
Semenjak hari itu, aku merasa tak ada lagi hal yang menarik di dunia kejam ini, aku kehilangan semuanya, rentetan cerita yang dulu kubangun hanya untuk bersamanya ikut sirna, kini aku hanya pernah lalu punah, sakit itu membekas dan sulit kuobati, kini aku sendirian memungut puing-puing tawanya, kadang aku tersenyum bila satu masa aku memejamkan mata dan ada dia disana, aku sempat merasa bahwa hidup tak adil bagiku, mengapa ketika aku merasa bernyawa, justru karna itulah aku kehilangan jiwa, kehilangan dia.
Mengapa Tuhan setega itu padaku, Ia menaruh beban yang sangat berat pada rapuhnya pundak ini.
Dan lagi, aku lebih percaya khayalan daripada kenyataan yang tak pernah aku impikan, dimana aku harus terbangun sendirian.
Aku paham, memang takan ada ingatan yang sempurna, namun mengingat semua tentangmu masih menjadi cinta paling nyata, walau hanya di ruang hampa.
Dan lantas setelah kau pergi, pada siapa sisa hatiku ini kuberi? Pada siapa aku harus tersenyum kembali? Lalu bagaimana jika aku merindukanmu? Mungkin sejenak dengan melihat bintang dan bulan jatuh aku bisa melupakanmu, lalu setelahnya aku akan kembali menangis.
Aku masih tak percaya, mengapa secepat ini hari jadi tak berwarna, mengapa secepat itu senja menjadi kelabu.
Lantas sampai kapan aku harus bermain dengan khayalan ini, kapan aku bisa kembali membuka hati, sebab perlu kau ketahui, nafasmu masih terasa hangat di pori-pori tubuhku.
Beberapa hari setelah kematian Cindy, mungkin hanya itu yang terus berkecamuk dalam pikiranku, sungguh sangat menyiksa, dan bisa dikatakan saat itu aku hampir gila jika tak ada Aziz yang terus merangkulku.
Hari pertama sejak itu seminggu aku datang kerumahnya, menghadiri acara dzikiran bersama Rizky kawanku, anehnya setiap aku datang disana, aku seperti selalu melihat dia disana, aku merasa ada hal lain yang ingin ia sampaikan.
"Kenapa si bengong terus" Kata Rizky membuyarkan lamunanku
__ADS_1
"Gua ngeliat Cindy"
"Apasih lu, aneh-aneh aja"
"Serius, gua gak bohong" Ucapku
"Gak mungkin fik, pacarlu udah tenang disana, lu harus bisa ikhlasin supaya dia juga seneng"
"Iya gua ikhlas, tapi gua gak bohong, gua tadi liat Cindy"
"Syuuut, udah ah gak enak kalo kedenger orang" Ucap Rizky mengakhiri pembicaraan.
"Lu liat dia dimana emang tadi?" Tanya Rizky dengan suara pelan.
Aku tidak menjawabnya, hanya menunjuk pojok rumah dimana aku melihat Cindy tadi,
"Mungkin itu emang jin atau bisa jadi juga dia, tapi qorinnya, dia mau ngasih tahu lu, supaya lu bisa bener-bener ikhlasin dia, dia disana sedih ngelihat lu terus kayak gini, lu tega bikin dia sedih? Katanya lu sayang, harusnya lu mikir juga, apa hal terbaik yang harus lu lakuin sekarang buat dia" Jelas Rizky panjang lebar.
Anehnya ucapan Rizky tadi sedikit membuat hatiku terbuka, aku merasa sangat-sangat terenyuh saat itu, Rizky memang ada benarnya, jika aku terus seperti ini, apa yang aku dan Cindy dapat? Sedangkan hidup terus berjalan
__ADS_1
"Lu pikirin lagi kalo lu sayang sama dia" Sambung Rizky
"Iya, gua paham, cuman mungkin saat ini gua mau nikmatin rasa perih ini dulu, gua mau kasih ruang buat luka punya tempatnya sendiri" Jawabku
"Iya gua ngerti, terus setelah itu apa?" Tanya Rizky
"Gua akan bawakan dia satu hari satu mawar, sampai gua juga mati"
"Nah kan, Cindy juga gak perlu itu disana, dia cuman pengen lu mulai hidup baru, dia cuman butuh lu do'ain".
Rizky sempat kembali ingin melanjutkan perkataannya, namun ia urungkan sebab melihat Ibu Cindy keluar dari rumah mendekati kami
"Opik nginep aja ya disini, temenin mamah"
"Iya mah, opik nginep"
"Kalo mau buat kopi kedalem aja ya, rumah ini sekarang jadi rumah opik juga" Katanya sembari mulai menangis
"iya mamah, udah jangan nangis, sekarang opik yang gantiin peran Cindy disini, jadi kalo mamah ada apa-apa, bilang aja ke opik ya"
__ADS_1