RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 7


__ADS_3

Saat itu di kelas tengah ada kegiatan menata kelas dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia, Galih, ketua kelas kami meminta agar kita semua kompak dalam hal ini, masing-masing punya tugasnya sendiri, Kebetulan Cindy ditugaskan untuk membuat kaligrafi, tapi bukan dari bahasa Arab, melainkan dari Bahasa aksara Sunda. Dia bersama yang lain ikut antusias dengan tugas ini, ya karna memang menyenangkan, dia dibantu Hisma, Apiw, Qiran, Sulis dan yang lainnya, aku sengaja meminta agar aku yang memegang bangku Cindy yang saat itu sedang ia pijak, awalnya mereka menolak, Cindy juga tak mau dipegangi olehku, karna mereka tahu, aku orangnya jail, tapi dengan sedikit saja meyakinkan mereka, akhirnya aku diperbolehkan memegang bangku itu, ini sepele namun berkesan bagiku, dan cindy hanya bisa pasrah saat itu


“ Pegang yang bener ya, pik,” pintanya dengan wajah yang mulai memerah karna ketakutan.


“Ia sayang” Kataku menggoda. Mendengar lelucon itu, cindy dan temannya langsung bereaksi dengan celotehan,“ iihhh gilbang”, “amit-amit ihh” "meni geleh siah budak teh” aku hanya bisa tertawa mendengar mereka semua, tapi Cindy di atas hanya berkata "Opik-opik” dengan nada yang sangat lembut, disitu aku berinisiatif untuk sedikit menjailinya, aku tau jika ini bisa beresiko. jika dia tak suka dengan kejailanku ini, tapi memang ada yang suka di jahili? Tapi aku juga sedikit suka tantangan, aku mulai dengan melepas peganganku dikursinya , dan dia mulai menunjukan wajah lucunya itu, ya wajah yang sama saat pertama kali dia dimarahi oleh Pak Uti, aku sangat suka melihat wajah itu, lugu, tanpa dosa dan manis, semakin aku menjauhkan peganganku, semakin dia memperlihatkan wajah itu,


“ Pik, jangan dilepas ihh, nanti aku jatuh pik, please” pintanya lagi dengan nada yang mulai meninggi dan sesekali menjerit.


sebetulnya aku tak tega melihatnya seperti itu, namun aku juga suka dengan mimik mukanya itu,


Lalu di situasi ini tercetus lah sebuah ide menggelikan


“Iyah gak akan ku lepas, tapi ada satu syarat, hehe”


Bukannya tetawa dia malah terlihat seperti marah.


“ Apaansi pik gak lucu,”


“ syarat nya gampang kok cin, bener deh”


“ Apaan emang ihh, cepet ini pegang lagi Ya Allah,” Pintanya hampir menangis.


“ Kamu cukup bilang, Opik ganteng pegangin lagi yah, Gitu aja Cin tapi harus lembut banget ngomongnya, bisa, kan?”

__ADS_1


Aku tau perasaannya saat itu, antara mau dan tidak, kalo mau dia gengsi, tapi kalo tidak dia takut, jika situasinya sepeti ini aku yakin, malu tak akan menang dengan takut, kita lihat saja.


“Pik, jangan aneh-aneh deh, ini cepetan pegangin lagi, mana anak-anak pada di luar semua lagi,”


Memang saat itu dikelas hanya aku dan Cindy saja, yang lain tengah mengerjakan sisa tugas di luar yang belum selesai,


“ Yaudah aku pegangin, tapi bilang dulu” kataku yang terus saja memaksa.


Dengan muka yang semakin cemberut , dia berkata,


“ Ia ia aku bilang, tapi pegangin dulu ini please ihh,” pintanya lagi dengan posisi yang mulai terduduk di atas bangku yang begitu tinggi


“ bilang dulu lah cepet,” paksaku lagi, dan lagi


“ Kurang lembut, lebih lembut lagi doong”


Terus saja ku jahili dia, sampai benar benar puas karna melihat wajahnya yang semakin pucat.


“ Please pik, please,” permohonan cindy yang sekarang sudah benar benar mengiba, terjongkok sambil memegang ke tepi tembok.


“Iyah, iyah, aku pegangin ini, makannya cepet beresin, yang lain udah pada di luar kamu masih di sini teruus,” seruku dengan wajah menadah ke atas.


Dia malah kembali marah

__ADS_1


“Kamu tuh gimana sih, gimana aku bisa beres, orang dari tadi kamu jaihilin aku terus, mana susah lagi ini aksaranya, “


“ Oiya yah, lupa aku hehe,” kataku yang kembali mengejeknya


“ Yaudah sini bantuin, bisa gak,?” pintanya lagi


Aku hanya tersenyum mendengar permintaanya itu, karna aku nol besar kalo masalah ini


“Gak bisa aku cin kalo aksara sunda, hehe”


“ Udah mah hobinya jahilin orang, Mana gak bisa bantuin lagi,” balasnya kesal dengan wajah yang cemberut


“ Udah lah segitu dulu aja, kasihan kamu juga cape itu pasti bediri di situ terus, turun dulu” sambungku lagi


“ Emang gak papa, nanti di marahin lagi,” tanyanya kembali, mungkin Cindy ini orang nya disiplin dan tanggung jawab, jadi dia merasa tak enak jika tidak membereskannya hari itu juga.


“ Siapa yang marahin kamu? Gak papa kok, aku yang tanggung jawab” tegasku


“Yaudah deh, aku turun ya, pegel juga si di sini,”


Karna takut dia jatuh, aku menjulurkan tangan saat itu agar ada sesuatu yang bisa dia pegang


“Hati-hati, sini pegangan aja dari pada jatuh”

__ADS_1


Dia turun perlahan dengan tanganku yang menjadi penopang, Saat itu aku rela menjadi apapun yang kau mau Cin, Aku yakin itu.


__ADS_2