak ke dia” Pintaku lagi
“Ouh gitu yaudah sini aku kasih nanti istirahat” jawabnya
Aku senang dengan jawaban itu, tapi saat aku hendak pergi, widi krmbali menyambung percakapan nya lagi,
“Tapi pik saran aku kamu mending berenti aja peduli sama dia,”
“Lah kok gitu sih, emang kenapa?” tanyaku heran dengan perkataan widi barusan,
“Soalnya Cindy lagi deket sama demeng,kk kelas kita” katanya lagi dengan nada pelan dan mengawasi keadaan sekitar,
“Emhh gitu yah, yaudah gpp wid tolong kasihin aja ya,makasih infonya” Kataku sambil tersenyum,
Aku begitu menghiraukan perkataanya, aku tak mendengar omongan orang lain tentang nya, karna aku yakin Cindy tak bisa dengan mudah di deketin hehe,
“Hehe iya pik santai aja, aku cuman mau ngasih tau kamu aja,” sambung nya lagi,
aku hanya mengangguk lalu memutar balik motorku dan memacu nya lebih cepat,
Sesampainya di rumah, aku mulai terpikir untuk mulai menjalankan sandiwara yang tadi di awal ku bilang, aku ingin dia bisa cepat melupakan aku dan memulai kembali lembaran kebahagiaan nya,
__ADS_1
sebelum tiga hari menuju bulan Ramadhan akhirnya aku mantap untuk memulai itu, pertama aku coba memposting Foto gadis yang sebenarnya tak ku kenal, aku minta maaf untuk itu, lalu ku bagikan di semua jejaring sosial yang ku tau,dan berharap Cindy akan melihat nya lalu kecewa dan marah padaku, semoga ini berhasil, ide gila memang tapi inilah aku, setelah itu aku hanya akan menunggu reaksinya saja, mungkin saja nanti akan ada pesan dari temannya yang tidak tinggal di Asrama, tapi kabar itu tak juga tiba,dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke asrama saja, sekalian ikut pengajian pasaran di sana, Bukan pasaran untuk mayit yah kawan, Pengajian pasaran itu, pengajian yang kalo di asramaku di buka setiap bulan Ramadhan, jadi semua yang datang dan ingin ikut mengaji di persilahkan dengan pintu terbuka,
aku pertama kali tiba di sana saat pengajian malam,karna pengajian ini di mulai dari pagi, siang sore dan malam, aku biasanya hanya mengikuti pengajian siang dan malam saja, karna kalo pagi aku harus kembali berjualan,dan aku juga tidak menginap disini, biasanya aku pulang jam satu malam, dan pergi jam satu siang.