RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 15


__ADS_3

“Makasih ya sweaternya, nanti aku cuci dulu, bye” katanya mengakhiri obrolan kami sambil melambaikan tangan


“Ouh iyah gak papa, pake dulu aja, bye” kataku membalas.


Di asrama sudah ada Fiqron di dalam, dan aku menceritakan kejadian tadi padanya,


“andai aku sekelas sama si Meli, pasti cerita yang akan kubagikan akan jauh lebih indah dari ceritamu pik” katanya dengan pandangan kosong.


“Hehe, masa sih, yaudah aku tunggu lain kali ceritamu ya,” ujarku


“Gimana mau cerita, ketemu aja susah,” sambung nya.


Iya juga pikirku.


Karna tak tega dengannya yang sudah jauh-jauh datang, aku memberitahu dia bagaimana caraku berkomunikasi dengan Cindy, setelah mengerti dan memahami betul sekarang kulihat dia selalu ada setiap pagi di tempat yang sama denganku jika hendak mengirim surat, bahkan dia lebih sering di situ, hmm kisah asmara Fiqron dan Meli yah, gumamku geli di dalam hati, hehehe.


Semakin hari aku semakin dekat dengan Fiqron, bahkan Aziz sempat cemburu dengan kami hehehe, bohong teman, aku hanya bercanda, Fiqron sering banyak cerita perihall hubungannya dengan Meli, dan begitupun aku, kami jadi saling bertukar cerita dan berusaha mengerti dan paham akan permasalahan hubungan kami masing-masing, ternyata Meli hendak dijodohkan oleh Ayahnya, dan meurutku itu lebih sakit dari pada ceritaku, Fiqron benar, andai saja dia juga menuliskan kisahnya sepertiku sekarang, mungkin pembacanya akan lebih banyak dariku.


Oiya aku lupa, ada satu kejadian lucu di kelas saat itu, saat ujian lisan pelajaran komputer, disana ada Aku, Sulis, Cindy dan yang lain, bagaimana tak lucu saat guruku menanyakan bagaimana menyalakan komputer dengan baik, aku dengan lantang dan sangat percaya diri menjawab


“Pertama tekan power yang ada di CPU, lalu buka komputer, setalah nyala lebih baiknya refresh atau jalankan anti virus yang sudah terinstal di perangkat,” sebetulnya setelah aku menjawab itu tak ada yang sadar dimana letak kesalahanku, sebelum Cindy dan sulis tertawa kecil, lalu memanggilku

__ADS_1


“Pik, emang komputer harus di buka dulu ya?” tanya Cindy dengan tawa ejekannya.


Sontak saja karna belum tahu apa maksudnya, ku jawab dengan lebih lantang,


“Ya iyaalaah, gimana si, kalo gak dibuka gimana mau nyala,” jawabku


“Emhhh bukannya yang dibuka itu laptop ya, haha” katanya dengan tawa yang mulai lepas.


Semua mulai menertawakan aku yang begitu ceroboh dan so pintar tadi, pipiku berubah merah dan hanya bisa terdiam saat itu, aku yakin Sulis masih mengingat hal ini, dan Cindy? Ku harap dia disana juga masih mengingatnya


Suatu malam di Asrama ada satu perlombaan besar, aku lupa dalam rangka apa, tapi saat itu Aku, Fiqron, dan satu temanku lagi yang mewakili asrama di perlombaan ke dua, Lomba pengetahuan tentang kitab kuning kalo tak salah, Fiqron memang sangat pandai masalah ini, jadi ia di pasangkan denganku, si bodoh dan si pintar, mungkin akan jadi tandem yang baik bukan?


Kami sudah membagi tugas masing-masing, tiba saatnya kami naik ke atas pangung yang sudah disiapkan oleh panitia, sejenak kami mulai menenangkan diri dari ramainya orang yang menonton, sementara itu mataku dan Fiqron terus saja melirik mencari seseorang, kalian pasti sudah tau siapa yang kami cari, Fiqron tersenyum karna sudah melihat Meli di belakang kerumunan orang yang mendukungnya, sementara aku belum melihat Cindy, aku tak tahu dia ada atau tidak, tapi ternyata tanoa kusadari dia sudah ada paling depan, aku memang sempat tak melihatnya, karna saat itu aku hanya melihat ke arah paling belakang, aku tak pernah menyangka dia mendukungku sedekat ini.


Bak kuda yang sedang berada di pacuan, aku sangat bersemangat sekali saat itu, walau kadang sedikit merasa malu, kami berhasil menyelesaikan ini, dan alhasil kami juara di perlombaan, kami kembali ke asrama dengan membawa 3 piagam dan 3 piala, tidak sebagai juara umum memang, tapi bagiku hasil ini sudah kebih dari cukup mengingat pengalaman kami dalam bertanding tidak banyak, apalagi aku, tak ada seorang pun yang percaya aku bisa seperti itu, di asrama kami merayakannya dengan sedikit menggelar acara masak-masak, setelah selesai kami tertidur pulas bersama, ya bersama!


Hari dan tanggal berganti, bulan sudah mulai menua, dan sebentar lagi kami akan memasuki semester 2, mungkin tinggal beberapa minggu saja, Aku sempat kembali menyatakan perasaanku lagi, tapi kali ini aku tak berani mengungkapkannya langsung, aku kembali menuliskan satu surat untuk nya saat itu, tidak hanya salam tapi kali ini lengkap dengan semua rasa yang ada di hati ku, nekad memang, tapi inilah aku, aku merasa seperti ada sebuah tonjolan yang mengganggu dihati, ketika aku semakin dekat dengannya tapi aku sama sekali tidak berhasil memilikinya, seperti ada yang kurang saja, kalian tahu apa jawabannya saat itu? Katanya dia butuh waktu untuk memikirkan ini, Oke, aku mengerti, akan kutunggu, namun setelah beberapa hari jawaban itu namun tak kunjung tiba, dia malah seakan-akan melupakan hal ini, kali ini aku bisa belajar dari kesalahan pertamaku yang menjauh darinya dulu, aku tak mengulanginya lagi, dan hubungan persahabatan kami pun berjalan dengan semestinya, tapi bencana yang lain datang padaku, saat aku sudah merasa dekat dengan dia, aku sudah sangat yakin dia, aku hanya ingin tetap bersama dia, keluarga ku menelpon, dan katanya, aku harus pulang, berhenti sekolah, dan tak tinggal diasrama lagi, katanya ekonomi keluargaku sedang berada di pase yang sangat sulit, aku bisa menundanya sementara dengan sesekali memungut biji pala yang sering jatuh di kebun yang tak jauh dari asrama, setelah terkumpul aku membawanya lalu kujual ke salah satu pengepul, dan ini bisa menahan kepergianku untuk beberapa saat,


“Cin, aku gak bisa lama-lama lagi di sini” kataku pelan.


“maksudnya gimana pik, gak lama gimana?” jawab nya penasaran.

__ADS_1


“Aku harus berenti sebentar lagi, dan maaf aku gak bisa beri tahu alasannya sama kamu?” sambung ku dengan nada yang mulai mengeras


“Kenapa gak bisa pik,? Kita kan sahabat, kenapa kamu gak kasih tau aku?”


“bukan gitu Cin” Aziz yang mendengar pembicaraanku dengan Cindy pun menghampiri kami


“Lu mau berhenti dari sini pik, apa itu bener?, lu lagi becanda kan ?” Potong Aziz sembari duduk dibangku kosong sebelahku”


“Ia Ziz, itu bener,” jawabku


“Tapi kenapa pik, Lu cerita aja sama gua, apa masalahnya, barangkali gua atau temen-temen yang lain bisa bantu” tanya Aziz lagi sembari merangkul pundakku.


Sementara itu cindy beranjak pergi meninggalkan kami dengan menahan tangis dimatanya,


“Ngaak Ziz ini bukan urusan kalian kok, tapi mudah-mudahan aja gak jadi ya” jawabku lagi


“Ia bro gua do’a in mudah-mudahan lu gak jadi pindah dari sini, kalo lu pindah gua sama siapa bro?” pungkas Aziz lagi sembari memeluk ku”


“haha, lebay lu ah, udah ahh jijik gua di peluk cowok” sembari mengangkat kepala Aziz di bahuku.


Semenjak aku menceritakan itu kepada semua yang dekat dengan ku, mereka menjadi selalu bertanya perihal itu jika bertemu dengan ku, dan aku hanya berharap hal itu benar-benar tidak terjadi, hanya itu harapan ku, aku tidak malu jika harus mengatakan alasan sebenarnya, tidak sama sekali, saat itu aku hanya berfikir jika masalah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka termasuk Cindy, aku takut hal ini akan merepotkan, namun telfon dari rumah juga sering berbunyi di kantor, aku sangat bingung saat itu, sedangkan aku yang hanya mengandalkan biji pala pun tak bisa menjamin bisa terus-menerus mengumpulkan sebanyak pertama kali aku mencoba.

__ADS_1


Dan beberapa hari sebelum itu terjadi, aku kembali mengatakan perasaanku pada Cindy untuk yang ke tiga kalinya, dan mungkin yang terkahir kali, sebelum aku pergi dan jauh darinya, terpaksa aku mengatakan ini, aku tak mau menambah beban nantinya di rumah, kali ini aku kembali mengatakannya lewat surat, karna memang hari itu aku harus pulang terlebih dulu untuk membicarakan perihal kelanjutanku di sini nanti, aku menitipkan surat itu pada Aziz, dan aku harap di percobaanku yang ke tiga kalinya aku bisa mendapat jawaban yang memuaskan, Aamiin.


Keesokan harinya aku kembali ke asrama di antar sodaraku Andre, Aziz langsung menghampiri kami dan memberi balasan surat yang kemarin ku titip padanya, kami membacanya dengan seksama saat itu, karna aku yakin akan mendapatkan jawaban itu, mengapa? Karna saat itu tak ada alasan lagi yang menghalangiku, Cindy pernah bercerita kalo hubungan dengan pacarnya di kampung sudah selesai, makanya aku berani membuka dan membaca surat balasan ini di hadapan Andre,dan Aziz.


__ADS_2